Advertorial

DBD, Persoalan Kesehatan yang Juga Harus Diwaspadai Selain Covid-19

Kompas.com - 05/05/2020, 16:44 WIB

KOMPAS.com - Saat ini, penanganan wabah Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona begitu menyedot perhatian. Wabah ini menjadi pandemi, menyebar ke berbagai negara di dunia.

Benar, ada beberapa negara yang berhasil menurunkan jumlah penderitanya dengan efektif, tetapi banyak juga negara yang masih berjuang menanganinya. Termasuk Indonesia.

Data terakhir dari situs Gugus Tugas Percepatan penanganan Covid-19 mencatat, per Selasa (28/4/2020) jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 mencapai 9.511 orang. Jumlah pasien sembuh terus bertambah, tetapi pasien yang terkonfirmasi positif pun juga bertambah.

Situasi siaga Covid-19 membuat masyarakat teralih dari satu lagi persoalan kesehatan yang tengah terjadi, dan tak kalah penting untuk diwaspadai. Demam berdarah dengue (DBD) yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sejak 1 Januari hingga 27 April 2020 tercatat ada 49.563 kasus DBD. Tidak kalah besar dengan jumlah pasien positif Covid-19.

Jumlah terbanyak berada di Jawa Barat yaitu 6.337 kasus, Bali 6.050 kasus, Nusa Tenggara Timur 4.679 kasus, Lampung 4.115 kasus, dan Jawa Timur 3.715 kasus.

Jumlah ini dimungkinkan masih terus meningkat karena mengacu pada data per Jumat (24/4/2020), jumlah kasus DBD tercatat sebanyak 45.580 kasus dan per Selasa (27/4/2020) meningkat menjadi 49.563 kasus.

Artinya, dalam empat hari saja sudah ada penambahan sekitar 3.983 kasus atau hampir seribu kasus setiap hari. Menurut Kemenkes Republik Indonesia (Kemenkes RI) ada beberapa hal yang bisa dilakukan masyarakat untuk melakukan pencegahan penyakit DBD.

Salah satunya menjaga kebersihan lingkungan melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus. Berikut penjelasannya:

  1. Menguras

Membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain.

  1. Menutup

Menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti: drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya.

  1. Memanfaatkan kembali

Mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat berkembang biaknya nyamuk penular DBD.

Sedangkan yang dimaksud dengan Plus ialah segala bentuk pencegahan tambahan agar menghindarkan diri dari gigitan nyamuk salah satunya yakni dengan menggunakan lotion anti nyamuk seperti Soffel.

Gunakan Soffell sebelum tidur atau saat beraktivitas di rumah. Lotion dan spray anti nyamuk Soffell efektif melindungi tubuh selama delapan jam.

Soffell memberi perlindungan aktif lewat aromanya yang tidak disukai nyamuk dan melindungi tubuh dari gigitan nyamuk dengan rasa yang tidak disukai nyamuk.

Kini Soffel hadir dengan varian baru yaitu Soffel Alamia yang terbuat dari ekstrak daun Cymbopogon atau serai. Tanaman yang sejak dulu dikenal sebagai penolak gigitan nyamuk.

Soffell Alamia dibuat dari ekstrak serai alami sehingga nyaman, tidak menimbulkan panas di kulit, serta tidak membuat kulit kering atau iritasi.

Soffell Alamia terdiri dari dua Varian Soffell Mint Geranium Alamia dan Soffell Yuzu Alamia dalam kemasan botol spray 55 mililiter.

Untuk bisa mendapatkan varian terbaru dari Soffell Alamia caranya cukup mudah, kalian bisa membelinya secara daring di Tokopedia atau dengan klik disini.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau