Advertorial

Awasi Pengelolaan Anggaran, Kemenpora Lakukan Pendampingan Pelatnas 2020

Kompas.com - 25/09/2020, 14:35 WIB

KOMPAS.com – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI terus melakukan pendampingan dan pengawasan terhadap penggunaan anggaran dana yang diberikan kepada cabang olahraga yang melakukan Pelatihan Nasional (Pelatnas).

Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Chandra Bakti bersama tim memantau langsung proses Pelatnas cabang olahraga atletik dan tenis di Jakarta, Rabu (23/9/2020).

Menurut Chandra, proses pengawasan dan pendampingan tersebut penting dilakukan supaya semua proses berjalan dengan baik.

“Menpora RI dalam menyaksikan MoU dengan cabang olahraga selalu menekankan pentingnya penggunaan anggaran secara transparan dan sesuai ketentuan," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (25/9/2020).

Pengawasan dan pendampingan, menurut Chandra, juga perlu dilakukan agar pengelolaan anggaran sesuai dengan ketentuan MoU yang sudah disepakati dan ditandatangani.

Bersamaan dengan itu, ia mengatakan pihaknya siap melakukan pendampingan dan pengawasan kepada tim administrasi seluruh cabang olahraga yang menerima dana Pelatnas 2020.

“Kami semua ingin jalannya Pelatnas lancar dan tidak ada masalah di kemudian hari. Jika ada kesulitan, kami dari Kemenpora RI akan melakukan pendampingan,” ujarnya.

Pelatnas 2020 cabang olahraga tenis dilakukan di Jakarta. (Dok. Kemenpora) Pelatnas 2020 cabang olahraga tenis dilakukan di Jakarta.

Protokol kesehatan ketat

Berbeda dengan Pelatnas sebelumnya, Pelatnas 2020 dilakukan di tengah masa pandemi Covid-19. Maka dari itu, protokol kesehatan pun diterapkan selama berjalannya kegiatan.

Protokol tersebut antara lain memakai hand sanitizer, mengecek suhu tubuh menggunakan thermo gun, dan menjaga jarak.

Selain itu, tes swab juga dilakukan sebelum memulai Pelatnas. PB Pelti yang menaungi cabang olahraga tenis juga melakukan tes tersebut bagi nama-nama yang tertera dalam SK Pelatnas Tenis.

Total, ada 18 orang yang telah melakukan tes swab, terdiri dari satu orang manajer, tiga orang pelatih, 10 orang altet, satu orang streght and condition, satu orang fisioterapis, dan dua orang petugas administrasi.

Atlet peserta Pelatnas cabang olahraga atletik sedang mengikuti sesi latihan. (Dok. Kemenpora) Atlet peserta Pelatnas cabang olahraga atletik sedang mengikuti sesi latihan.

"Ini (tes swab) yang pertama, kalau untuk rapid test sudah. Secara aturan federasi setiap 14 hari (dilakukan) tes swab. Nanti kami terapkan," kata Manajer Pelatnas Sutikno Muliadi yang juga menjabat Waketum PB Pelti.

Begitu juga dengan cabang olahraga atletik. Sebanyak 15 atlet, pelatih, dan manajer juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Para atlet pun wajib melakukan latihan, seperti jogging, sprint, dan angkat beban di Stadion Madya tak jauh dari tempat mereka menginap di Hotel Atlet Century Park, Jakarta.

"Karena adanya pandemi Covid-19, semua Pelatnas atletik dipusatkan di Stadion Madya, Senayan, Jakarta dengan nama program adaptasi atau program penyesuaian," kata manajer tim atletik Mustara Musa.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau