Advertorial

Menkop UKM Ajak Perguruan Tinggi Rancang Desain Pengembangan Startup

Kompas.com - 15/10/2020, 22:03 WIB
Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki menghadiri diskusi publik bertajuk ?Bangun UMKM di Tengah Multikrisis? yang digelar secara daring, Kamis (15/10/2020) (Dok. Kemenkop UKM) Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki menghadiri diskusi publik bertajuk ?Bangun UMKM di Tengah Multikrisis? yang digelar secara daring, Kamis (15/10/2020) (Dok. Kemenkop UKM)

KOMPAS.com - Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki mengajak berbagai perguruan tinggi, salah satunya Universitas Prasetiya Mulya untuk merancang desain pengembangan startup untuk anak muda dan mahasiswa. 

Hal tersebut disampaikan Teten pada acara diskusi publik bertajuk “Bangun UMKM di Tengah Multikrisis” yang digelar Universitas Prasetya Mulya, Ikaprama, dan Katadata secara daring, Kamis (15/10/2020). 

Teten menyampaikan bahwa penting untuk menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi. Salah satu kerja sama yang dapat dilakukan adalah merancang pengembangan startup untuk para anak muda, terutama yang telah mendapat bekal pendidikan cukup dan memiliki potensi usaha untuk naik kelas. 

“Saat ini usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memikul beban berat. Sebab, mereka harus menciptakan lapangan kerja lebih banyak akibat pandemi sehingga penting menyiapkan UMKM unggul dengan produk dan model bisnis yang lebih kreatif dan inovatif,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis. 

Terlebih, lanjut Teten, kinerja ekspor UMKM Indonesia di tengah pandemi menurun drastis hingga tinggal 14 persen. 

“Maka dari itu, penting untuk mendorong dan membangun UMKM yang lebih unggul. Untuk itu, kita harus memberikan perhatian lebih ke UMKM high tech yang berpotensi dan banyak digeluti anak muda,” ujarnya.

Teten menambahkan, Kemenkop UKM juga akan memfokuskan pendampingan dan pemberdayaan dalam dua pendekatan. Pertama, melalui pemberian bantuan sosial dan modal kerja bagi pelaku usaha ultra mikro dan mikro yang jumlahnya mencapai 98 persen. 

Sementara itu, pendekatan kedua adalah kepada UMKM high tech yang berpotensi besar untuk naik kelas, termasuk start up teknologi yang banyak berkembang di kalangan anak muda dan mahasiswa. 

Oleh karena itu, Teten mengajak lebih banyak perguruan tinggi untuk terlibat dalam penyusunan desain atau model pengembangan startup

“Kita perlu juga mengembangkan inkubator bisnis di setiap daerah sesuai unggulan daerah tersebut. Jadi, kami akan melibatkan lebih banyak kampus-kampus,” imbuhnya. 

Teten meyakini apabila semua program tersebut dikonsolidasikan, maka Indonesia akan mendapat tambahan jumlah wirausaha baru dari kalangan anak muda yang kreatif dan inovatif. 

Terlebih, saat ini jumlah wirausaha di Indonesia masih berkisar 3,4 persen dari total populasi atau masih di bawah negara tetangga lainnya, termasuk Malaysia yang sudah mencapai 5 persen dan Singapura yang mencapai 9 persen. 

Pada kesempatan itu, Teten juga menggarisbawahi Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) yang diharapkan mampu menjadikan koperasi sebagai lembaga ekonomi utama pilihan masyarakat. 

Teten menyebutkan, UU Ciptaker akan memperkuat posisi Koperasi UMKM (KUKM) dalam rantai pasok, mengakselerasi digitalisasi KUMKM, serta memberikan pembiayaan mudah dan murah bagi UMKM. 

“UU Ciptaker juga akan memberikan afirmasi dan perluasan akses pasar tehadap UMKM. Puncaknya, UMKM (akan) menjadi rumah nyaman untuk mencetak dan menyerap tenaga kerja unggul Indonesia,” jelasnya.