Advertorial

Pertamina dan Kimia Farma Bersinergi untuk Menjaga Ketersediaan Bahan Baku Farmasi Nasional

Kompas.com - 25/07/2020, 16:31 WIB
Penandatanganan MoU secara virtual Pertamina dengan Kimia Farma (Dok. Pertamina) Penandatanganan MoU secara virtual Pertamina dengan Kimia Farma

Kompas.com – PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) sebagai sub holding refinery and petrochemical dari PT Pertamina (Persero) bersinergi untuk optimalkan potensi nilai tambah turunan dari produk petrokimia menjadi bahan baku farmasi seperti paracetamol.

Sinergi tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan (MoU) antara PT KPI dan PT Kimia Farma. Proses penandatanganan MoU dilakukan secara virtual antara Direktur Utama (Dirut) PT KPI Ignatius Tallulembang dan Dirut PT Kimia Farma Tbk Verdi Budidarmo.

Selain itu proses ini disaksikan juga oleh Wakil Menteri BUMN Budi Guna Sadikin, Dirut PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati, dan Holding BUMN Farmasi PT Biofarma Tbk Honesti Basyir.

Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin mengatakan sinergi ini berawal dari penjelasan dan kajian yang dilakukan Pertamina untuk mengoptimalkan bahan baku di Kilang Cilacap menjadi bahan baku farmasi. 

“Tidak sampai satu bulan kajian sudah keluar. Saya bangga dan mengucapkan selamat kepada tim Pertamina atas kegesitan dan kecepatannya merespons permintaan pemegang saham dalam hal ini Pemerintah,” kata Gunadi pada sambutan acara penandatangan MoU pada Jumat (24/7/2020). 

Sinergi ini, lanjutnya, sesuai arahan presiden untuk meningkatkan kemandirian industri farmasi nasional dan sekaligus membantu menurunkan defisit neraca perdagangan Indonesia di sektor farmasi.

Menurutnya saat ini 95 persen dari total kebutuhan bahan baku farmasi Indonesia masih dipasok melalui impor.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, menjelaskan sesuai arahan pemerintah untuk mengurangi impor bahan baku farmasi, Pertamina telah menetapkan bahwa produk petrokimia menjadi business line andalan di masa depan ketika terjadi transisi energi.

“Untuk itu, Pertamina mencoba identifikasi peluang untuk masuk pada bahan baku farmasi dan logistik. Gayung bersambut dengan Kimia Farma dan kita sudah melakukan penjajakan. Kami berterima kasih atas dukungan Pemerintah,” ujarnya.

Kajian yang dilakukan Pertamina bersama Kimia Farma akan mulai dilakukan di Kilang Cilacap yang sebelumnya sudah dipersiapkan sebagai tempat pengolahan Petrokimia.

Selanjutnya, setelah di Kilang Cilacap, Pertamina berencana akan melakukan hal yang sama di kilang-kilang lainnya dengan skala dan penambahan jenis-jenis petrokimia lainnya.

“Karena salah satu fokus bisnis Pertamina di masa depan adalah petrokimia. Sebagai holding, Pertamina akan mengawal proses ini agar dapat terwujud sesuai harapan Pemerintah,” ujar Nicke.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Holding BUMN Farmasi, Honesti Basyir mengatakan bahwa penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Kimia Farma berupa sinergi antar lembaga.

“Sinergi kerja sama industri dalam pengembangan penyedia bahan baku farmasi, yang meliputi aspek tekno-ekonomi dan aspek penelitian dan pengembangan,” ujar Honesti. 

Masih menurut Honesti Basyir, fokus BUMN Farmasi adalah integrasi bisnis yang perlu diiringi dengan menggandeng partner strategis untuk memperkuat kemampuan kompetitif dalam menjamin suplai bahan bagku farmasi dan pengembangan produk petrokimia.

“Sehingga kami berharap dapat merasakan efisiensi dari kerja sama bisnis ini. Semoga kerja sama dengan Kilang Pertamina Internasional yang dinaungi oleh PT Pertamina (Persero) dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang signifikan bagi kita semua,” kata Honesti.