Advertorial

Naik Daun, Minuman Warisan Leluhur Ini Laris Manis di Masa Pandemi

Kompas.com - 16/09/2020, 09:43 WIB

KOMPAS.com - Meski zaman semakin modern, jamu tradisional ternyata tak kehilangan eksistensinya. Minuman yang berkhasiat bagi kesehatan ini diolah dari berbagai jenis tanaman rimpang dan masih digandrungi berbagai kalangan.

Penggemar jamu pun semakin bertambah saat pandemi Covid-19 mulai masuk ke Indonesia. Masyarakat kembali tersadar akan khasiat resep leluhur untuk memperkuat daya tahan tubuh.

Alhasil, diberitakan Kompas.com, Minggu (7/6/2020), permintaan terhadap jamu semakin meningkat.

Harga empon-empon, bahan baku jamu, juga ikut merangkak naik. Harga jahe, misalnya, meningkat dari Rp 30.000 menjadi Rp 32.000 per kilogram. Kemudian, temu lawak dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.000 per kilogram serta kunyit dari Rp 7.000 menjadi Rp 8.000 per kilogram.

Nah, apa saja jenis minuman warisan leluhur tersebut yang banyak diburu masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh selama pandemi? Berikut ulasannya.

Kunyit asam

Kunyit asam merupakan salah satu minuman olahan jamu yang banyak digemari masyarakat lantaran memiliki rasa yang segar, manis, dan sedikit asam. Tak hanya wanita, pria dan anak-anak juga menyukai jamu.

Seperti namanya, jamu tersebut dibuat dari kunyit dan asam. Tambahan daun asam muda juga digunakan untuk menambah cita rasa segar pada minuman kunyit asam.

Minuman tradisional ini makin nikmat disajikan dalam keadaan dingin. Kesegarannya makin berlipat dan rasa dahaga pun bisa cepat reda.

Selain segar, kunyit asam juga bermanfaat bagi kesehatan. Jamu ini dapat membantu menetralisasi racun, mengatur gula darah, mencegah kanker, meningkatkan daya tahan tubuh, dan meredakan nyeri haid pada wanita.

Seiring perkembangan zaman, kunyit asam tak hanya diracik oleh pedagang jamu gendong. Minuman tersebut kini mudah ditemui di pasaran, baik secara offline maupun online.

Beras kencur

Selain kunyit asam, jamu yang juga paling dicari pembeli adalah beras kencur. Minuman ini berwarna putih pucat karena terbuat dari beras dan kencur.

Jamu ini punya aroma dan rasa yang khas. Rasa unik tersebut berkat perpaduan rasa manis, asam, dan sedikit pahit.

Sebelum diolah sebagai jamu yang nikmat, beras dan kencur dicuci terlebih dahulu hingga benar-benar bersih. Kedua bahan tersebut kemudian dihaluskan dengan menambahkan garam dan gula aren.

Jika kamu membeli langsung dari pedagang jamu gendong, beras kencur biasa dikemas dalam botol kaca dan disajikan dalam keadaan yang masih hangat.

Saat meminumnya, kamu bisa menyesap aroma sedap perpaduan antara beras dan kencur. Minuman ini bisa membantu mengatasi pegal linu, mengatasi masuk angin, mempertebal dinding lambung, meningkatkan sistem imun, dan menambah nafsu makan.

Jamu tradisional tersebut pun makin berkembang dan inovatif. Di salah satu kedai jamu di Jakarta, beras kencur disajikan dengan mengadopsi cara penyajian kopi, seperti V60 dan rok presso. Dengan teknik tersebut, aroma beras kencurnya terasa kuat, tapi memiliki rasa yang ringan.

Wedang uwuh

Minuman kesehatan tradisional khas Indonesia yang menarik sekaligus unik adalah wedang uwuh. Bila kamu pertama kali mencicipi minuman hangat ini, mungkin kamu akan sedikit kaget. Pasalnya, dalam satu gelas wedang uwuh terdapat beberapa helai daun, biji-bijian, hingga kulit kayu.

Sesuai namanya, wedang uwuh dalam bahasa Jawa punya arti unik. Wedang berarti “minuman” dan uwuh berarti “sampah”. Singkatnya, minuman ini dijuluki sebagai minuman sampah karena terdiri dari potongan rempah-rempah.

Dalam segelas wedang uwuh, terdapat herba jahe yang ditambahkan kayu secang, cengkih, kayu manis, pala, serai, kapulaga, dan gula batu. Seluruh bahan ini direbus kemudian disajikan dalam keadaan hangat.

Saat disesap, minuman ini akan meninggalkan aroma wangi rempah di tenggorokan. Jahe dan kapulaga memberi sensasi hangat pada tubuh. Seluruh bahan tadi bisa membantu mengobati penyakit seperti batuk, masuk angin, perut kembung, pegal linu, dan menyegarkan badan.

Itulah beragam minuman warisan leluhur yang laris manis di masa pandemi. Jadi penasaran kan bagaimana rasa dan sensasi menyesap minuman tersebut?

Kamu bisa membeli ragam jenis jamu tersebut secara online di Tokopedia. Meski dijual secara daring, pedagang tetap menjaga kualitas minumannya tetap dalam kondisi segar.

Di Tokopedia, kamu juga bisa menemukan berbagai varian minuman kesehatan warisan leluhur yang dikemas secara aman dalam botol, pouch, dan serbuk. Saat ini, marketplace terbesar di Indonesia tersebut sedang mengadakan program Promo Waktu Indonesia Belanja.

Lewat program tersebut, kamu bisa mendapatkan Promo Akhir Bulan, seperti Kejar Diskon, Cashback Kilat, dan Bebas Ongkir. Jadi, kamu bisa lebih untung saat berbelanja.

Yuk, ikutan program dan nikmati promonya. Selain belanja jadi lebih hemat, kamu juga ikut mendukung produk lokal buatan Indonesia.

Nah, tunggu apalagi, segera beli minuman kesehatan khas Indonesia dengan belanja di program Bangga Buatan Indonesia!

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau