Advertorial

Skenario New Normal dalam Perspektif Sosial Budaya

Kompas.com - 30/06/2020, 14:00 WIB
Karyawan perusahaan menggunakan masker selama bekerja di era kenormalan baru. (Dok. Askrindo) Karyawan perusahaan menggunakan masker selama bekerja di era kenormalan baru. (Dok. Askrindo)

Pandemi Covid-19 yang tengah dihadapi oleh masyarakat dunia, memaksa manusia melakukan perubahan sosial untuk bisa berdamai dengan virus yang berbahaya ini. 

Perubahan sosial yang dimaksud adalah kebiasaan masyarakat yang kini selalu mengenakan masker saat berpergian, rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak sosial. Perubahan sosial ini belakangan disebut dengan perilaku new normal atau kenormalan baru. 

Pada dasarnya, perubahan sosial merupakan respons dari masyarakat baik disadari maupun tidak, sebagai upaya menyesuaikan diri (adaptasi) dengan kondisi yang terjadi disekelilingnya. 

Seperti yang dikemukakan Antropolog J.P Gillin dan J.L Gillin, mereka berpendapat bahwa perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi sebagai suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima karena adanya perubahan kondisi geografi, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi, maupun adanya difusi atau penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. 

Perubahan menuju perilaku new normal pun tidak mudah diterapkan. Di beberapa kelompok masyarakat, tidak jarang ditemukan pelanggaran terhadap  protokol kesehatan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari baik disadari atau tidak. 

Oleh sebab itu, salah satu strategi efektif yang dilakukan agar perubahan tersebut terinternalisasi dengan cepat di setiap individu masyarakat adalah dengan mekanisme revolusi. 

The Leader

Untuk mewujudkan terjadinya perubahan perilaku new normal yang berlangsung dengan cepat (revolusi), secara sosiologis dibutuhkan peran pemimpin yang memiliki power and influence terhadap anggota masyarakatnya. Pemimpin tersebut bisa merupakan tokoh formal maupun informal. 

Sejalan dengan hal tersebut, Marmawi Rais mengatakan bahwa proses internalisasi lazim lebih cepat terwujud melalui keterlibatan peran-peran model (role-models). 

Individu mendapatkan seseorang yang dapat dihormati dan dijadikan panutan, sehingga dia dapat menerima serangkaian norma yang ditampilkan melalui keteladanan. Proses ini lazim dinamai sebagai identifikasi (identification), baik dalam psikologi maupun sosiologi. 

Sikap dan perilaku ini terwujud melalui pembelajaran  atau asimiliasi  yang  subsadar  (subconscious) dan nir-sadar (unconscious). 

Seperti studi kasus yang dilakukan di PT Asuransi Kredit Indonesia atau Askrindo yang merupakan anggota Holding BUMN Perasuransian dan Penjaminan. 

Dalam menerapkan perubahan new normal, perusahaan menetapkan pemimpin-pemimpin di setiap unit kerja menjadi Covid Ranger. Tugas dari Covid Ranger adalah menegakkan peraturan protokol kesehatan yang berlaku dan memberikan contoh atau teladan terus menerus kepada para pegawai di unit kerjanya. 

Sadar bahwa peran tokoh formal tidak dapat langsung diterima oleh pegawai karena memiliki gap secara struktur sosial di perusahaan, Askrindo juga merangkul tokoh-tokoh informal di kalangan pegawai. 

Tokoh informal tersebut juga memiliki pengaruh cukup besar terhadap pegawai lainnya dari tiap group yang ada, seperti Serikat Pekerja Karyawan Askrindo (SPKA), pengurus pengajian Askrindo, maupun para millennials. 

Mereka diharapkan dapat turur mengajak rekan-rekannya dan meyakinkan bahwa perubahan yang sedang diterapkan memang harus dilakukan untuk kebaikan bersama. 

Sanksi dan kontrol sosial

Ketika perubahan tersebut telah diterima dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat, guna memastikan nilai dan norma tersebut ditaati oleh setiap anggota masyarakat maka perlu adanya mekanisme pengendalian sosial. 

Peter L Berger, seorang sosiolog mendefinisikan bahwa pengendalian sosial sebagai berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang membangkang. Selain itu, bentuk pengendalian sosial dapat berupa sanksi dan kontrol sosial. 

Pengendalian berupa sanksi sosial terlihat melalui olokan, ejakan, sindirian atau bahkan pengucilan terhadap anggota masyarakat yang melanggar. 

Masker jadi benda penting dalam era kenormalan baru. (Dok. Askrindo) Masker jadi benda penting dalam era kenormalan baru. (Dok. Askrindo)

Seperti yang dilakukan oleh pegawai Askrindo terhadap pegawai lain ketika berbicara dengan jarak yang cukup dekat. Pegawai tersebut langsung mengambil jarak yang lebih jauh dengan lawan bicara sebagai sebuah bentuk sindiran yang halus. 

Contoh lainnya, ketika pegawai yang baru datang ke kantor, tetapi tidak mengenakan masker, maka muncul ejekan “bawa virus” (membawa virus) sehingga pegawai yang diejek tersebut segera mengenakan masker. 

Berbeda dengan sanksi sosial, pengendalian berupa kontrol sosial lebih eksplisit dan tegas. Seperti mengingatkan, teguran, bahkan sampai menjatuhkan hukuman. 

Kontrol sosial ini biasanya dilakukan oleh anggota masyarakat yang memiliki kekuasaan dan pengaruh atas anggota masyarakat lain. Hal ini dilakukan oleh Covid Ranger Askrindo dengan menegur dan mengingatkan setiap pegawai yang melanggar protokol kesehatan di unit kerjanya. 

Pendekatan sosial budaya cenderung efektif

Melalui pendekatan yang mempertimbangan kondisi sosial dan budaya yang unik di tiap kelompok masyarakat, perubahan akan dapat diterima dan lebih cepat terjadi. 

Hal ini terkait dengan bagaimana mengubah cara berpikir tiap individu dengan memasukkan pengetahuan (knowing) dan keterampilan melakukan (doing) ke dalam pribadi seseorang (Tafsir, 2010). 

Askrindo berupaya mengubah cara berpikir tiap pegawainya dan mewujudkan terjadinya perubahan di dalam perusahaan melalui interaksi sosial yang efektif. 

Tidak hanya membuat peraturan terkait kenormalan baru atau menempelkan poster protokol kesehatan, keberadaan Covid Ranger dan merangkul tokoh informal perusahaan yang dijadikan contoh atau teladan justru lebih efektif menggiring pegawai kepada perubahan perilaku new normal.