Advertorial

Haornas 2020, Kemenpora Berikan Penghargaan Satya Lencana Dharma Olahraga untuk 34 Orang Berprestasi

Kompas.com - 10/09/2020, 20:44 WIB

KOMPAS.com – Indonesia baru saja memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-37 pada 9 September 2020 di GOR POPKI, Cibubur, Jakarta Timur.

Puncak perayaan Haornas XXXVII dihadiri Presiden Joko Widodo dan disiarkan televisi agar dapat disaksikan seluruh masyarakat Indonesia.

Pada acara itu, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memberikan penghargaan Satya Lencana Dharma Olahraga untuk 34 pelaku olahraga berprestasi.

Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi pemerintah kepada atlet dan maupun pelatih yang telah mengharumkan nama Indonesia melalui olahraga.

Untuk kategori atlet, penghargaan diberikan kepada atlet cabang bulu tangkis Ricky Achmad Soebagdja, atlet cabang bulu tangkis tunggal putri Maria Kristin Yulianti, atlet cabang angkat besi putra Eko Yuli Irawan, atlet cabang angkat besi putri Raema Lisa Rumbewas, dan atlet cabang tenis meja tunggal putra Dian David Mickael Jacobs.

Sementara itu, untuk kategori pelatih, penghargaan diberikan kepada pelatih cabang angkat besi 62 kg putra Dirdja Wihardja, pelatih cabang angkat besi 48 kg putri Mg Supeni, dan pelatih cabang bridge Bert Toar Polii.

Berbeda dari tahun sebelumnya

Perayaan Haornas kali ini cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang selalu dilaksanakan secara langsung dengan upacara di berbagai daerah dan kegiatan fisik di lapangan. Tahun ini, puncak perayaan Haornas XXXVII hanya dilakukan di satu tempat saja.

Menurut Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali, perubahan tersebut dilakukan karena situasi yang tidak memungkinkan akibat pandemi Covid-19.

Pada Haornas XXXVII pemerintah memberikan penghargaan Satya Lencana Dharma Olahraga untuk 34 atlet dan pelatih olahraga berprestasi (Dok. Kemenpora) Pada Haornas XXXVII pemerintah memberikan penghargaan Satya Lencana Dharma Olahraga untuk 34 atlet dan pelatih olahraga berprestasi (Dok. Kemenpora)

“Kami menyadari bahwa saat ini kita sedang berada dalam suasana krisis. Hal ini menjadi tantangan
tersendiri bagi kami untuk bisa berpikir dan melakukan langkah-langkah extraordinary agar tetap produktif dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin,” ujarnya dalam rilis yang diterima Kompas.com, Kamis (10/9/2020).

Atas kesadaran dan pemikiran tersebut, Kemenpora kemudian mengusung 3 tema besar dalam perayaan Haornas XXXVII kali ini. Ketiga tema besar itu, yakni “Sport Science, Sport tourism, Sport Industry”.

Sport Science dibutuhkan sebagai pendamping pembinaan olahraga di tanah air untuk memacu prestasi olahraga dan meningkatkan kebugaran masyarakat.

Menurut Zainudin, berbagai negara yang maju di bidang olahraga telah menerapkan sport science. Sebab, sport science dapat mengukur dengan tepat kebugaran dan prestasi olahraga sehingga hasilnya dapat dijadikan standar dan menjadi panduan bagi pembinaan atlet.

Kemudian, kondisi alam Indonesia, baik daratan, lautan, dan pegunungan sangat mendukung untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata olahraga atau sport tourism.

“Kegiatan-kegiatan, seperti Tour de Singkarak, Tour de Ijen, Borobudur Marathon, dan kegiatan lainnya yang juga mendatangkan turis harus lebih kita kembangkan. Apalagi tahun depan kita akan menjadi tuan rumah MotoGP di Mandalika, NTB,” papar Zainudin.

Lebih lanjut, Menpora memaparkan, saat ini kegiatan olahraga tidak lagi dapat dipisahkan dengan industri, baik industri barang (peralatan olahraga) maupun industri jasa (pengelola acara-acara olahraga).

Menurut Menpora, potensi industri olahraga (sport industry) Indonesia itu cukup besar, tapi belum dimanfaatkan secara optimal. Masih banyak kebutuhan peralatan olahraga yang harus didatangkan dari luar negeri.

“Kalangan industri harus sudah mulai menyosialisasikan kepada stakeholder olahraga untuk semaksimal mungkin menggunakan peralatan olahraga produksi dalam negeri,” tegasnya.  

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau