Advertorial

Kesuksesan Pertamina Produksi Biodiesel D100 Jadi Kado HUT RI ke-75

Kompas.com - 17/08/2020, 11:46 WIB
Produksi D100 yang menggunakan bahan baku 100 persen minyak sawit tersebut menjadi kado Pertamina untuk Indonesia di momen hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan ke-75. (DOK. Pertamina) Produksi D100 yang menggunakan bahan baku 100 persen minyak sawit tersebut menjadi kado Pertamina untuk Indonesia di momen hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan ke-75.

KOMPAS.com – PT Pertamina (Persero) berhasil melakukan lompatan besar dengan sukses melakukan uji coba produksi Green Diesel D100 sebesar 1.000 barrel per hari di Kilang Dumai, Riau, pada Juli lalu.

Produksi D100 yang menggunakan bahan baku 100 persen minyak sawit tersebut menjadi kado Pertamina untuk Indonesia di momen hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan ke-75.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dalam pidato kenegaraannya, Jumat (15/7/2020) menyampaikan bahwa saat ini sebuah upaya besar tengah dilakukan untuk membangun kemandirian energi.

"Tahun 2019, kita sudah berhasil memproduksi B20, dan tahun ini sudah mulai B30, sehingga bisa menekan impor minyak," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut Presiden Joko Widodo juga mengapresiasi Pertamina yang telah bekerja sama dengan para peneliti ITB untuk memproduksi katalis merah putih.

Katalis menjadi komponen utama dalam pembuatan D100 yang akan menyerap minimal 1 juta ton sawit produksi petani per harinya.

“Hilirisasi bahan mentah yang lain juga terus dilakukan secara besar-besaran. Batubara diolah menjadi metanol dan gas. Beberapa kilang dibangun untuk mengolah minyak mentah menjadi minyak jadi dan sekaligus menjadi penggerak industri petrokimia yang memasok produk industri hilir bernilai tambah tinggi," imbuhnya.

Menurutnya upaya-upaya tersebut akan memperbaiki defisit transaksi berjalan, meningkatkan peluang lapangan kerja, dan mengurangi dominasi energi fosil.

Menanggapi apresiasi presiden, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan bahwa bahan bakar ramah lingkungan D100 menjadi ikhtiar Pertamina mewujudkan Nawacita.

Hadirnya bahan bakar tersebut menjadi bukti upaya Pertamina mengoptimalkan sumber daya dalam negeri untuk membangun ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional.

“Indonesia punya semua apa yang diperlukan, tinggal kemudian bagaimana kita secara smart mengolah sumber daya ini menjadi energi yang bisa menciptakan kemandirian dan kedaulatan energi nasional,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (17/8/2020).

Nicke menambahkan, Green Diesel D100 memanfaatkan sumber daya minyak sawit yang melimpah di dalam negeri sebagai bahan baku utamanya. Dengan demikian, bahan bakar tersebut memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang sangat tinggi.

"Produksi D100 ini sekaligus juga akan menekan defisit impor bahan bakar minyak dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Nicke.

Uji coba produksi Green Diesel di Kilang Dumai sendiri, imbuh Nicke, sudah dimulai sejak 2014 dengan melakukan injeksi minyak sawit jenis Refined, Bleached, and Deodorized Palm Oil (RBDPO) secara bertahap.

Uji coba dimulai dengan injeksi 7,5 persen RBDPO pada Desember 2014, kemudian 12,5 persen pada Maret 2019, dan terakhir 100 persen pada Juli 2020.

D 100 lebih ramah lingkungan karena angka emisi gas buangnya yang lebih rendah, serta lebih hemat penggunaan bahan bakar. (DOK.Pertamina) D 100 lebih ramah lingkungan karena angka emisi gas buangnya yang lebih rendah, serta lebih hemat penggunaan bahan bakar.

Dalam uji coba performa melalui road test sepanjang 200 kilometer, D100 yang dicampur dengan Solar dan FAME, terbukti menghasilkan bahan bakar diesel yang lebih berkualitas.

Cetane number bahan bakar ini lebih tinggi. Selain itu, lebih ramah lingkungan karena angka emisi gas buangnya yang lebih rendah, serta lebih hemat penggunaan bahan bakar.

"Selain pengolahan minyak sawit di Kilang Dumai, Pertamina juga akan membangun dua standalone biorefinery lainnya yaitu di Cilacap, Jawa Tengah, dan Plaju di Sumatera Selatan," terang Nicke.

Standalone biorefinery di Cilacap nantinya dapat memproduksi green energy berkapasitas 6.000 barrel per hari, sedangkan di Plaju berkapasitas 20.000 barrel per hari.

Kedua standalone biorefinery itu akan memproduksi Green Diesel dan Green Avtur dengan bahan baku 100 persen minyak nabati.

Selain Green Diesel, Pertamina juga telah berhasil melakukan uji coba produksi Green Gasoline di Kilang Plaju dan Cilacap sejak 2019. Pada 2020 dua kilang tersebut sudah mampu mengolah bahan baku minyak sawit hingga sebesar 20 persen injeksi.

"Mengolah minyak sawit menjadi Green Diesel sebenarnya sudah juga dilakukan oleh beberapa perusahaan lain di dunia, namun mengolah minyak sawit menjadi Green Gasoline dalam skala operasional baru pertama kali dilakukan di dunia, dan itu oleh Pertamina," tambah NIkce

Inovasi Anak Bangsa

Nicke menambahkan produksi Green Diesel D100 itu diproses dengan bantuan katalis yang dibuat oleh putra-putri bangsa sebagai hasil kerja sama Research & Technology Center Pertamina dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

"Produksi D100 di kilang Pertamina dengan bahan baku minyak sawit yang melimpah di dalam negeri serta menggunakan katalis Merah Putih menjadi wujud inovasi anak bangsa. Menjadi kebanggaan bagi Pertamina dapat menciptakan solusi untuk Indonesia," katanya.

Pertamina bersama ITB dan PT Pupuk Kujang juga telah menandatangani kerja sama perusahaan patungan (joint venture) untuk membangun pabrik katalis nasional pertama di Indonesia dengan target penyelesaian pada 2021.

Secara global, menurut Nicke, mulai 2030, pertumbuhan energi baru dan terbarukan diprediksi akan lebih tinggi dibandingkan energi fosil.

Oleh karena itu, lanjutnya, sangat tepat, jika sejak saat ini atau 10 tahun sebelumnya, Pertamina telah mulai menyiapkan pabrik katalis Merah Putih ini untuk mewujudkan kemandirian energi nasional.

Ke depan, ia mengatakan Pertamina tidak hanya mengembangkan green energy dari CPO atau sawit, tetapi juga dari sumber daya lainnya seperti algae, gandum, sorgum dan sebagainya.

"Pertamina akan terus mendayagunakan segala sumber daya alam domestik, untuk mendukung kemandirian dan kedaulatan energi nasional," tutup Nicke.