Advertorial

Kabar Gembira, Ada 4 Bayi Orangutan Lahir di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

Kompas.com - 27/06/2020, 19:37 WIB
Bayi Dara dan induk Desi. (DOK.KLHK) Bayi Dara dan induk Desi.

Ada sebuah kabar gembira datang dari Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), yang berlokasi di jantung Pulau Kalimantan. Hingga bulan ini, sebanyak empat anak orangutan lahir di Taman nasional yang menjadi lokasi lepas liar orangutan dari program rehabilitasi tersebut.

Pada Jumat, (10/6/2020), induk orangutan bernama Desi yang berusia 12 tahun terpantau memiliki bayi orangutan. Desi adalah salah satu orangutan rehabilitan yang dilepasFpelepasliarkan pada November 2016.

Bayi orangutan Desi yang baru berumur tiga hari tersebut kemudian diberi nama Dara oleh Menteri Linkungan Hidup Siti Nurbaya. Dara menjadi bayi orangutan keempat yang lahir dari program pelepasliaran di kawasan TNBBBR.

Sebelumnya ada tiga kelahiran yang berhasil termonitor oleh Balai TNBBBR bersama mitra. Tiga bayi orangutan tersebut lahir dari induk Shila, Ijum, dan Aulin.

Desi dan Shila dilepasliarkan oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Sementara dua induk lainnya, Ijum dan Aulin, merupakan orangutan rehabilitan dari program pelepasliaran yang digawangi oleh Balai TNBBBR dan Yayasan Borneo Orangutan Survival (Yayasan BOS).

Bayi dari Shila yang berkelamin jantan diberi nama Surya, bayi dari Ijum diberi nama Indra, dan bayi dari Aulin yang belum diketahui jenis kelaminnya diberi nama Aditya.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno menyatakan kelahiran bayi orangutan dari induk hasil pelepasliaran di alam merupakan bukti keberhasilan program rehabilitasi dan pelepasliaran. Selain itu, juga menjadi indikator terjaganya habitat mereka di kawasanTNBBBR.

“Hal ini juga menunjukkan adanya kerjasama yang sinergis dengan mitra-mitra terkait dalam konservasi orangutan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah”, sebut Wiratno dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (27/6/2020).

Selain itu, lanjut Wiratno, kesadaran untuk melestarikan orangutan dan keterlibatan masyarakat di sekitar lokasi pelepasliaran sangat penting. Diharapkan masyarakat sekitar juga ikut berpartisipasi mulai dari proses lepas liar hingga pemantauan satwa.

Bayi Surya dan induk Shila. (DOK.KLHK) Bayi Surya dan induk Shila.

“Kita menyadari bahwa upaya konservasi tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, kita perlu bergandengan dengan pemerintah daerah, kementerian dan lembaga lain, masyarakat setempat, pelaku bisnis dan lembaga-lembaga masyarakat”, tambahnya.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Indra Eksploitasia pada kesempatan berbeda mengatakan sebagai salah satu spesies kunci, keberadaan orangutan sangat penting untuk turut menjaga keseimbangan dan kesehatan ekosistem.

Orangutan berperan sebagai penyebar biji buah yang penting dalam proses regenerasi pohon di hutan. Keberhasilan perkembangbiakan orangutan di kawasan TNBBBR juga menjadi indikator kondisi hutan yang masih baik bagi satwa.

“Kami semua menantikan kelahiran-kelahiran alami berikutnya dari orangutan rehabilitan yang dilepasliarkan di kawasan ini. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya pelepasliaran orangutan di TNBBBR”, kata Indra.

Hutan kawasan TNBBBR sebagai area pelepasliaran orangutan terbukti menjadi habitat yang ideal bagi orangutan rehabilitan untuk beregenerasi dan menciptakan populasi baru.

Kepala Balai TNBBBR Agung Nugroho mengatakan bahwa melalui survei dan kajian mereka menemukan hutan di wilayah ini memenuhi persyaratan sebagai rumah baru bagi orangutan rehabilitan.

Kawasan TNBBBR memiliki beragam jenis tumbuhan pakan, ketinggian dari permukaan laut yang ideal, daya tampung areal yang besar, serta jauh dari akses aktivitas manusia.

Bayi Aditya dan induk Aulia. (DOK.KLHK) Bayi Aditya dan induk Aulia.

“Program pelepasliaran dan pemantauan orangutan yang dilakukan oleh Balai TNBBBR bekerjasama dengan mitra YIARI maupun Yayasan BOS ini berhasil membuat Desi, Shila, Ijum, dan Aulin tidak hanya pulih kembali menjadi orangutan sejati dan kembali hidup bebas di habitat aslinya. Program ini sukses mencetak satu generasi baru orangutan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya,” ungkap Agung.

Kelahiran bayi orangutan ini bukan merupakan akhir dari program reintroduksi. Justru, kelahiran alami bayi orangutan ini adalah awal dari terbentuknya generasi baru orangutan liar di dalam kawasan TNBBBR.

“Kami sangat gembira karena pada akhirnya tidak hanya berhasil memberi kesempatan hidup kedua setelah sebelumnya orangutan-orangutan tersebut dipelihara manusia, tetapi juga memberikannya kesempatan menjadi ibu,” ujar Agung.

Ibu dari bayi orangutan liar yang bisa hidup bebas di habitat alaminya, menurut Agung, akan mendukung kehidupannya dari sisi ekologi dan perlindungan kawasannya.

Hingga saat ini sudah ada 171 individu orangutan dilepasliarkan di TNBBBR, terutama di wilayah TNBBBR Kalimantan Tengah.

Dengan kondisi hutan yang sangat ideal sebagai lokasi pelepasliaran dengan luas yang besar, KLHK optimis kelahiran-kelahiran alami berikutnya akan segera menyusul.

Bahkan diperkirakan ada sejumlah kelahiran yang belum teramati di luar yang saat ini telah tercatat, mengingat luasnya hutan TNBBBR.

”Kita semua para pelaku dan pendukung upaya pelestarian orangutan berharap agar generasi baru orangutan liar segera terbentuk dan pada akhirnya membantu kita menjaga kualitas hutan demi kebaikan kita bersama”, pungkas Agung.