Advertorial

Hadapi Era Digital, Arwin Rasyid Ingatkan Dua Tantangan Besar Perbankan di Buku Barunya

Kompas.com - 18/08/2020, 15:13 WIB
Arwin Rasyid, penulis buku Digital Banking Revolution: Belajar dari Digital CIMB Niaga & Tips Bertahan di Era Fintech. (Dok. PT TEZ Capital and Finance) Arwin Rasyid, penulis buku Digital Banking Revolution: Belajar dari Digital CIMB Niaga & Tips Bertahan di Era Fintech.

KOMPAS.com – Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat menghadirkan tantangan baru bagi dunia perbankan. Terlebih ketika teknologi 5G sudah digunakan secara luas.

Pemanfaatan Internet of Things (IoT), artificial intelligent (AI), cloud computing, dan teknologi digital lainnya akan semakin masif. Akses untuk melakukan berbagai hal secara online dapat dilakukan dengan lebih cepat.

Kondisi ini akan mengubah perilaku nasabah bank sekaligus lanskap industri perbankan.

Mencoba memberi jawaban tantangan di era digital tersebut, bankir yang juga mantan CEO CIMB Niaga Arwin Rasyid meluncurkan buku berjudul Digital Banking Revolution: Belajar dari Digital CIMB Niaga & Tips Bertahan di Era Fintech, Jumat (14/8/2020).

“Digitalisasi telah mengubah lanskap banking dan bisnis secara nyata dan komprehensif. Topik digital banking revolution dipilih karena relevan bagi industri perbankan di masa kini dan masa depan,” ujarnya dalam peluncuran buku yang digelar lewat aplikasi Zoom dan channel Youtube resminya.

Dalam bukunya, Arwin menuliskan bahwa di era digital, bank konvensional harus siap menghadapi pesaing baru yaitu layanan berbasis financial technology (fintech) yang dikembangkan oleh perusahaan non-perbankan.

Ia melihat, saat ini fintech melesat menjadi penguasa pasar dompet digital mengalahkan bank konvensional.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Fintech tak hanya memberi kemudahan dan kecepatan layanan melalui ponsel, tapi juga berhasil menghimpun dana dengan bunga nol persen dari masyarakat,” ujarnya.

Tantangan lainnya adalah neobank atau the challenger bank, yaitu bank yang beroperasi secara digital penuh tanpa kantor cabang.

Untuk mengantisipasinya, lanjut Arwin, bank harus bertransformasi ke digital.

 “Buku ini diharapkan dapat menjadi semacam wakeup call atau pengingat kita terhadap satu momentum dan fenomena penting dalam sejarah perbankan, yakni momentum revolusi digital yang mungkin terjadi hanya sekali ini, once in a lifetime of our banking history,” ujarnya.

Ditulis berdasarkan pengalaman

Digital Banking Revolution: Belajar dari Digital CIMB Niaga & Tips Bertahan di Era Fintech merupakan buku ketiga karya Arwin Rasyid.

Pada 2006, Arwin menulis buku mengenai transformasi Bank Danamon dan pada 2015, ia menulis buku mengenai value creation PT Telkom Indonesia. Semua ditulis berdasarkan pengalaman dan pengamatannya.

Di buku terbaru, Arwin, menuliskan pengalamannya selama memimpin Bank CIMB Niaga.

Sebagai informasi, pada saat memimpin CIMB Niaga sepanjang periode 2008 hingga 2015, Arwin turut mengawal transformasi digital di perusahaan perbankan tersebut.

Saat itu, ia bertekad membawa bank yang dipimpinnya menjadi salah satu bank terkemuka berbasis digital. Hal ini terwujud dengan lahirnya produk Rekening Ponsel CIMB Niaga.

Rekening Ponsel yang jadi pionir dompet digital perbankan di Indonesia, bahkan di Asia, menjadi warisan dari kepemimpinannya. 

“Apa yang spesial dari produk ini, kita bisa mengirim uang ke nomor ponsel mana saja. Nomor ponsel menjadi nomor rekening. Bisa digunakan untuk berbelanja, bahkan tarik uang tanpa punya rekening dan kartu ATM,” jelasnya.

Di bawah kepemimpinannya, dengan mengadopsi konsep digital, CIMB Niaga pun berhasil menjadi bank terbesar nomor lima dalam hal aset di Indonesia.

Ia berhasil membesarkan bank hasil merger antara Bank Niaga dan Lippobank tersebut, dari aset Rp 90 triliun pada 2008 menjadi Rp 233 triliun pada 2015.

Adapun visi tentang perbankan digital yang mendasari beragam inovasi di bank tersebut ia dapatkan dari pengalamannya ketika memimpin PT Telkom Indonesia pada 2005.

Ia memimpin perusahaan telekomunikasi tersebut saat jaringan 3G masuk ke Indonesia. Saat itulah, ia melihat potensi ponsel yang luar biasa. Ponsel tidak hanya dapat menjadi alat telekomunikasi, tapi juga sebagai alat transaksi keuangan.

Ditanggapi positif

Acara peluncuran berlangsung meriah dengan diikuti 800 peserta dari berbagai negara. Selain itu, ada pula sambutan dari berbagai tokoh penting dalam bidang bisnis dan keuangan Indonesia.

Tokoh-tokoh tersebut di antaranya Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santosa, Founder Rumah Perubahan sekaligus Presiden Komisaris PT Telkom Prof Rhenald Kasali, dan Founder Ikhlas Capital sekaligus Mantan Presiden Komisaris CIMB Niaga Dato Sri Nazir Razak.

Dalam sambutannya, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santosa mengatakan, digital banking tak cukup hanya dengan memindahkan fungsi kantor ke internet atau mobile channel, tapi harus menjawab tuntutan masyarakat dalam melakukan aktivitas keuangan di era digital.

“Buku ini sudah sepantasnya menjadi benchmark dan lesson learned untuk seluruh pelaku industri perbankan dalam melakukan transformasi digital, terutama dalam meningkatkan daya saing industri perbankan (untuk) menghadapi masifnya perkembangan teknologi,” kata Wimboh.

Kemudian, Prof Rhenald Kasali juga mengapresiasi buku Arwin. Menurutnya, buku ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat di era digital dan memperkaya khazanah berpikir mengenai digital revolution dalam dunia perbankan.

“Semoga buku ini sukses dan dapat digunakan untuk menjelajahi kehidupan baru yang berbeda sama sekali. Mari kita perbaharui terus ilmu kita dan pengetahuan kita. Semoga bermanfaat,” ujar Rhenald.

Sementara itu, Dato Sri Nazir Razak pun mengucapkan selamat kepada Arwin karena telah mendedikasikan banyak sekali waktu dan energi untuk menghasilkan buku tersebut.

“Saya pikir buku ini akan memberikan dampak signifikan pada pengetahuan kita bagaimana cara mengaplikasikan teknologi digital pada perbankan. Selain itu, juga berbagai etika dan cara untuk membantu kita bagaimana menavigasikan semua tantangan itu,” ujar Nazir Razak.

Buku Digital Banking Revolution: Belajar dari Digital CIMB Niaga & Tips Bertahan di Era Fintech diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

Selain peluncuran buku, acara virtual tersebut juga disertai talk show bertajuk "The Future of Digital Banking and Fintech".

Talk show menghadirkan beberapa pembicara, seperti Komisioner OJK Riswinandi, CEO Bank CIMB Niaga Tigor M. Siahaan, dan CEO Investree Adrian Gunadi.

Untuk kembali menyaksikan acara peluncuran buku terbaru Arwin Rasyid, silakan klik link ini.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.