Advertorial

Waspada Defisiensi Vitamin D pada Pekerja Kantoran, Cegah dengan Cara Ini

Kompas.com - 03/08/2020, 09:36 WIB
Ilustrasi pekerja kantoran. (Dok. Shutterstock) Ilustrasi pekerja kantoran. (Dok. Shutterstock)

KOMPAS.com - Berada di lintasan garis khatulistiwa menjadikan Indonesia sebagai negara tropis dengan sinar matahari yang cukup tinggi. Kekayaan ini menjadi kelebihan masyarakat Indonesia dalam pemenuhan vitamin D.

Seperti diketahui, sinar matahari mampu membantu tubuh memproduksi vitamin D secara alami. Kandungan ultraviolet B (UV B) di sinar matahari, bila terpapar kulit, dapat mengubah provitamin D pada kulit menjadi vitamin D.

Meski demikian, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang kekurangan vitamin D. Dilansir dari Kompas.com, Sabtu (25/7/2020), setiap individu dari berbagai golongan usia bisa mengalami kekurangan (defisiensi) vitamin D.

“Kekurangan vitamin D terjadi pada hampir semua kelompok usia. Defisiensi vitamin D ini juga banyak ditemukan di negara tropis, termasuk Indonesia,” ujar Ahli Alergi Imunologi Anak Indonesia Prof Dr Budi Setiabudiawan dalam webinar Vitamin D3 Series Kalbe: Lindungi Anak Indonesia dengan Daya Tahan Tubuh yang Optimal.

Hal tersebut biasa dialami oleh beberapa kelompok orang yang kesehariannya kurang terkena sinar matahari. Misalnya saja pekerja kantoran.

Pekerja kantoran umumnya menghabiskan waktu seharian di dalam ruangan ber-AC dan pulang pada malam hari. Meski berangkat pada pagi hari, kelompok ini belum mendapatkan sinar matahari yang mengandung UV B.

Pasalnya, cahaya matahari yang mengandung UV B umumnya bisa didapatkan pada rentang waktu pukul 10.00 pagi hingga 15.00 sore. Hal inilah yang membuat asupan vitamin D yang kurang bagi tubuhnya.

Dampak kekurangan vitamin D

Banyak orang yang mengabaikan kebutuhan vitamin D. Padahal, vitamin D sangat dibutuhkan tubuh untuk memperkuat tulang dan mencegah berbagai jenis kanker.

Tak hanya itu, dalam masa pandemi seperti sekarang ini, vitamin D penting untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dari ancaman penyakit yang diakibatkan oleh virus.

Sebaliknya, defisiensi vitamin D berpengaruh pada imunitas tubuh dan bisa memicu berbagai gejala atau keluhan pada tubuh, seperti pegal-pegal, mudah mengantuk, dan sakit pada tulang.

Selain juga dapat menyebabkan rasa lelah yang berlebihan, beberapa jenis penyakit kronis juga mengancam orang yang kekurangan vitamin D, seperti diabetes, jantung, dan kanker.

Pada ibu hamil, kekurangan vitamin D juga berdampak pada bayi yang akan dilahirkan. Bayi tersebut dapat terserang penyakit rakitis, terlambat untuk belajar duduk, dan kaki berbentuk O atau X.

Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019, kebutuhan harian vitamin D untuk usia di atas satu tahun, remaja, dewasa, dan ibu hamil adalah sebanyak 600 IU. Sementara, untuk usia di atas 65 tahun dibutuhkan vitamin D sebanyak 800 IUper hari.

Prove D3, suplemen vitamin D untuk seluruh keluarga. (Dok. Kalbe) Prove D3, suplemen vitamin D untuk seluruh keluarga. (Dok. Kalbe)

Selain sinar matahari, vitamin D juga bisa didapatkan dari beberapa sumber makanan, seperti salmon, tuna, sarden, makarel, minyak hati ikan cod, udang, mentega, susu, jamur, dan sereal.

Bagi pekerja kantoran yang jarang terkena sinar matahari dan kekurangan vitamin D, asupan harian vitamin D yang dibutuhkan sebanyak 800 – 1.000 IU. Dengan demikian, sumber makanan boleh jadi belum cukup memenuhi kebutuhan vitamin D pada tubuh.  

Suplemen vitamin D, seperti Prove D3 menjadi solusi efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Prove D3 hadir menjadi bagian perjalanan keluarga Indonesia dengan cara mudah untuk mendapatkan vitamin D.

Vitamin D3 drops pertama di Indonesia ini mengandung vitamin D3 sebanyak 400 IU per tetes. Meskipun berbentuk drops, Prove D3 tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak, tetapi juga bisa digunakan oleh orang dewasa.

Prove D3 ini halal, tidak mengandung alkohol, bebas gluten, perasa, pewarna, dan pengawet. Hal ini membuat Prove D3 aman untuk dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga.