Advertorial

Melirik Potensi Kerja di Bidang Ketenagalistrikan

Kompas.com - 10/06/2020, 20:58 WIB
Peserta webinar ?Live Webinar Potensi Lapangan Kerja di Bidang Ketenagalistrikan? yang diselenggarakan PPSDM KEBTKE melalui aplikasi Zoom, Rabu (10/06/2020) Dok. PPSDM KEBTKEPeserta webinar ?Live Webinar Potensi Lapangan Kerja di Bidang Ketenagalistrikan? yang diselenggarakan PPSDM KEBTKE melalui aplikasi Zoom, Rabu (10/06/2020)

Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) mengadakan webinar bertajuk “Live Webinar Potensi Lapangan Kerja di Bidang Ketenagalistrikan” melalui aplikasi Zoom, Rabu (10/06/2020).

Webinar tersebut diikuti oleh 868 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari aparatur sipil negara (ASN), badan usaha/industri, universitas, mahasiswa, hingga pelajar SMK. Selain itu masyarakat umum pun turut menyaksikannya secara live streaming di akun Youtube dan Facebook PPSDM KEBTKE.

Adapun narasumber yang mengisi webinar tersebut di antaranya adalah Direktur Human Capital dan Management PT PLN (Persero) Syofvi Felienty Roekman dan Kepala PPSDM KEBTKE Laode Sulaeman.

Pada paparan yang bertajuk “Kebutuhan SDM Sektor Ketenagalistrikan”, Syofvi menyampaikan bahwa PLN merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bertanggung jawab menyediakan listrik di seluruh Indonesia.

“Bisnis utama kami adalah pembangkitan, transmisi, dan distribusi listrik di Indonesia,” ungkapnya.

Syofvi menyampaikan, saat ini PLN memiliki kurang lebih 46.000 pegawai dengan sekitar 8.000-9.000 di antaranya bekerja di 10 anak perusahaan. Sumber daya manusia (SDM) PLN yang terbesar ada di sektor pembangkitan, transmisi, dan distribusi.

“Jumlahnya hampir 62 persen dari total SDM kami yang ada di bagian tersebut. Sektor bisnis dan komersial menempati urutan kedua dengan total 18,7 persen dari total SDM,” imbuhnya.

Menurut Syofvi, berkembangnya bagian bisnis komersial merefleksikan organisasi PLN yang baru. PLN mengubah pendekatan bisnis dari sebelumnya yang supply-driven menjadi demand-driven.

“Karena suplainya sudah berlebih dan permintaannya turun, terlebih saat ini kita sedang dihantam Covid-19. Oleh karena itu, kami akan terus memperbesar tim untuk bisnis dan komersial sebagai bagian dari strategi ke depan,” jelasnya.

Paparan materi Direktur Human Capital dan Management PT PLN (Persero) Syofvi Felienty RoekmanDok. PPSDM KEBTKE Paparan materi Direktur Human Capital dan Management PT PLN (Persero) Syofvi Felienty Roekman

Sementara itu, PLN memiliki 67 kepakaran yang terbagi dalam tujuh kategori. Kategori tersebut di antaranya adalah pembangkitan, penyaluran, operasi sistem, distribusi, penunjang, niaga, dan konstruksi.

“Salah satu kepakaran yang penting di PLN saat ini adalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan lingkungan. Keselamatan kerja menjadi penting di PLN untuk mewujudkan zero accident,” ujar Syofvi.

Terkait usia pegawai, ungkap Syofvi, saat ini hampir 25 persen berada di atas 45 tahun yang menjadi tantangan tersendiri bagi PLN. Hal tersebut dikarenakan dalam dua atau tiga tahun ke depan, pegawai berusia 46-51 tahun yang berjumlah sekitar 10.000 orang akan pensiun.

“Salah satu faktor penyebabnya adalah penutupan rekrutmen pada 1996-2000 silam. Oleh karena itu, kami sedang menyiapkan program akselerasi untuk mengatasi hal tersebut,” ungkapnya.

Demi meningkatkan kualitas SDM, PLN pun menyediakan pelatihan dan pendidikan formal untuk para pegawainya. Saat ini, terdapat 37 pegawai magang, 369 pegawai yang menempuh pendidikan di universitas negeri, dan 70 pegawai yang menempuh pendidikan di universitas luar negeri.

“Salah satu daya tarik bekerja di PLN adalah kesempatan untuk mengambil program S2 dan dibiayai perusahaan,” terang Syofvi.

Syofvi menambahkan, PLN menargetkan dalam 15-20 tahun ke depan para pegawai baru dapat menduduki manajer atas di provinsi atau daerah masing-masing. Lebih jauh lagi, PLN mempersiapkan mereka untuk dapat menduduki posisi direksi dalam 20-25 tahun ke depan.

“Tidak ada lagi istilah urut kacang atau senioritas, kami buka kesempatan sebesar-besarnya untuk orang yang memiliki kompetensi,” tutupnya.

Sementara itu, Laode dalam paparannya yang bertajuk “Peningkatan Kapasitas SDM Bidang Ketenagalistrikan dan EBTKE” menyampaikan, daya saing tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara ASEAN, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura.

“Sejumlah persoalan masih dihadapi Indonesia seperti rendahnya pendidikan pekerja serta ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan,” ungkapnya.

Laode menambahkan, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2019, pendidikan pekerja Indonesia didominasi oleh lulusan SD ke bawah sebanyak 52,4 juta pekerja.

Menurut Laode, potensi lapangan kerja di bidang ketenagalistrikan masih terbuka luas, tidak terbatas di sektor utama, seperti pembangkitan, transmisi, dan distribusi.

“Sektor pendukung seperti industri kabel, industri trafo, dan lain sebagainya pun masih terbuka. Hal ini akan terus berkembang dengan tumbuh pemanfaatan kendaraan listrik, rooftop PV, dan penyimpanan energi,” jelasnya.

Sebagai solusi persoalan ketenagalistrikan, PPSDM meningkatkan kapasitas SDM Ketenagalistrikan EBTKE dengan melakukan pelatihan vokasi, melakukan pemagangan berbasis kompetensi di perusahaan, dan melakukan sertifikasi kompetensi.

Adapun kegiatan sertifikasi yang dilaksanakan di PPSDM KEBTKE telah mengakomodasi disiplin kompetensi yang dapat diisi oleh TKA (Permenaker 228/2019).

Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, Sertifikasi Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan, setiap usaha ketenagalistrikan wajib  memenuhi ketentuan keselamatan ketenagalistrikan.

“Saat ini telah ada 36 tempat uji kompetensi (TUK) di industri dan perguruan tinggi seluruh wilayah Indonesia,” jelas Laode.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia ESDM IGN Wiratmadja menyampaikan apresiasinya kepada para pemateri dan peserta yang mengikuti webinar tersebut.

“Presentasinya menunjukkan bagaimana kompleksnya pengembangan dan pengelolaan sistem ketenagalistrikan nasional. Selain itu, mereka yang masih kuliah atau yang baru lulus pun berkesempatan untuk bersaing di sektor ketenagalistrikan,” imbuhnya.

Selain pemaparan materi, webinar tersebut pun menghadirkan sesi diskusi dan tanya jawab untuk para peserta. Sebanyak tiga penanya terbaik mendapatkan voucher pelatihan dari PPSDM KEBTKE serta lima penanya mendapatkan buku dari PLN.

PPSDM KEBTKE akan kembali menghadirkan webinar bertajuk “Mobil Listrik: Harapan atau Ilusi?” pada Rabu (17/06/2020) mendatang. PPSDM KEBTKE siap melayani kebutuhan pengembangan sumber daya manusia bidang ketenagalistrikan, energi baru, terbarukan dan konservasi energi.