Advertorial

Kesigapan Tiongkok dalam Memerangi Pandemi Corona

Kompas.com - 11/03/2020, 14:27 WIB

Naiknya angka penderita dan korban virus corona (COVID-19) secara signifikan, membuat pemerintah Tiongkok memutuskan untuk mengisolasi kota Wuhan pada Kamis (23/1/2020).

Pemerintah Tiongkok menghimbau masyarakat di Provinsi Hubei untuk tidak keluar rumah, serta memperpanjang libur Imlek hingga pertengahan Februari.

Meski berdampak terhadap aktivitas ekonomi dan sosial 11 juta penduduk Wuhan, hal ini dilakukan untuk menekan tingkat penyebaran virus. Seperti diketahui, Wuhan adalah kota yang menjadi episentrum dari wabah virus corona.

Tiongkok pun dengan sigap membangun rumah sakit khusus penanganan virus corona hanya dalam waktu 10 hari saja. Rumah sakit tersebut mampu menampung sekitar seribu pasien.

Selain itu, rumah sakit tersebut memiliki fasilitas lengkap. Dukungan teknologi Big Data dan kecerdasan buatan (AI), membuat mereka dapat memperbarui data penderita corona secara real time.

Pemerintah kota telah memeriksa 10,59 juta orang, atau total 98,6 persen dari penduduk kota Wuhan hingga Minggu (9/2/2020). Data tersebut disampaikan oleh Sekretaris PCK Wuhan, Ma Guoqiang.

Tak hanya upaya pembangunan infrastruktur dan pemanfaatan teknologi, solidaritas masyarakat Tiongkok pun berperan besar dalam memerangi virus corona di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Selain ribuan tenaga medis sipil dan militer, banyak tenaga relawan yang datang dari berbagai provinsi lain untuk membantu Wuhan dan kota-kota lain di Provinsi Hubei. Hal ini didukung dengan kebijakan gotong royong “One Province One Cities”, dimana satu provinsi diluar Hubei membantu satu kota di Hubei.

Perusahaan negeri dan swasta pun berbondong-bondong memberikan bantuan. Perusahaan seperti Baidu, Tencent, Alibaba, hingga JD secara sukarela menyumbangkan pendanaan dan berbagai fasilitas teknologi untuk mengatasi virus corona.

Upaya kolektif untuk hadapi corona

Saat ini, World Health Organization (WHO) telah menetapkan virus korona sebagai pandemi global. Hal ini tentunya perlu menjadi perhatian masyarakat di seluruh dunia.

Dilansir dari Worldometers, hingga Senin (9/3/2020), telah ada 109.967 kasus dengan 104 negara yang terinfeksi. Dari angka tersebut, telah ada 62.240 pasien yang sembuh dan 3.827 yang meninggal.

Melihat tren penurunan penderita di Tiongkok, Kepala Misi Bersama WHO-China on COVID-19 Dr. Bruce Aylward berpendapat negara-negara lain perlu mencontoh kebijakan dan pemanfaatan yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok untuk memerangi virus corona.

Masyarakat global perlu aktif berkolaborasi, beradaptasi, dan berimprovisasi untuk melawan pandemi global ini.

Diperlukan upaya kolektif yang solid antar negara, organisasi, dan masyarakat global. Hal ini dikarenakan virus corona adalah musuh bersama yang tidak mengenal bangsa, agama, dan batas wilayah.

Artikel ini disunting dari naskah yang ditulis oleh Ahmad Syaifuddin Zuhri, Mahasiswa PhD Hubungan Internasional Central China Normal University (CCNU) Wuhan dan Wakil Rois Syuriyah PCINU Tiongkok.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau