Advertorial

Jaga Keberlangsungan Energi, Pertamina Pertahankan Produksi Hulu Migas

Kompas.com - 28/05/2020, 05:50 WIB
Meski di tengah situasi pandemi, Pertamina tetap menjaga produksi hulu migas demi keberlangsungan energi Dok. PertaminaMeski di tengah situasi pandemi, Pertamina tetap menjaga produksi hulu migas demi keberlangsungan energi

Harga minyak dunia tak kunjung stabil di tengah situasi pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Meski demikian, Pertamina tetap menjaga tingkat produksi untuk memenuhi target produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional dan keberlangsungan penyediaan energi.

Tercatat, pada triwulan I-2020 produksi hulu migas Pertamina mencapai angka 918,8 MBOEPD (ribu barel setara minyak bumi per hari).

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menyatakan, produksi migas pada triwulan I-2020 masih cukup stabil dan terjaga dengan baik.

“Rinciannya, produksi minyak bumi rata-rata sebesar 420,4 MBOPD (ribu barel per hari), sedangkan produksi gas bumi mencapai rata rata sebesar 2887,9 MMSCFD (juta standar kaki kubik per hari),” ungkapnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (27/5/2020).

Fajriyah menambahkan, pencapaian produksi migas Pertamina ditopang oleh kinerja positif berbagai anak perusahaan hulu Pertamina yang berhasil berproduksi sesuai target yang ditetapkan.

“Sejumlah sumur baru yang selesai dibor pada 2019 telah mulai berproduksi pada awal tahun ini. Lalu, upaya pemeliharaan sumur-sumur workover dan well services yang ada menjadikan produksi migas Pertamina relatif stabil,” imbuhnya.

Sejumlah anak perusahaan hulu Pertamina yang menyumbang produksi di atas target antara lain Pertamina EP (PEP) untuk produksi gas dan Pertamina Hulu Indonesia (PHI) untuk produksi minyak.

“Anak perusahaan hulu di luar negeri, yakni Pertamina International EP (PIEP) juga berhasil meningkatkan produksi gasnya, terutama di lapangan Aljazair,” imbuh Fajriyah.

Selanjutnya, anak perusahaan PHI, Pertamina Hulu Mahakam (PHM) yang mengelola Blok Mahakam pada triwulan I-2020 membukukan rata-rata produksi gas sebesar 659 MMSCFD (wellhead) atau di atas target teknis Work Program & Budget (WP&B) 2020 sebesar 608 MMSCFD.

Adapun produksi likuid (minyak dan kondensat) PHM mencapai 30,34 MBOPD, lebih tinggi daripada target teknis WP&B 2020 sebesar 30,12 MBOPD.

Produksi anak perusahaan PHI lainnya, Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) juga mencatatkan angka 11,95 MBOPD atau melonjak 138,5 persen dibanding target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) triwulan I-2020 yang dipatok pada 8,63 MBOPD.

Sementara itu, produksi minyak Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) yang juga merupakan anak perusahaan PHI, berhasil mencapai 11,26 MBOPD atau 109,6 persen di atas target RKAP triwulan 1-2020 sebesar 10,27 MBOPD.

Produksi di luar negeri yang dicatatkan PIEP juga telah berhasil memberikan kontribusi produksi migas sebesar 156 MBOEPD atau 103% dari target triwulan I-2020.

Prestasi PHM, PHKT, PHSS, dan PIEP dapat dicapai berkat upaya masing-masing anak perusahaan, yaitu dengan melakukan pekerjaan sumur pengembangan sesuai rencana, pekerjaan workover dan well services sesuai rencana, dan mempertahankan keandalan fasilitas produksi.

“Sepanjang 2019, Pertamina terus berupaya meningkatkan jumlah kegiatan pengeboran yang didukung investasi Pertamina di sektor hulu yang cukup signifikan,” ungkap Fajriyah.

Nilai investasi Pertamina di sektor hulu pada periode tersebut mencapai 2,45 miliar dollar AS atau sekitar 60 persen dari keseluruhan investasi Pertamina pada RKAP tahun 2019 yang mencapai 4,1 miliar dollar AS.

Pada tahun 2020 ini, Pertamina akan tetap berkomitmen untuk mempertahankan tingkat investasi hulu pada rentang yang sama dengan tahun 2019.

Meski berada dalam kondisi yang mengharuskan dilakukannya optimalisasi biaya dan efisiensi, Pertamina tetap menjadi pemimpin secara nasional dalam jumlah kegiatan pengeboran sepanjang triwulan 1-2020.

Hal tersebut terbukti dengan keberhasilan pengeboran eksploitasi sebanyak 78 sumur dan pekerjaan workover sebanyak 161 sumur.

Salah satu contohnya adalah Pertamina Hulu Energi Nunukan Company (PHENC) berhasil yang melakukan tajak dua sumur lepas pantai di Struktur Parang.

Pengeboran kedua sumur di Blok Nunukan tersebut diperkirakan memiliki potensi cadangan yang cukup besar dan menjadi semangat tersendiri di tengah pandemi.

Prestasi serupa juga dicatatkan PHM yang telah melakukan pengeboran 31 sumur tajak di South Peciko dan Tunu Deep East dan menargetkan untuk mengebor 117 sumur tajak dan 2 sumur eksplorasi.

Banyaknya jumlah sumur yang dibor itu merupakan upaya untuk memaksimalkan cadangan hidrokarbon yang tersedia karena cadangan dan produksi dari sumur-sumur yang ada sudah makin marjinal.

Selain itu, upaya pengeboran tersebut diharapkan dapat menekan laju penurunan produksi serendah mungkin, hingga di bawah 10 persen.

Menghadapi situasi pandemi COVID-19, ungkap Fajriyah, Pertamina melakukan berbagai penyesuaian, termasuk sistem kerja.

“Pertamina mengubah prosedur pergantian pekerja lapangan (crew change) yang sebelumnya tiap 12 hari menjadi 28 hari serta memastikan kondisi kesehatan pekerja seraya terus berupaya menjaga produksi migas sesuai target RKAP.

Fajriyah menambahkan, hingga saat ini Pertamina memutuskan tetap melakukan investasi di sektor hulu untuk menjaga produksi dan lifting migas nasional.

“Pertamina terus memantau perkembangan situasi global, terutama pandemi COVID-19, harga minyak mentah dunia, serta nilai tukar rupiah terhadap dolar,” tutupnya.