Advertorial

Meski Pandemi, Pertamina Tetap Lanjutkan Pembangunan Kilang

Kompas.com - 08/06/2020, 07:51 WIB
Kebanyakan kilang milik Pertamina masih menggunakan teknologi lama. DOK. Pertamina -Kebanyakan kilang milik Pertamina masih menggunakan teknologi lama.

KOMPAS.com – Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Ignatius Tallulembang mengatakan, upgrading kilang eksisting atau Refinery Development Master Plan (RDMP) serta pembangunan kilang baru atau Grass Root Refinery (GRR) Pertamina, merupakan proyek yang digagas sejak 2014.

Proyek tersebut dilatarbelakangi sejumlah persoalan energi yang dihadapi Indonesia, salah satunya pemenuhan optimum capacity kilang dari crude (minyak mentah) dalam dan luar negeri.

Untuk diketahui, saat ini sebagian besar crude impor merupakan sour crude dengan kandungan sulfur yang tinggi. Sedangkan kilang Pertamina dirancang untuk mengolah sweet crude yang memiliki kandungan sulfur lebih rendah.

“Karenanya, kilang kami memerlukan penyesuaian agar pengolahan crude lebih mudah dan efisien,” kata Ignatius, seperti dalam keterangan tertulisnya.

Mengingat hal tersebut, PT Pertamina (Persero) menyatakan, pihaknya akan terus melanjutkan pembangunan kilang, meski di tengah pandemi Covid-19.

Terlebih, sebagian besar kilang di Indonesia sudah tua dan masih menggunakan teknologi lama.

Lima kilang milik Pertamina memproduksi BBM sebanyak 680.000 barrel per hari.DOK.Pertamina - Lima kilang milik Pertamina memproduksi BBM sebanyak 680.000 barrel per hari.

Jumlah produksi BBM pun turut memengaruhi keputusan tersebut. Saat ini, Pertamina memiliki lima kilang yang berada di Balikpapan, Cilacap, Balongan, Dumai, Plaju, dan Sorong. Kelima kilang tersebut memproduksi BBM sebanyak 680.000 barrel per hari.

Padahal sejak tahun 2017, konsumsi BBM nasional mencapai 1,4 juta barel per hari.

“Artinya, ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM masih tinggi. Meski sejak kuartal pertama tahun 2019 Pertamina sudah berhasil tidak mengimpor solar dan avtur, namun impor produk lain masih diperlukan,” kata Ignatius.

Dengan meneruskan pembangunan kilang, Indonesia dapat memaksimalkan produksi BBM dengan spesifikasi yang lebih tinggi dan ramah lingkungan.

“Kami harus genjot produksi BBM dengan standar yang lebih tinggi yakni Euro 4 dan 5, sekaligus mendorong masyarakat menggunakan BBM yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan seperti Pertamax dan Pertamax Turbo,” kata Ignatius.

Ignatius menambahkan, membangun kilang merupakan keharusan dan keniscayaan bagi suatu negara.

“Bahkan negara yang tidak menghasilkan crude tetap memprioritaskan pembangunan kilang. Di negara maju, kebutuhan energi dalam negeri dipenuhi dari produsi kilang sendiri,” kata Ignatius.

Ignatius mencontohkan, kapasitas produksi kilang Singapura yang memiliki penduduk sebanyak 5 juta orang, mencapai 1,5 juta barel per hari.

Jumlah tersebut lebih besar dari kapasitas produksi kilang Indonesia yang saat ini berada pada angka 1 juta barel per hari.

“Kami juga telah melakukan kajian dan evaluasi. Hasilnya, membangun kilang akan memberi nilai tambah atau profitabilitas bagi perusahaan dan negara,” kata Ignatius.

Dengan alasan-alasan strategis tersebut, pengembangan dan pembangunan kilang Indonesia menjadi sebuah keharusan dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi.