Advertorial

Memanfaatkan Teknologi Smart Farming Anti Gagal Panen bagi Petani

Kompas.com - 11/02/2020, 14:35 WIB

Pernahkah Anda menyadari bahwa negara kita memiliki banyak lahan pertanian? Meskipun lahan pertanian kini sudah mulai tergerus di kota besar, namun tak dapat dipungkiri bahwa Indonesia merupakan negara agraris.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2016 tercatat sekitar 38,29 juta orang bekerja di sektor pertanian. Artinya, sektor ini masih dijadikan peluang usaha bagi masyarakat banyak.

Meski merupakan negara agraris, tak jarang petani Indonesia mengalami gagal panenAkibatnya, banyak keluarga petani yang  merugi atau bahkan kehilangan sumber mata pencahariannya.

Berkaca dari permasalahan petani dan potensi gagal panen, MSMB Indonesia menciptakan teknologi RiTx Bertani App untuk membantu petani menentukan pengelolaan lahannya. Berbasis hardware dan software, MSMB bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) untuk mendorong smart farming di berbagai wilayah Indonesia. 

Hadirkan sensor dan aplikasi berteknologi tinggi

Sensor cuaca dan tanah merupakan hal yang masih asing di telinga petani. Banyak petani yang menebak-nebak kondisi cuaca di lingkungannya.

Permasalahan ini juga turut disampaikan oleh Asisten CEO Ari Aji Cahyono.Ari mengungkapkan bahwa teknologi pertanian harus mulai dijalankan. Dengan menggunakan RiTx bertani, petani dapat memaksimalkan potensi lahannya.

“Dengan RiTx Bertani apps, setelah sensor terpasang, petani jadi tahu bagaimana kondisi tanah dan cuaca di tempatnya,” ujar Ari saat ditemui tim Kompas pada acara kick off Identik Kominfo di Kuningan, Senin (10/02) lalu.

Menurut Ari, RiTx Bertani menyediakan sensor canggih berupa sensor tanah dan cuaca yang dapat mendeteksi suhu, kelembapan tanah, tingkat keasaman tanah (pH), hingga curah hujan. Sensor akan mengirimkan data terkini di lokasi pertanian melalui aplikasi RiTx bertani yang dapat diakses melalui smartphone.

Uniknya, RiTx Bertani juga mampu menganalisa kebiasaan petani dalam mengelola lahannya (Good Articulture Practice). Data pengelolaan ini dapat dibagikan untuk petani lainnya melalui forum yang tersedia dalam aplikasi. Tak hanya itu, RiTx menyediakan forum diskusi yang dimoderatori oleh ahlinya. Sehingga, petani dapat berkonsultasi mengenai efisiensi sistem bertani bersama para petani lainnya.

Diciptakan berdasarkan riset di Jepang

Aplikasi RiTx Bertani berawal dari riset yang dilakukan oleh co-founder sekaligus CEO MSMB Indonesia. Riset tersebut dilakukan di Jepang dan memberikan hasil positif bahwa teknologi dapat membantu permasalahan petani.

“Menggunakan platform riset, kami mengetahui bahwa soil dan weather sensor dapat memberikan rekomendasi bagi petani, dan cocok digunakan di Indonesia,” ujar Ari.

Petani juga memiliki kebiasaan menginvestasikan dana cukup besar untuk membeli pupuk. Karenanya, jika cuaca memburuk setelah pemupukan terjadi maka kerugian besar akan diterima petani.

“Petani akan mendapatkan notifikasi dari aplikasi RiTx jika esok hari cuaca akan hujan, jadi petani tidak perlu melakukan pemupukan,” lanjut Ari.

Selain informasi cuaca, RiTx akan memberikan info presisi tentang kebutuhan pemupukan tanaman.

RiTx Bertani memenangkan posisi pertama dalam Identik 2019

RiTx Bertani berhasil memenangkan medali utama di ajang Identik 2019 lalu. Berbekal informasi dari Kominfo dan mengikuti proses seleksi Identik, RiTx dipercaya mewakili Indonesia untuk bertanding di ajang ASEAN ICT Awards (AICTA).

Sebagai informasi, Identik merupakan program tahunan Kominfo untuk menggali potensi produk berbasis teknologi informasi karya anak bangsa. Ajang Identik sekaligus mendorong pertumbuhan pelaku industri lokal yang siap bersaing di kawasan ASEAN dan global.

Tak hanya itu, Kominfo akan memberi kesempatan pada startup lokal untuk mendapatkan fasilitas konsultasi bisnis, pendanaan dengan investor internasional, hingga pendampingan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) melalui Identik.

Ari sebagai perwakilan MSMB Indonesia, menceritakan bahwa pengalaman dan pendampingan dari juri mampu membuat startup lokal siap bersaing dengan kompetitor internasional. Mulai dari informasi produk hingga value yang dimiliki.

“Tantangan yang dihadapi (pada AICTA) harus melewati training yang diberikan Kominfo untuk tahu cara pitching dan hal teknis lainnya,” tutup Ari.

Saat ini, Kominfo telah membuka kembali pendaftaran untuk startup yang ingin mengembangkan sayap ke ranah internasional hingga 28 Mei 2020. Kunjungi halaman ini untuk info lebih lanjut mengenai pendaftaran dan kategori bisnis yang bisa diikuti dalam Identik 2020.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau