Advertorial

Kiat Mengelola Keuangan agar Tidak Tergerus Inflasi

Kompas.com - 18/09/2020, 19:27 WIB
Ilustrasi kondisi inflasi (Dok. Shutterstock) Ilustrasi kondisi inflasi (Dok. Shutterstock)

KOMPAS.com – Saat membahas soal ekonomi, inflasi menjadi salah satu kondisi yang kerap dibicarakan. Kondisi ini pun sering menimbulkan kekhawatiran di masyarakat karena dibarengi dengan kenaikan harga berbagai barang di pasar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), inflasi adalah kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya dan cepatnya uang (kertas) beredar sehingga menyebabkan kenaikan harga barang-barang.

Sementara itu, mengutip Kamus Keuangan Tokopedia, inflasi merupakan proses meningkatnya harga secara umum dan terus-menerus sehubungan dengan mekanisme pasar yang dipengaruhi banyak faktor, seperti peningkatan konsumsi masyarakat, likuiditas di pasar yang berlebih sehingga memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, hingga ketidaklancaran distribusi barang.

Inflasi terjadi jika kenaikan harga berlangsung terus-menerus dan memengaruhi harga berbagai barang atau jasa lainnya.

Penyebab inflasi pun bermacam-macam. Pertama, permintaan masyarakat yang tinggi pada suatu barang atau jasa sehingga memicu perubahan tingkat harga. Peningkatan permintaan ini menyebabkan harga faktor produksi meningkat.

Kemudian, inflasi bisa disebabkan oleh kenaikan biaya produksi secara terus-menerus. Inflasi juga bisa terjadi akibat kenaikan penawaran dan permintaan akibat ketidakseimbangan antara keduanya.

Meski di masa pandemi Covid-19, tren inflasi mengalami perlambatan karena daya beli menurun, bukan berarti risiko terjadinya bakal hilang di masa mendatang.

Bahkan, melansir Kompas.tv, Rabu (3/6/2020), ekonom Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan, Eric Sugandi memproyeksi, puncak inflasi akan bergeser ke Desember 2020. Padahal, biasanya puncak inflasi terjadi saat Ramadhan dan Lebaran.

Oleh karena itu, di tengah ketidakpastian situasi dan kondisi ekonomi saat ini, tidak ada salahnya Anda mulai mengelola keuangan agar tidak tergerus inflasi. Diberitakan Kompas.com, Minggu (15/9/2019), berikut beberapa tips mengelola keuangan yang dapat diterapkan.

1. Mulai berinvestasi

Investasi menjadi salah satu tindakan tepat untuk menekan laju inflasi dalam keuangan Anda. Keuntungan yang bisa didapat melalui investasi dinilai dapat mengatasi laju inflasi yang cenderung meningkat setiap tahunnya.

Hal itu berarti, nilai keuntungan yang didapat dari investasi harus lebih besar dari angka kenaikan inflasi setiap tahunnya. Karena itu, sebelum berinvestasi, Anda harus mempelajari dan memilih instrumen yang tepat agar memberikan hasil maksimal. Jangan lupa juga untuk mempelajari dan mempertimbangkan setiap risikonya.

Buat yang ingin mencoba berinvestasi, bisa memilih jenis investasi emas atau reksa dana di Tokopedia. Selain tingkat risikonya rendah, harga produk investasinya juga cukup terjangkau.

2. Deposito jadi alternatif

Umumnya, deposito memiliki bunga yang setara atau sedikit lebih tinggi dari rata-rata tingkat inflasi sehingga nilai uang tidak akan tergerus habis.

Investasi dalam bentuk deposito juga cocok untuk jangka panjang karena hasil yang diperoleh lebih besar dari tabungan biasa. Karena itu, tidak ada salahnya mengalokasikan sebagian dana Anda ke dalam bentuk deposito.

Saat menyimpan uang di deposito, sebaiknya hindari menarik deposito sebelum tanggal jatuh tempo untuk mencegah risiko biaya penalti yang mungkin muncul. Lebih baik, ambil uang deposito saat jatuh tempo.

3. Miliki tabungan

Meskipun sudah mengalokasikan dana untuk investasi, Anda sebaiknya tetap memiliki dana yang disimpan dalam tabungan biasa. Dengan adanya tabungan tersebut, Anda bisa menggunakannya kapan saja ketika diperlukan tanpa perlu menunggu masa jatuh tempo, seperti deposito.

Saat ini, cukup banyak bank yang menawarkan rekening dengan suku bunga simpanan yang cukup tinggi.

4. Sediakan dana darurat

Memiliki dana darurat menjadi salah satu langkah penting dalam mengelola keuangan Anda. Dana darurat berbeda dari tabungan biasa. Sebab, dana ini sengaja dipisahkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak, seperti sakit, kecelakaan, atau kerusakan rumah.

Dana darurat tidak boleh diganggu gugat dan harus bisa dicairkan dengan cepat dalam kondisi mendesak. Untuk itu, rekening dana darurat harus dipisahkan dengan rekening tabungan biasa agar tidak tercampur dan lebih mudah dikelola.

Kondisi keuangan Anda pun dapat lebih terkendali karena sudah memiliki dana cadangan jika sewaktu-waktu membutuhkannya.

Itu tadi cara yang bisa Anda lakukan untuk menyiapkan diri menghadapi ketidakpastian kondisi keuangan akibat inflasi.

Untuk lebih memahami soal istilah keuangan selain inflasi, Anda bisa memanfaatkan Kamus Keuangan Tokopedia.

Website itu menyediakan arti dan informasi lengkap tentang berbagai istilah keuangan, mulai dari istilah akuntansi, istilah perbankan, dan istilah keuangan berbahasa asing. Seluruh istilah itu disusun berdasarkan indeks huruf awal agar mudah dicari.

Adapun berbagai pengertian istilah keuangan tersebut dihimpun dan disusun berdasarkan sumber-sumber tepercaya, seperti definisi menurut Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI daring),dan peraturan perundang-undangan terkait.

Daftar dan informasi terkait istilah keuangan pun akan selalu diperbarui agar semakin lengkap. Yuk, manfaatkan Kamu Keuangan Tokopedia!