Kabar pembangunan

Bappenas: Pembangunan Infrastruktur Dorong Pemulihan Ekonomi Jateng dan DIY

Kompas.com - 21/10/2020, 17:02 WIB
Untuk mendorong pemulihan ekonomi dan sosial di Jateng dan DIY di masa pandemi, berbagai langkah dilakukan, salah satunya dengan pengembangan infrastruktur. (Dok. Bappenas). Untuk mendorong pemulihan ekonomi dan sosial di Jateng dan DIY di masa pandemi, berbagai langkah dilakukan, salah satunya dengan pengembangan infrastruktur.

KOMPAS.com - Pengembangan akses infrastruktur pendukung tidak hanya berdampak positif pada sektor pariwisata, tetapi juga berperan penting untuk mendorong pemulihan ekonomi dan reformasi sosial.

Sebagai contoh, pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo, Yogyakarta. Pengembangan akses infrastruktur ini bisa mendorong pemulihan ekonomi dan reformasi sosial di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan, pembangunan YIA termasuk salah satu pembangunan tercepat di Tanah Air.

“Ini menunjukkan bahwa kita bisa melakukan pembangunan infrastruktur di tempat-tempat lain dengan kecepatan seperti ini dengan kualitas pekerjaan yang juga bagus,” kata Suharso dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10/2020).

Adapun pembangunan YIA terbagi atas tiga tahap. Pada tahap pertama atau opening stage 2019, bandara YIA melayani 9 juta penumpang dengan pengembangan hingga 14 juta penumpang per tahun.

Sementara itu, tahap kedua pada 2027 mendatang, lalu lintas YIA telah mencapai 14 juta per tahun. Pengembangan YIA bahkan diprediksi mampu melayani 20 juta penumpang.

Pada ketiga di 2036 dengan lalu lintas 20 juta penumpang, kapasitas YIA akan ditingkatkan untuk melayani 25 juta penumpang.

Lebih lanjut, Suharso menjelaskan, YIA menjadi titik kumpul untuk logistik di bagian selatan karena di daerah selatan Jawa memerlukan aktivitas penerbangan.

“Kalau produk-produk di sini punya orientasi ekspor yang harus cepat ditangani tidak melalui kapal misalnya, bandara ini bisa mengambil logistik itu,” terangnya.

Dengan demikian, imbuh dia, YIA punya implikasi untuk membangun ekonomi. Bahkan, pariwisata ke depan sudah tidak lagi dalam bentuk mass tourism.

“Turisme massal itu akan berkurang, lebih kepada quality tourism, sifatnya rombongan kecil. YIA adalah salah satu bandara yang dipersiapkan untuk itu,” ucapnya.

Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang

Selain YIA di Yogyakarta, Suharso juga menyoroti pembangunan Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang di Jawa Tengah.

Pembangunan KIT Batang dinilai memiliki beberapa keunggulan. Salah satunya lokasi yang strategis karena terletak dekat dengan Tol Trans Jawa dan hanya berjarak 50 kilometer (km) dari Bandara Ahmad Yani Semarang.

Sementara itu, dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang, jarak tempuh ke KIT Batang hanya 65 (km).

Suharso menekankan, rencana pembangunan KIT Batang harus prospektif, tidak menggunakan pendekatan broad-spectrum atau broad-based yang terlalu melebar.

KIT Batang harus dibangun sesuai konsep awal, yaitu kawasan industri dengan elemen pendukung atau supporting areas. seperti kawasan residensial di luar area agar berfungsi sebagai pengganda ekonomi.

Supporting-nya itu kalau mau dihidupkan jangan di KIT Batang, supporting-nya mestinya di luar sehingga orang di luar punya akses, itu yang disebut angka pengganda ekonomi,” terangnya.

Ia menambahkan, dengan kehadiran KIT Batang, residential business dan bisnis properti bisa ikut tumbuh.

“Tapi kalau mau dibangun tempat tinggal karyawan terbatas, ya betul, di dalam KIT Batang. Jangan sampai KIT Batang bersaing dengan otoritas daerah yang membangun zonasi kota,” tegasnya.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Batang juga berencana membangun kawasan yang berbatasan langsung dengan Pantai Utara Jawa dengan transit oriented development.

Fungsi dan peran KIT Batang harus dirancang dengan baik agar mendatangkan investasi untuk menciptakan lapangan kerja. Dengan demikian masyarakat memiliki penghasilan dan daya beli.