Advertorial

Berjemur di Bawah Sinar Matahari Tangkal Corona, Benarkah?

Kompas.com - 08/04/2020, 19:46 WIB
Kala pandemi Covid-19, banyak orang beramai-ramai berjemur di bawah sinar matahari, efektifkah? Dok. ShutterstockKala pandemi Covid-19, banyak orang beramai-ramai berjemur di bawah sinar matahari, efektifkah?

Belakangan ini, berjemur di bawah sinar matahari menjadi salah satu tren di tengah pandemi virus corona penyebab Covid-19. Akan tetapi, apakah benar jika sinar matahari dapat membunuh virus corona? 

Dilansir Sonora.id (2/4/2020), dr. Santi dari Medical Center Kompas Gramedia menyampaikan bahwa berjemur di bawah sinar matahari tidak dapat membunuh virus corona. 

“Umumnya virus itu mati setelah terpapar panas 60-70 derajat selama kurang lebih 30 menit. Jadi jika berjemur saja tentu tidak membunuh virus,” ungkapnya. 

Meski demikian, berjemur di bawah sinar matahari tetap dianjurkan agar tubuh mendapat vitamin D. 

Paparan radiasi ultraviolet-B (UVB) dari sinar matahari akan membantu pembentukan vitamin D3 (kolekalsiferol) di kulit. Kulit mengandung pro-vitamin D3 yang akan diubah menjadi vitamin D3 dengan bantuan sinar ultraviolet B matahari. 

Vitamin D sendiri memiliki dua bentuk, vitamin D2 (ergokalsiferol) dan D3 (kolekalsiferol) yang memiliki sumber dan efektivitas yang berbeda. Berbagai studi menunjukkan vitamin D3 lebih efektif dalam meningkatkan kadar vitamin D atau 25(OH)D secara lebih efektif ketimbang vitamin D2. 

Studi juga menunjukkan bahwa kadar 25(OH)D yang cukup dapat membantu menurunkan risiko infeksi virus, termasuk virus influenza dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) seperti Covid-19 karena vitamin D juga berperan dalam sistem imunitas tubuh. 

Terlebih berdasarkan studi dari British Medical Journal (2017), konsumsi vitamin D akan meningkatkan proteksi hingga 70 persen bagi individu yang memiliki level vitamin D di bawah rata-rata (25 nmol/L). 

Beberapa individu yang termasuk dalam kategori tersebut biasanya adalah mereka yang banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan dan kerap menggunakan tabir surya. 

Akan tetapi, berjemur di bawah sinar matahari saja tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D. Terlebih, paparan sinar matahari yang berlebihan pun akan menimbulkan risiko munculnya keriput atau flek hitam pada kulit, hingga risiko kanker kulit. 

Kabar baiknya, Kalbe sebagai perusahaan yang peduli kesehatan masyarakat akan segera menghadirkan gerakan #sehatbareng. 

Gerakan tersebut akan menghadirkan cara mudah dan praktis untuk pemenuhan kebutuhan vitamin D3 bagi keluarga Indonesia, yaitu lewat produk suplemen. 

Oleh karena itu, Kalbe mengajak kita menjaga asupan vitamin D, terutama vitamin D3 agar daya tahan tubuh terjaga di tengah pandemi Covid-19 ini. 

Agar konsumsi vitamin D3 terjamin manfaat dan keamanannya, pastikan untuk melakukan pemeriksaan kadar D3 dan mengikuti dosis yang dianjurkan dokter.