Advertorial

Le Minerale Gerakkan Ekonomi Sirkular untuk Atasi Sampah di Pulau Komodo

Kompas.com - 11/10/2020, 15:33 WIB
Masyarakat Pulau Komodo tengah mengumpulkan dan memilah sampah plastik yang untuk kemudian didaur ulang menjadi produk baru bernilai ekonomi tinggi. (Dok. Le Minerale) Masyarakat Pulau Komodo tengah mengumpulkan dan memilah sampah plastik yang untuk kemudian didaur ulang menjadi produk baru bernilai ekonomi tinggi.

KOMPAS.com – Kemasan minuman yang terbuat dari polietilena tereftalat (PET), terutama yang berkode angka 1, tidak dapat dipandang seperti sampah yang tak bernilai usai isinya habis dikonsumsi. Dengan pendekatan ekonomi sirkular, PET punya nilai ekonomi sebagai bahan baku industri daur ulang.

Mengacu pada kode indetifikasi resin (Resin Indentification Code), plastik PET mempunyai kode angkai 1, artinya plastik PET paling mudah didaur ulang.Karena kelebihannya yang mudah didaur ulang inilah, membuat PET punya nilai jual tinggi sehingga kerap jadi incaran para pemulung.

Le Minerale sebagai salah satu produsen air mineral yang menggunakan jenis plastik PET untuk produknya, termasuk kemasan galon sekali pakai, menggagas program untuk mengedukasi masyarakat di Pulau Komodo dalam pengelolaan sampah.

Sustainability Director PT Tirta Fresindo Jaya Ronald Atmadja mengatakan, langkah tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung upaya pemerintah dengan berkontribusi sebesar-besarnya mengelola sampah plastik.

“Saat ini, kami sedang menyusun road map sustainability plastik. Mulai dari bahan baku sampai sampah akan dikelola dengan baik dan mendukung kelestarian lingkungan,” kata Ronald melalui rilis yang diterima Kompas.com, Jumat (9/10/2020).

Ia mengatakan, botol dan galon Le Minerale sudah terbuat dari plastik PET yang mudah didaur ulang, sehingga jika dikelola dengan baik tidak mencemari lingkungan.

Dalam program ini, Le Minerale menggandeng Waste Platform (IWP) dan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), Le Minerale bergerak memungut, memilah, dan mengolah sampah plastik di Pulau Komodo.

Sampah plastik yang dikumpulkan dari salah satu primadona pariwisata Tanah Air tersebut selanjutnya didaur ulang menjadi produk baru bernilai ekonomi tinggi. Dengan begitu, tak hanya kelestarian lingkungan yang dijaga, tapi juga memberi nilai tambah bagi perekonomian masyarakat setempat.

Di sisi lain, Ketua Umum ADUPI Christine Halim mengungkapkan bahwa sampah plastik jenis PET, seperti kemasan botol dan galon Le Minerale, dihargai lebih mahal dan bisa menghasilkan produk daur ulang yang bernilai juga.

Hasil daur ulang dari plastik PET tersebut, imbuh Christine, bisa menghasilkan barang-barang bernilai ekonomi tinggi, seperti polyester, dakron sintetis, geotextile, bantal, baju winter, dan kancing.

“Plastik PET dapat didaur ulang hingga 50 kali dan menghemat bahan baku produksi. Tren permintaan ekspornya terus naik. Karena itu, kami mengimbau masyarakat melakukan pemilahan sampah dari rumah, bekerja sama dengan bank sampah atau petugas pemilahan sampah agar plastik tersebut menjadi sumber ekonomi berkelanjutan,” jelas Christine.

Adapun skema dari sinergi tersebut, yakni IWP sebagai pihak yang mengedukasi masyarakat Pulau Komodo untuk mengumpulkan dan memilah sampah plastik. Sementara itu, ADUPI melakukan pengolahan sampah plastik menjadi produk baru yang bernilai ekonomi tinggi.

Selain menjadi solusi menangani masalah sampah di Pulau Komodo, kerja sama itu diharapkan dapat menjadi nilai tambah bagi warga setempat. Dengan menjaga lingkungan, ekonomi masyarakat dari sektor pariwisata juga terjaga.

Le Minerale bekerja sama dengan Indonesian Waste Platform (IWP) dan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) mencanangkan program Gerakan Ekonomi Sirkular di Pulau Komodo, Rabu (7/10/2020). (Dok. Le Minerale) Le Minerale bekerja sama dengan Indonesian Waste Platform (IWP) dan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) mencanangkan program Gerakan Ekonomi Sirkular di Pulau Komodo, Rabu (7/10/2020).

Mendapat apresiasi

Sinergi antara Le Minerale dengan IWP dan ADUPI mendapat apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan, pemerintah mendukung sekaligus mengapresiasi partisipasi langkah para penggagas konversi sampah menjadi material yang memiliki manfaat berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungannya.

Pemerintah juga mengapresiasi masyarakat yang ikut bergerak mengurai sampah menjadi salah satu mata rantai dari konsep ekonomi sirkulasi.

“Pemerintah akan selalu mendukung semua pihak penyelenggara ekonomi sirkular dari sampah ini, terutama sampah plastik, yang sering dituding sebagai material pencemar lingkungan,” ujar Siti.

Khusus untuk PT Tirta Fresindo Jaya, Menteri KLHK menyatakan salut karena tidak hanya berproduksi dengan menggunakan bahan plastik, tapi juga mampu menunjukkan rasa tanggung jawab lewat beragam inisiatif terkait pengelolaan serta pemanfaatan sampah plastik.

Di sisi lain, Koordinator IWP Ica Marta Muslim turut menyampaikan apresiasinya. Mewakili IWP dan masyarakat Pulau Komodo, ia mengucapkan terima kasih atas dukungan Le Minerale pada Gerakan Ekonomi Sirkular Pulau Komodo.

“Kami optimistis dapat melindungi aset pariwisata kami sekaligus mendapatkan tambahan finansial dari pengelolaan sampah,” ujar Ica.

Terus terjalin kerja sama

Selain menjalin kerja sama dengna IWP dan ADUPI, Le Minerale juga intensif bersinergi dengan KLHK untuk bergerak bersama menanggulangi sampah plastik. Sustainability Manager Le Minerale Febri Hutama mengatakan, kerja sama seperti ini akan terus berlangsung.

Bahkan, Febri berharap langkah serupa bisa diimplementasikan oleh merek-merek lain. Pasalnya, selain menjaga lingkungan, gerakan tersebut dapat memberi nilai tambah bagi masyarakat

“Dengan pendekatan ekonomi sirkular, sampah plastik yang semula kita pandang sebagai masalah justru mendatangkan rezeki dan berkah,” imbuh Febri.