Advertorial

Seberapa Menguntungkan Kerja Sama Uji Coba Vaksin Covid-19 Biofarma-Sinovac bagi Indonesia?

Kompas.com - 05/08/2020, 17:52 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19. (Do. Shutterstock) Ilustrasi vaksin Covid-19. (Do. Shutterstock)

KOMPAS.com - Tahun 2020 menjadi tahun berat bagi semua orang. Pasalnya, Covid-19 yang telah menjadi pandemi ini membuat sejarah baru dalam dunia kesehatan.

Pakar kesehatan dan perusahaan obat dari seluruh dunia mencari cara dan upaya untuk menemukan vaksin SARS-CoV-2 secepat mungkin. Salah satunya adalah perusahaan Sinovac asal Beijing, Tiongkok.

Sinovac merupakan salah satu dari empat perusahaan dunia yang melakukan pengembangan tahap akhir vaksin Covid-19. Sinovac sendiri sudah berpengalaman dalam pengembangan vaksin beragam virus yang menjadi epidemi maupun pandemi, seperti SARS, flu domestik, maupun flu yang disebabkan virus H1N1.

Berkat pengalaman ini, Indonesia memutuskan menjalin kerja sama dengan Sinovac. Lewat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kesehatan, Bio Farma, Indonesia akan menguji klinis bakal vaksin Covid-19 milik Sinovac.

Dilansir dari Kompas.com, Jumat (24/7/2020) Sekretaris Perusahaan PT Bio Farma Bambang Heriyanto mengungkapkan kerja sama tersebut akan menguntungkan Indonesia.

Menurutnya, ada proses transfer teknologi yang dilakukan Sinovac kepada Bio Farma. “Jadi, dari teknologi yang diberikan ke kami, walau nanti mulainya dari downstream baru nanti ke upstream,” ujarnya.

Nantinya, bahan aktif diberikan ke Bio Farma, selanjutnya baru akan diracik dan diformulasikan di Indonesia.

Keuntungan lainnya, kata Bambang, uji coba ini bakal memberi informasi terkait respons vaksin pada penduduk Indonesia. Dengan demikian, kecocokan vaksin bakal dapat diketahui ketimbang membeli vaksin dari luar yang belum diuji di Indonesia.

Adapun uji coba tersebut juga bukan dilakukan dari tahap awal, melainkan uji coba fase III. Artinya, kandidat vaksin yang diuji sudah melalui serangkaian penelitian mengenai keamanan dan efek samping dari pre-klinis, fase I, hingga fase II.

Indonesia juga bukan satu-satunya negara yang bekerja sama dalam uji coba fase III kandidat vaksin Sinovac. Beberapa negara seperti Turki, Brazil, Bangladesh, dan Cile juga melakukan uji coba yang sama.

Jika fase ketiga lulus, proses berikutnya adalah tahap perizinan regulator masing-masing negara. Di Indonesia, menurut Bambang, masih harus melalui persetujuan dari Komite Etik juga beragam prosedur dari Badan POM RI sebelum vaksin ini beredar di pasaran.

Harapan bagi semua

Kerja sama tersebut disambut positif pengurus Perhimpunan Alumni dan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (Perhati) Fathan Asaduddin Sembiring.

Menurutnya, kerja sama Bio Farma-Sinovac baik bagi Indonesia karena banyak turunan dari kerja sama pengetesan vaksin Covid-19 yang justru bisa menjadi titik tahapan peningkatan kualitas industri kesehatan nasional.

Fathan Asaduddin Sembiring, Director Public and Government Relation Gentala Institute. (Dok. Gentala Institute)  Fathan Asaduddin Sembiring, Director Public and Government Relation Gentala Institute. (Dok. Gentala Institute)

Kerja sama ini, kata Fathan, juga turut membuka lapangan kerja dengan penyerapan sumber daya manusia dalam negeri dan efek berantai dari naiknya tingkat serapan komponen dalam negeri (TKDN), terutama di sektor kesehatan.

“Industri kesehatan bisa menjadi alternatif penyumbang devisa ke depannya ketika suatu waktu nanti Indonesia sudah menjadi negara service-based economy,” ujarnya dalam tulisan yang diterima Kompas.com, Selasa (4/8/2020).

Fathan pun mengatakan, pemerintah pasti sudah melakukan kajian sebelum memutuskan bekerja sama dengan Sinovac. Terlebih, perusahaan asal Negeri Tirai Bambu ini punya pengalaman menciptakan vaksin bagi virus-virus baru.

“Pengalaman tersebut menjadi justifikasi obyektif bahwa Sinovac bukan (perusahaan) vaksin kaleng-kaleng. Tiongkok dalam hal ini sudah memiliki platform teknologi riset antivirus, berkaca dari pengalaman pahit SARS yang mendera wilayah mereka dulu,” jelasnya lagi.

Bukan itu saja, menurut Fathan, kredibilitas Sinovac juga terlihat dari status perusahaan terbuka yang sudah melantai di bursa NASDAQ, Amerika Serikat. Profil, laporan keuangan perusahaan, maupun kinerja bisa diketahui oleh publik.

“Suatu perusahaan yang sudah IPO (initial public offering) tentu bukan perusahaan yang memiliki kualitas sembarangan,” ungkap Fathan.

Ia menyayangkan adanya pandangan miring yang beredar di masyarakat. Menurutnya, hal itu terjadi lantaran adanya stigma negatif terhadap segala yang berkaitan dengan Tiongkok.

Jika masyarakat membaca informasi yang tepat, kata Fathan, masyarakat dapat menilai bahwa kerja sama Bio Farma-Sinovac tentu akan memberikan harapan baru bagi penanganan Covid-19 di Indonesia.

“Khalayak luas sudah sepatutnya berada di belakang Biofarma dan entitas-entitas industri lain yang dapat membanggakan Indonesia di kancah internasional,” tulisnya.

 (Artikel ini berdasarkan tulisan dari Fathan Asaduddin Sembiring, pengurus Perhati, alumni Peking University dan UIBE Beijing, Director of Public and Governmental Relations Gentala Institute.)