Advertorial

Pertamina Siap Produksi Diesel Ramah Lingkungan D-100 dari Minyak Kelapa Sawit

Kompas.com - 15/07/2020, 21:54 WIB

KOMPAS.com – PT Pertamina (Persero) berhasil melakukan uji coba pengolahan Refined, Bleached, and Deodorized Palm Oil (RBDPO) dengan kadar 100 persen menjadi bahan bakar ramah lingkungan.

Sepanjang periode uji coba pada  2-9 Juli 2020 tersebut Pertamina berhasil memproduksi green diesel (D-100) dengan volume 1.000 barrel per hari.

Percobaan pengolahan RBDPO  yang dilakukan  di kilang Dumai tersebut merupakan yang ketiga kalinya. Sebelumnya Pertamina sempat melakukan uji coba mengolah RBDPO secara bertahap, dimulai dari kadar 7,5 persen dan 12,5 persen.

Apresiasi pemerintah atas keberhasilan ini disampaikan kepada Pertamina melalui Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yang melakukan kunjungan ke Unit DHDT Refinery Unit (RU) II Dumai, Rabu (15/7/2020).

Agus Gumiwang  menyampaikan bahwa upaya Pertamina untuk mengolah RBDPO ini sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo untuk mengawal implementasi program Bahan Bakar Nabati (BBN).

Program ini dibuat dalam rangka mengoptimalkan sumber daya alam yang berlimpah di Indonesia, khususnya kelapa sawit untuk menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Selain itu, upaya ini juga dinilai  akan meningkatkan kesejahteraan para petani sawit.

“Saya mengucapkan selamat kepada rekan-rekan di Pertamina di Kilang Dumai yang telah membuktikan bahwa kita mampu. Keberanian yang diambil Pertamina ini luar biasa, prosesnya sejak 2019 sampai hari ini juga sangat cepat. Kita sama-sama bekerja keras untuk meningkatkan kemampuan anak negeri dan Pemerintah akan selalu mengawal Pertamina,” ujar Agus berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.

Sebaliknya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah kepada Pertamina untuk menghasilkan produk bahan bakar dengan menyerap bahan baku dalam negeri.

“Hal ini bertujuan agar bisa mewujudkan kedaulatan dan ketahanan energi nasional,” ujar Nicke usai melakukan serah terima simbolis contoh produk D-100 kepada Menteri Perindustrian.

Pada kesempatan tersebut Nicke  juga berterima kasih kepada Pemerintah dan dinas terkait atas dukungan penuhnya kepada Pertamina.

Melihat keberhasilan uji coba pengolahan RBDPO 100 persen, Pertamina menyatakan kesiapan dari sisi kilang dan katalis. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan Pertamina, menurut Nicke, adalah memikirkan sisi ekonomi untuk memasarkan produk D-100.

Menurut Nicke, hadirnya inovasi yang menghasilkan produk green energy tersebut telah menjawab tantangan energi yang lebih ramah lingkungan sekaligus tantangan penyerapan minyak sawit yang saat ini produksinya mencapai angka 42 hingga 46 Juta Metric Ton.

“Serapannya sebagai FAME (Fatty Acid Methyl Ester) mencapai sekitar 11,5 persen. Pada saat yang bersamaan, di kilang Plaju, Pertamina juga akan membangun unit green diesel dengan kapasitas produksi sebesar 20.000 barrel per hari,” ujar Nicke.

Hal ini membuktikan bahwa secara kompetensi dan kapabilitas Pertamina sebagai perusahaan yang didukung oleh anak negeri memiliki kemampuan dan daya saing dalam menciptakan inovasi.

“Terbukti bahwa kita mampu memproduksi bahan bakar renewable yang pertama di Indonesia dan  hasilnya tidak kalah dengan perusahaan  kelas dunia,” ujar Nicke.

Pengolahan RBDPO menjadi D-100 di kilang Dumai, lanjutnya, dapat direalisasikan dengan bantuan katalis dan gas hidrogen untuk menghasilkan produk Green Diesel.

Selain itu, lanjut Nicke, katalis yang digunakan adalah Katalis Merah Putih produksi putra putri terbaik bangsa.

“Putra-putri tersebut berasal dari Pertamina Research and Technology Centre yang bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB),” tutup Nicke.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau