Advertorial

PPSDM KEBTKE Selenggarakan Webinar Terkait Energi Panas Bumi

Kompas.com - 29/07/2020, 20:02 WIB

KOMPAS.com - Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) mengadakan webinar bertajuk “Overview of Geothermal Energy” melalui aplikasi Zoom, Rabu (29/7/2020).

Kepala PPSDM KEBTKE Laode Sulaeman dan President Director of Jacobs Indonesia Tim Anderson menjadi pembicara pada webinar tersebut.

Jacobs merupakan salah satu perusahaan engineering terbesar di dunia dengan 400 kantor yang tersebar di 40 negara. Selama 40 tahun terakhir, perusahaan ini telah menangani 1.262 proyek panas bumi sebesar 4.000 megawatt (MW) di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Kegiatan webinar tersebut diikuti 1.001 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, praktisi, hingga pengusaha di bidang pembangkit listrik.

Sementara itu, terdapat 128 masyarakat umum yang menyaksikan webinar tersebut melalui live streaming di YouTube dan Facebook.

Laode menyampaikan, Indonesia memiliki cadangan sumber energi panas bumi atau geotermal yang cukup besar.

“Indonesia harus bisa memanfaatkan secara luas potensi panas bumi. Tak hanya sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik, tetapi juga pemanfaatan langsung untuk kegiatan perekonomian masyarakat,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Rabu (29/7/2020).

Sementara itu, Tim Anderson menyampaikan, panas bumi adalah salah satu sumber energi baru dan terbarukan (EBT) yang diharapkan mampu mendongkrak realisasi bauran EBT sebesar 23 persen pada 2025.

“Selain pemanfaatannya yang tidak bergantung kepada bahan bakar, panas bumi juga bersifat ramah lingkungan. Selain itu, panas bumi berperan penting dalam kontribusi pengembangan infrastruktur daerah dan perekonomian di wilayah sekitar,” terangnya.

Tim menambahkan, energi panas bumi diharapkan memainkan peran penting dalam mengurangi emisi gas rumah kaca di Indonesia.

“Sebagai sumber EBT yang menyediakan daya secara terus-menerus, panas bumi dapat mengurangi ketergantungan negara itu pada tenaga batu bara dan bahan bakar fosil lainnya. Selain itu, penggunaan langsung energi panas bumi dapat diaplikasikan di berbagai hal,” imbuhnya.

Di samping menghasilkan listrik, ungkap Tim, energi geotermal juga bisa digunakan untuk pompa pemanas, alat mandi, pemanas ruangan, rumah kaca untuk tanaman, dan proses-proses industri.

“Energi panas bumi dapat digunakan untuk memanaskan struktur seperti bangunan, tempat parkir, dan trotoar. Sebagian besar energi panas bumi tidak meleleh keluar, seperti magma, air, atau uap,” jelas Tim.

Meski memiliki jumlah yang masif, ungkap Tim, hanya panas bumi bersuhu sekitar 225 derajat Fahrenheit atau 107,2 derajat Celcius yang dapat menghasilkan listrik.

“Sementara, panas bumi bersuhu rendah dapat dimanfaatkan untuk pemanasan dan aplikasi di sektor lainnya,” imbuh Tim.

Selain pemaparan materi, webinar tersebut pun menghadirkan sesi polling dan diskusi. Sebanyak tiga penanya terbaik mendapatkan voucher untuk mengikuti pelatihan di bidang ketenagalistrikan, energi baru dan terbarukan, serta konservasi energi dari PPSDM KEBTKE.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau