Advertorial

Tingkat Literasi Indonesia Masih Rendah, Prudential Indonesia Ambil Langkah Nyata

Kompas.com - 16/10/2020, 14:07 WIB
Ilustrasi anak kecil sedang membaca (Shutterstock/Issaret Yatsomboon) Ilustrasi anak kecil sedang membaca

JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dengan tingkat literasi rendah. Permasalahan ini makin mengkhawatirkan karena belum meratanya kesempatan untuk mengakses bahan literasi di dalam negeri.

Sebagai contoh, orang yang tinggal di kota besar seperti DKI Jakarta yang dilengkapi segala fasilitas pendukung internet dan ketersediaan perpustakaan, lebih mudah mengakses bahan literasi. Di Papua, peluang ini belum tentu ada.

Chief Field Office Unicef wilayah Papua, Aminuddin Ramdan, mengambil contoh Kabupaten Supiori yang merupakan wilayah pulau dan jauh dari daratan.

Menurutnya, faktor geografis serta kurangnya sarana dan prasarana membuat kemampuan literasi para pelajar di Supiori tergolong rendah.

Selain itu, tambah Ramdan, lebih dari 50 persen murid kelas awal di Papua masuk ke dalam kategori tidak bisa membaca karena tidak bisa mengenali huruf. Kompetensi membaca murid kelas empat sekolah dasar (SD) yang masih berada dalam level kurang literasi terdata sebanyak 60 persen.

Dengan fakta-fakta tersebut, tak heran rata-rata indeks aktivitas literasi membaca (Alibaca) di Indonesia masih berada di level rendah, yakni 37,32 persen.

Kesempatan untuk membangun literasi bagi para pelajar sebenarnya selalu ada. Sayangnya, hal itu kian terasa berat di masa pandemi ini, khususnya bagi murid yang berada di pedesaan. 

Unicef menemukan, masih banyak murid di wilayah pedesaan yang belum memiliki koneksi internet dan fasilitas teknologi memadai untuk menunjang kegiatan belajar mengajar secara daring, seperti komputer atau laptop.

Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Dr Samto mengatakan, di abad ke-21, salah satu keterampilan dasar yang sangat dibutuhkan adalah kemampuan literasi. Hal ini pun tak sebatas bisa baca dan tulis, tapi juga mesti mampu memahami konteks.

“Oleh karena itu, kemampuan literasi harus dimulai sejak dini. Guna mendukung hal tersebut, Kemdikbud telah mencanangkan serangkaian program, seperti Gerakan Literasi Nasional, asesmen kompetensi minimum siswa untuk literasi dan numerasi, dan sebagainya,” ungkap Dr Samto.

Para pembicara web seminar KompasTalks 'Literasi Anak Jadi Awal Kesejahteraan Indonesia' yang terdiri dari Chief Field Office Unicef wilayah Papua Aminuddin Ramdan (kiri atas), pegiat literasi sekaligus Pendiri Taman Bacaan Pelangi Nila Tanzil (kanan atas), Ketua Dewan PJI Siddharta Moersjid (kiri bawah), dan Sharia, Government Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia Nini Sumohandoyo (kanan bawah). (Dok. Kompas) Para pembicara web seminar KompasTalks 'Literasi Anak Jadi Awal Kesejahteraan Indonesia' yang terdiri dari Chief Field Office Unicef wilayah Papua Aminuddin Ramdan (kiri atas), pegiat literasi sekaligus Pendiri Taman Bacaan Pelangi Nila Tanzil (kanan atas), Ketua Dewan PJI Siddharta Moersjid (kiri bawah), dan Sharia, Government Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia Nini Sumohandoyo (kanan bawah).

Bak gayung bersambut, keinginan untuk meningkatkan kemampuan literasi anak-anak Indonesia mendapat sambutan baik dari Prudential Indonesia. Komitmen ini pun disampaikan dalam diskusi virtual bertajuk Literasi Anak Jadi Awal Kesejahteraan Indonesia yang digelar bersama Kompas Talks, Selasa (6/10/2020).

President Director Prudential Indonesia Jens Reisch mengatakan, selama 25 tahun, Prudential Indonesia percaya bahwa bisnis yang baik harus diikuti dengan berbagi kebaikan kepada masyarakat. Hal ini pun sejalan dengan kampanye “We Do Good” yang diusung perusahaan.

“Pendidikan merupakan salah satu pilar penting pada komitmen pemberdayaan masyarakat dari Community Investment Prudential Indonesia karena memiliki efek domino pada seluruh sendi kehidupan,” terang Jens.

Dalam praktiknya, Prudential Indonesia menguatkan literasi anak sejak dini melalui dua program besar, yaitu program dukungan pendidikan yang berkolaborasi dengan Unicef dan program Cha-Ching yang merupakan program literasi keuangan untuk anak yang dilakukan bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI).

“Kedua program itu merupakan bagian dari upaya kami membantu generasi penerus mendapatkan yang terbaik dalam kehidupannya kelak,” imbuh Jens.

Kolaborasi mendukung Kemdikbud

Perwakilan Unicef Indonesia Debora Comini mengungkapkan, Covid-19 menimbulkan dampak terhadap hampir 60 juta anak Indonesia. Karena itu, semua elemen wajib memastikan setiap anak dapat terus belajar.

Sejak Agustus 2020, Prudential Indonesia telah berkolaborasi dengan Unicef untuk mendukung Kemdikbud dalam memastikan anak-anak dan orangtua di berbagai wilayah di Nusantara dapat menjalankan proses belajar mengajar secara efektif.

Khusus wilayah Indonesia timur, Prudential Indonesia menggelar pelatihan untuk para pengajar agar mampu beradaptasi di masa new normal.

Perusahaan asuransi tersebut pun menargetkan program bersama Unicef itu bisa menjangkau 69.000 siswa dan 3.750 guru dari berbagai wilayah di Indonesia pada Januari 2021.

“Anak-anak adalah urusan semua orang dan Unicef menghargai dukungan Prudential Indonesia dalam membantu memprioritaskan pendidikan mereka," kata Comini.

Sementara itu, untuk program Cha-Ching, hingga September 2020, kegiatan ini telah diimplementasikan di 2.665 sekolah di Sidoarjo, Trenggalek, Blitar, Jakarta, dan menjangkau 4.820 guru, serta 146.897 siswa SD.

Sebagai informasi, program yang bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan anak usia 7-12 tahun tersebut telah dijalankan oleh Prudential Indonesia sejak 2012.

Di bawah asuhan Prudence Foundation, pelaksana Community Investment Prudential di Asia dan Afrika, program Cha-Ching mengajarkan empat konsep dasar pengelolaan keuangan melalui modul pembelajaran menarik, yaitu peroleh (earn), simpan (save), belanjakan (spend), dan sumbangkan (donate).

Sharia, Government Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia Nini Sumohandoyo menjelaskan, pengetahuan yang diajarkan melalui program Cha-Ching bukan sekadar mengenal nilai dan konsep uang, tapi juga membekali mereka dengan kemampuan mengelola keuangan.

“Penanaman literasi keuangan sejak dini makin relevan manfaatnya untuk mempersiapkan diri mereka menghadapi ketidakpastian yang dapat terjadi sewaktu-waktu di masa depan, seperti pandemi,” jelas Nini. 

Sejauh ini, program Cha-Ching mendapat respons positif. Ketua Dewan PJI Siddharta Moersjid mengungkapkan, 94 persen dari 59.619 siswa merasakan manfaat penerapan program ChaChing di keseharian mereka.

“Mereka juga jadi lebih menyadari pentingnya mempertimbangkan empat aspek utama pengelolaan uang,” tambah Siddharta.

Di sisi lain, pegiat literasi sekaligus Pendiri Taman Bacaan Pelangi Nila Tanzil mengaku mengapresiasi program yang dilakukan Prudential Indonesia. Pasalnya, literasi anak Indonesia merupakan tanggung jawab bersama sehingga kolaborasi yang sinergis amat diperlukan.

“Keseluruhan program yang dilakukan oleh Prudential Indonesia adalah contoh baik untuk memotivasi seluruh pihak untuk ikut menyalakan semangat anak-anak dalam mengenyam pendidikan yang berkualitas. Saya percaya kolaborasi ini berperan dalam membangun SDM unggul, menuju Indonesia maju,” ujar Nila.