Advertorial

Wamen LHK Dorong Paludikultur di Tengah Pandemi Covid-19 dan Ancaman Karhutla

Kompas.com - 26/06/2020, 11:54 WIB

Peran strategis paludikultur di lahan gambut disebut menjadi sebuah pilihan menjanjikan untuk perbaikan dan restorasi gambut. Paludikultur merupakan konsep budidaya tanaman di lahan gambut tergenang.

Di samping itu, paludikultur pun berkorelasi positif pada reduksi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menguatkan ketahanan pangan nasional, mitigasi iklim, dan menumbuhkan perekonomian masyarakat sekitar.

Hal tersebut terungkap pada Webinar Paludikultur di Tengah Pandemi Covid-19 dan Menjelang Musim Kemarau 2020 yang menghadirkan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong sebagai pembicara kunci, Kamis (25/6/2020).

Paludikultur memiliki implikasi positif pada keberlanjutan lahan gambut. Salah satunya adalah pengendalian karhutla. Sebab, syarat utama mengurangi potensi karhutla di areal gambut adalah dengan rewetting (membasahi lahan gambut).

Gambut yang tidak terbakar juga akan mengurangi pelepasan gas rumah kaca, sehingga menjadi salah satu pendorong upaya mitigasi perubahan iklim.

Alue menyampaikan, paludikultur dapat mereduksi karhutla karena mensyaratkan kondisi lahan yang tetap basah dan lembab.

“Lahan gambut yang basah ini akan mencegah gambut mudah terbakar akibat kekeringan pada musim kemarau,” ungkap Alue dalam paparan kuncinya.

Namun demikian, Alue menekankan keutamaan paludikultur adalah untuk menyelamatkan ekosistem gambut. Hal itu dapat dilakukan dengan mendorong penanaman tanaman endemik kawasan gambut. Baik tanaman keras (pepohonan), maupun tanaman budidaya.

Alue menambahkan, tanaman yang dibudidayakan dalam konsep paludikultur harus mampu mendorong terbentuknya gambut baru.

Adapun gambut baru dapat terbentuk melalui akumulasi sisa biomassa dari budidaya dengan konsep paludikultur, yang akhirnya akan memperbaiki ekosistem gambut terdegradasi.

“Yang paling penting itu harus berkontribusi pada pembentukan gambut, kalau tidak kita belum bisa sebut sebagai paludikultur,” imbuh Alue.

Alue menjelaskan, saat ini telah tercatat sekitar 534 jenis spesies tanaman endemik lahan gambut seperti sagu, ramin, jelutung, belangiran, gelam, dan lain sebagainya. Dari seluruh jenis tersebut, hanya 81 jenis yang dapat dikembangkan dalam paludikultur.

“Miskonsepsi tentang paludikultur kerap terjadi, yaitu mengartikan semua tanaman yang bisa hidup dan bertahan tumbuh di gambut dianggap paludikultur, seperti tanaman kopi arabika, nanas, karet dan kakao,” jelasnya.

Miskonsepsi itu, ungkap Alue, malah akan mengancam keberlanjutan ekosistem gambut ke depan. Sebab, budidaya tanaman tersebut membutuhkan kondisi lahan gambut yang harus dikeringkan agar bisa tumbuh.

Selain itu, di tengah tengah pandemi Covid-19 ini paludikultur menjadi sebuah peluang untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Banyak jenis-jenis tanaman paludikultur yang bisa jadi sumber pangan masyarakat.

Menurut Alue, di masa pandemi ini banyak negara melakukan kebijakan pemenuhan kebutuhan pangan domestiknya ketimbang ekspor ke luar negaranya.

“Sehingga Indonesia harus melakukan hal yang sama terkait ketahanan pangan kita. Paludikultur ini bisa menjadi bagian dari kebijakan tersebut,” imbuhnya.

Saat ini, pemerintah juga sedang menggodok kebijakan pengembangan food estate di lahan eks pengembangan lahan gambut (PLG) seluas 1 juta hektar di Kalimantan Tengah.

Melalui food estate tersebut, pemerintah akan melakukan pengembangan pangan yang dilakukan secara terintegrasi. Adapun pengembangan itu mencakup pertanian, perkebunan, perikanan bahkan peternakan di suatu kawasan.

“Jadi tidak benar jika ada anggapan bahwa seluruh kawasan eks PLG akan dibuka kembali seluruhnya lahan sawah. Pemerintah sangat paham dan mengerti bahwa gambut-gambut dalam tidak akan cocok untuk tanam padi, melainkan akan dipulihkan dan dikonservasi,” ungkap Alue.

Pada akhir sesi Webinar, Alue mengajak semua pihak bersinergi dan melakukan kajian-kajian untuk menentukan jenis-jenis tanaman paludikultur yang mampu mendukung ketahanan pangan nasional.

Hal tersebut menjadi jembatan untuk menjaga kelestarian ekosistem gambut yang akan berkontribusi banyak pada penurunan karhutla, meningkatkan perekonomian dan kesehatan masyarakat, serta berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau