Advertorial

Cegah Stunting, Tanoto Foundation Kembangkan Program Pengasuhan Anak Usia Dini

Kompas.com - 19/07/2020, 21:47 WIB
Dok. KOMPAS Dok. KOMPAS

JAKARTA, KOMPAS.com - Selain mengancam kesehatan masyarakat global, situasi pandemi Covid-19 juga mengancam kesehatan anak-anak di Indonesia. Keadaan pandemi virus SARS-CoV-2 ternyata juga berpotensi menimbulkan peningkatan prevalensi stunting.

Keberadaan pandemi yang sudah berjalan selama empat bulan di Indonesia menyebabkan krisis dan memengaruhi pendapatan. Alhasil, pendapatan yang berkurang bisa turut berimbas pada asupan gizi-anak-anak Indonesia.

Merujuk pada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak yang mengalami gizi buruk, infeksi, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Jika kondisi tersebut tak segera ditangani, sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa depan turut terdampak.

Hingga saat ini, angka stunting di Indonesia masih terbilang cukup tinggi. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah.

Berdasarkan Survei Status Gizi Balita Indonesia 2019, prevalensi stunting sebesar 27,7 persen. Ini artinya, 28 dari 100 anak mengalami stunting.

Angka prevalensi stunting di Indonesia sebenarnya mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Pada 2018, angka prevalensinya mencapai 30,8 persen.

Namun, berdasarkan data Bank Dunia pada 2019, angka tersebut masih tergolong besar bila dibandingkan rerata negara berpenghasilan menengah di dunia yang sebesar 21,1 persen.

Oleh karena itu, masalah stunting menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Lewat Kemenkes, pemerintah sendiri menargetkan penurunan stunting secara bertahap hingga berada di angka 14 persen pada 2024.

Mengurai masalah Stunting di Indonesia

Permasalahan stunting juga menjadi perhatian Tanoto Foundation. Organisasi nirlaba yang fokus pada pendidikan usia dini hingga tinggi ini bekerja sama dengan Harian Kompas mengadakan KompasTalks yang bertajuk “Pentingnya Nutrisi, Stimulasi, Proteksi, dan Evaluasi 1.000 Hari Pertama Kehidupan” Sabtu, (18/7/2020).

Salah satu pembicara dalam webinar tersebut, Nutrition Specialist United Nations Children's Fund (UNICEF) Sri Sukotjo, mengurai permasalahan stunting di Indonesia.

Menurutnya, persoalan stunting di Indonesia merupakan masalah triple burden malnutrition atau tiga beban gizi buruk.

Masalah tersebut mencakup kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan masalah gizi mikro.

Bila dirinci, kata Sri, ada sekitar 1,7 juta anak Indonesia kelebihan berat badan, 2 juta gizi buruk, dan 7 juta stunting.

Adapun, dalam peta global, total anak mengalami stunting 144 juta anak, 47 juta anak kekurangan gizi, dan 38 juta kelebihan berat badan.

“Ini menunjukkan prevalensi stunting Indonesia tergolong tinggi sekaligus menjadi salah satu negara yang berkontribusi terhadap tingginya angka stunting di level global,” papar Sri.

Peliknya, berdasarkan Riskesdas Kemenkes 2018, hampir semua provinsi di Indonesia memiliki masalah stunting. Bahkan, masalah ini terdapat di semua golongan sosial ekonomi.

Sri menilai, faktor penyebab terjadinya stunting bukan hanya persoalan kekurangan gizi, tetapi melainkan juga terkait faktor lain seperti defisiensi lingkungan hidup.

Defisiensi lingkungan, menurut Sri, juga mencakup layanan kesehatan, termasuk di dalamnya perlunya imunisasi bagi anak di awal kelahiran.

“Ini juga berhubungan dengan kesehatan lingkungan, apakah keluarga tinggal dalam lingkungan yang bersih dalam arti sanitasi,” ucapnya.

Selain defisiensi lingkungan, pengetahuan tentang stunting juga dianggap sebagai salah satu faktor penyebab.

Ahli gizi Rita Ramayulis yang juga mengisi webinar menilai sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap stunting sebagai persoalan genetik.

Padahal, kondisi gagal pertumbuhan seperti tubuh pendek bukan disebabkan penyakit yang bisa diketahui secara cepat. Kondisi ini lebih disebabkan faktor kekurangan gizi kronis yang berlangsung lama.

Rita menjelaskan, kompleksitas penyebab stunting mendorong upaya bersama dalam memutus permasalahan ini. Kepedulian bersama yang berfokus pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dianggap sebagai langkah mendesak untuk diselesaikan lintas sektor.

Adapun fase 1.000 HPK dimulai sejak dalam kandungan hingga umur dua tahun. Masa-masa tersebut merupakan periode krusial dalam menyiapkan generasi unggul.

“Ini fase krisis. Saat terjadi kekurangan gizi pada fase 1.000 HPK, maka tidak bisa diperbaiki,” tambahnya.

Oleh karena itu, kata Rita, memutus mata rantai stunting perlu dimulai dari remaja, usia pranikah, dan wanita usia subur.

“Ini adalah tiga hal kalau ingin memutus mata rantai stunting,” imbuhnya lagi.

Pentingnya pola asuh keluarga

Senada dengan Rita, konsultan tumbuh kembang pediatri sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. DR. dr. Soedjatmiko juga menekankan pentingnya perhatian orangtua maupun keluarga pada masa kembang anak di 1.000 HPK untuk mengatasi stunting.

Soedjatmiko menjelaskan, selama periode 1.000 HPK, orangtua maupun keluarga perlu memberikan tiga hal penting selama periode 1.000 HPK.

Hal tersebut antara lain nutrisi, stimulasi, dan proteksi. Menurut Soedjatmiko, nutrisi, stimulasi, dan proteksi

Dok. KOMPAS Dok. KOMPAS

Ketiganya sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak anak. Bila diibaratkan sebuah komputer, imbuh Soedjatmiko, tiga hal tersebut seperti hardware, software, dan antivirus.

Sebagai organ penting, Soedjatmiko menyebutkan, otak pada anak perlu didukung nutrisi yang tepat agar terbentuk hardware yang berfungsi optimal.

“Kalau ingin anak kita menjadi sumber daya manusia (SDM) yang unggul, dibutuhkan nutrisi untuk membentuk struktur otak dan organ-organ tubuh lain,” katanya.

Nutrisi tersebut antara lain protein, karbohidrat, lemak, kalsium, serat, zat besi, dan vitamin. Dampak kekurangan nutrisi ini bisa dilihat dari kemampuan belajar anak Indonesia.

“Pada 2018, dari 179 negara, kemampuan anak Indonesia yang berusia 15 tahun kemampuan matematika, sains, dan membaca berada di urutan 71 dari 79 negara,” jelasnya.

Sementara itu, di ASEAN, Indonesia menempati peringkat enam dari sisi kemampuan membaca, sains, dan matematika.

“Salah satu faktor utamanya adalah kurangnya protein, energi, dan lemak yang kemudian membentuk stunting di kemudian hari,” terangnya.

Meski demikian, lanjut dia, nutrisi saja tidak cukup. Otak anak juga membutuhkan software berupa stimulasi positif dari orangtua agar berfungsi lebih optimal.

“Memberikan stimulasi (kasih sayang), maka hasilnya jauh lebih bagus karena perbaikan nutrisi saja tidak akan memberikan hasil yang baik,” ujarnya.

Masa pandemi seperti sekarang, kata Soedjatmiko, sebenarnya bukan menjadi halangan bagi orangtua memberikan stimulasi.

“Orangtua cukup memberi contoh yang baik setiap hari sambil bermain dengan memberikan kasih sayang, pujian, dan penghargaan,” lanjutnya.

Hal itu penting karena karena proses belajar anak adalah mendengar, melihat, mengingat, meniru, mengulang, dan membiasakan.

“Jadi, agar anak memiliki kemampuan bicara yang baik, berilah contoh bagaimana berbicara yang baik dengan cara yang halus,” tambahnya.

Adapun, agar anak mempunyai kemampuan pemecahan masalah, lanjut dia, orangtua diharapkan mampu memberikan contoh sederhana kegiatan sehari-hari yang membutuhkan solusi pemecahan.

Misalnya, cara memakai baju dan sepatu sendiri atau cara mandi dan sikat gigi sendiri.

“Jangan lupa, setiap prestasi anak sekecil apapun berikanlah pujian dan penghargaan, sehingga anak-anak akan meniru apa yang dicontohkan,” jelasnya.

Setelah nutrisi dan stimulasi, yang tak kalah penting adalah memberikan antivirus berupa vaksin. Tujuannya, agar otak anak terlindungi dari penyakit.

Menurut Soedjatmiko, orangtua cukup mengunjungi pos pelayanan terpadu (posyandu) maupun pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).

“Disuntikkan vaksin, dalam tempo dua minggu kekebalan anak sudah terbentuk,” tambahnya.

Ketiga langkah ini pun harus ditunjang dengan evaluasi secara bertahap. Orangtua dapat mengukur lingkar kepala dan menimbang berat badan untuk memastikan perkembangan otak anak dalam kondisi normal.

“Demikian juga tinggi badan, apakah stunting atau tidak, pendek atau tidak,” katanya.

Peran swasta atasi stunting

Pencegahan stunting tidak bisa dikerjakan sendiri baik orangtua, keluarga, maupun pemerintah, tetapi juga peran serta swasta.

Dalam mewujudkan Indonesia sehat sekaligus menghindarkan generasi muda dari stunting, Tanoto Foundation mengambil peran strategis melalui program pengembangan anak usia dini.

Senior Advisor Early Childhood and Education Development (ECED) Tanoto Foundation Widodo Suhartoyo mengatakan, program tersebut secara spesifik untuk mengurangi stunting dengan memperbaiki kualitas pengasuhan dan akses Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkualitas.

“Tujuannya satu, agar anak bisa berkembang secara optimal dan siap untuk bersekolah yang berfokus pada upaya memperbaiki kualitas pengasuhan,” kata Widodo.

Dalam mengembangkan pusat layanan anak usia dini, stimulasi yang dinilai paling efektif adalah melalui permainan.

Dok. KOMPAS Dok. KOMPAS

Hal itu sejalan dengan upaya pemenuhan kebutuhan nutrisi anak pada 1.000 HPK yang dipadukan dengan memberikan stimulasi positif selama periode tersebut.

“Di Jakarta telah dilakukan bagaimana aktivitas antara orangtua atau pengasuh dengan anak-anaknya. Upaya ini berpegang pada framework tentang nurturing care yang dibuat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),” paparnya.

Dalam framework tersebut, Widodo menyebutkan, secara komprehensif mencakup aspek kesehatan, gizi, early learning, dan juga pengasuhan. Selain itu, yang tak kalah penting adalah keamanan dan keselamatan anak-anak.

Sementara itu, dalam pengembangan aktivitas antara anak dengan orang tua, Tanoto Foundation mengembangkan empat program. Salah satu di antaranya adalah bermain bersama (playing together).

“Kedua adalah group session. Di situ orangtua belajar bagaimana melakukan stimulasi yang baik. Ketiga individual session, di mana inisiatif datang dari kader atau orangtua,” terangnya

Keempat, lanjut Widodo, adalah program home visit atau kunjungan rumah yang dilakukan kader yang terlatih. Program ini menyasar interaksi antara anak dan orangtua juga lingkungan sekitar untuk mendorong terjadinya stimulasi.

“Program-program tersebut sudah dikembangkan di satu daerah kemudian dikembangkan pula di kawasan lain seperti di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Pandeglang,” kata Widodo.