Advertorial

Tren Kinerja Juli Membaik, Pertamina Terus Berupaya Pulihkan Laba Akhir Tahun 2020

Kompas.com - 27/08/2020, 22:27 WIB
Laba bersih beranjak naik sejak Mei sampai Juli 2020 dengan rata-rata sebesar 350 juta dollar AS setiap bulannya. Pencapaian positif ini diyakini akan terus mengurangi kerugian yang sebelumnya telah tercatat. (DOK. PERTAMINA) Laba bersih beranjak naik sejak Mei sampai Juli 2020 dengan rata-rata sebesar 350 juta dollar AS setiap bulannya. Pencapaian positif ini diyakini akan terus mengurangi kerugian yang sebelumnya telah tercatat. (DOK. PERTAMINA)

KOMPAS.com - Memasuki semester kedua 2020, kinerja operasional PT Pertamina (Persero) secara keseluruhan menunjukkan tren positif.

Pada Juli 2020, Pertamina mencatatkan volume penjualan seluruh produk sebesar 6,9 juta kiloliter (kl) atau meningkat 5 persen dibandingkan Juni 2020 yang hanya terjual 6,6 juta kl. 

Sementara itu, nilai penjualan pada Juli berada di kisaran 3,2 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau terjadi kenaikan sebesar 9 persen dari bulan sebelumnya yang hanya mencapai 2,9 miliar dollar AS.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, salah satu kejutan yang dialami Pertamina pada masa pandemi Covid-19 adalah penurunan permintaan bahan bakar minyak (BBM).

“Namun, seiring pemberlakuan adaptasi kebiasaan baru dan pergerakan perekonomian nasional, tren penjualan Pertamina mulai merangkak naik. Kinerja kumulatif Juli juga sudah mengalami kemajuan dan lebih baik dari kinerja kumulatif bulan sebelumnya.” ujar Fajriyah melalui rilis resmi, Kamis (27/8/2020).

Menurut Fajriyah, periode Februari hingga Mei 2020 merupakan masa-masa terberat Pertamina dengan volume demand yang terus mengalami penurunan tajam akibat pandemi Covid-19.

Bahkan, saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan, penurunan demand di kota-kota besar mencapai lebih dari 50 persen.  Ditambah lagi penurunan pendapatan di sektor hulu yang mencapai 20 persen.

Fajriyah menyampaikan, dengan penurunan pendapatan yang signifikan, laba juga turut tertekan.

Strategi operasional dan finansial

Pada Januari 2020, Pertamina masih membukukan laba bersih positif senilai 87 juta dollar AS. Namun, memasuki tiga bulan selanjutnya, Pertamina mulai mengalami kerugian bersih rata-rata 500 juta dollar AS per bulan.

Untuk mengatasi kondisi ini, lanjut Fajriyah, manajemen Pertamina telah berhasil menjalankan strategi dari berbagai aspek, baik operasional maupun finansial.

Dengan demikian, laba bersih beranjak naik sejak Mei sampai Juli 2020 dengan rata-rata sebesar 350 juta dollar AS setiap bulannya. Pencapaian positif ini diyakini akan terus mengurangi kerugian yang sebelumnya telah tercatat. 

"Mulai Mei, Juli, dan ke depannya, kinerja makin membaik. Dengan laba bersih (unaudited) di Juli sebesar 408 juta dollar AS, maka kerugian kumulatif dapat ditekan dan berkurang menjadi 360 juta dollar atau setara Rp 5,3 triliun. Dengan memperhatikan tren yang ada, kami optimistis kinerja akan terus membaik sampai akhir 2020,” katanya.

Selain itu, kinerja laba operasi dan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) juga tetap positif sehingga secara kumulatif dari Januari hingga Juli 2020 mencapai 1,26 miliar dollar AS dan EBITDA sebesar 3,48 miliar dollar AS.

Hal itu menunjukkan bahwa secara operasional, Pertamina tetap berjalan baik. Ini termasuk komitmen Pertamina untuk menjalankan penugasan dalam distribusi BBM dan LPG ke seluruh pelosok negeri, serta menuntaskan proyek strategis nasional seperti pembangunan kilang.

"Tentu saja, perbaikan kinerja tidak semudah membalikkan tangan, perlu proses dan waktu. Sekarang ini, sudah terlihat dengan kerja keras seluruh manajemen dan karyawan, kinerja Pertamina pun mulai pulih kembali," katanya.

Upaya Pertamina tingkatkan kinerja

Di sisi lain, Fajriyah menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan Pertamina guna meningkatkan kinerja, di antaranya efisiensi belanja operasional (opex) dengan memotong anggaran hingga 30 persen, juga melakukan prioritasi belanja modal (capex) dengan sangat selektif hingga bisa lebih efisien 23 persen.

"Banyak sekali yang sudah dijalankan dan akan terus dilanjutkan untuk adaptasi dengan kondisi terkini. Kami melakukan renegosiasi kontrak, memitigasi rugi selisih kurs, tetap menjalankan operasional, dan investasi untuk mempertahankan produksi hulu," ujarnya.

Pertamina juga meningkatkan strategi marketing program diskon dan loyalty customer. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pendapatan dan meninjau ulang serta memperbaiki model operasi kilang. 

Prioritas komitmen Pertamina, lanjut Fajriyah, adalah penyediaan dan pelayanan energi bagi seluruh masyarakat Indonesi, mulai dari sektor hulu sampai dengan pendistribusian BBM dan LPG ke pelosok Tanah Air, termasuk program BBM 1 Harga.

Tenaga kerja yang langsung terlibat di dalamnya pun mencapai lebih dari 1,2 juta orang. Kendati harus menghadapi tekanan bisnis yang berat sepanjang pandemi, Pertamina berusaha untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bahkan, Pertamina tetap menjalankan proyek-proyek strategis yang menyerap ribuan tenaga kerja, seperti proyek pembangunan kilang RDMP & GRR serta proyek infrastruktur hulu dan hilir lainnya untuk membangun ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Langkah luar biasa ini adalah bentuk nyata Pertamina sebagai BUMN yang menjalankan amanah dan peran menggerakkan ekonomi Nasional, tidak hanya berorientasi pada profit semata.

Lebih jauh lagi, kontribusi Pertamina kepada masyarakat dan negara juga tetap terjaga dengan baik.

Selain tetap menjalankan kewajiban pembayaran dividen, penanganan penyebaran Covid-19 juga menjadi prioritas. Dengan kontribusi total Pertamina Group mencapai hampir Rp 900 miliar, Pertamina menjadi yang terdepan dalam memberikan bantuan kepada masyarakat termasuk membangun rumah sakit khusus Covid-19  dan fasilitas kesehatan lain.

Selain itu, pemberdayaan UMKM juga mendapatkan porsi besar sehingga turut membantu pergerakan ekonomi kecil dan menengah untuk dapat  bertahan di tengah kondisi sulit.