Advertorial

Ini Pesan Kemenpora kepada Pemuda Indonesia dalam Menghadapi Bonus Demografi

Kompas.com - 28/10/2020, 10:41 WIB

KOMPAS.com – Dalam menghadapi bonus demografi beberapa tahun mendatang, pemuda Indonesia dituntut lebih kreatif, inovatif, mandiri, berdaya saing, dan berjiwa kewirausahaan. Poin-poin ini bisa menjadi potensi untuk mempercepat pembangunan bangsa.

Harapan itu disampaikan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Zainudin Amali saat memberikan sambutan pada Dialog Nasional Pemuda secara virtual di Situation Room Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, Senin (26/10/2020).

Dalam kegiatan yang menjadi rangkaian Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-92 dengan tema “Merajut Momentum dan Asa Pemuda Menciptakan Perubahan di Indonesia” tersebut, Menpora RI mengatakan bahwa tidak banyak negara di dunia yang mendapatkan bonus demografi.

“Kami berpandangan bahwa dengan membangun pemuda sekarang sama halnya mempersiapkan dan membangun bangsa ke depan,” tuturnya dalam rilis resmi yang Kompas.com terima, Selasa (27/10/2020).

Sebagai informasi, acara tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), serta Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).

Selain pesan yang dipaparkan, secara khusus, Menpora juga mengajak pemuda Indonesia menjadi pelopor berbagai perubahan positif dan menjadi pemimpin bangsa di berbagai sisi kehidupan.

“Pemuda harus disiapkan dengan baik. Tantangan ke depan, jika pemuda Indonesia tidak kreatif, tidak inovatif, tidak memiliki kemandirian, tidak memiliki daya saing, dan tidak berjiwa wirausaha, akan tergilas dengan persaingan yang luar biasa di dalam dan luar negeri,” pesan Zainudin.

Kemenpora sadar bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini dan masa depan akan semakin sempit, sedangkan peminatnya semakin banyak.

Untuk itu, Kemenpora mendorong para pemuda untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan sehingga usai lulus dari bangku sekolah dan perguruan tinggi, mereka bisa menjadi job creator.

“Semoga dengan sinergi dan kerja sama kementerian dan lembaga tingkat pusat serta peran yang signifikan pemerintah daerah, pembangunan pemuda yang tangguh, kompetitif, dan berdaya saing bisa segera terwujud,” harap Menpora.

Zainudin melanjutkan, urusan kepemudaan bukan urusan Kemenpora semata, melainkan menjadi tanggung jawab bersama karena berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia dan cara membangun masa depan bangsa.

Sementara itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyambut baik dan mendukung penuh upaya penguatan sinergi lintas pemuda melalui dokumen kepemudaan.

Menurutnya, pemuda adalah aktor potensial dan sangat berkontribusi dalam pembangunan nasional.

"Pembangunan pemuda merupakan agenda strategis dalam menyiapkan pemuda yang tangguh, yang mampu berperan dalam pembangunan bangsa dan memanfaatkan peluang demografi," katanya.

Menurut data Badan Pusat Statistik pada 2019, jumlah pemuda Indonesia yang berusia 15-30 tahun berjumlah 64,19 juta jiwa atau 25,02 persen dari total penduduk Indonesia.

Sebagai generasi penerus bangsa, pemuda Indonesia harus memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter kuat, dan jiwa patriotisme yang terus menyala.

"Keberhasilan pembangunan pemuda menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam memanfaatkan momentum bonus demografi yang akan dihadapi bangsa. Ambil contoh Jepang dan China. Dahulu, dua negara ini pernah mengalami bonus demografi dan berhasil memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya," kata Menko PMK Muhadjir Effendy.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau