Advertorial

Inovasi Bisnis Pertamina untuk Perluas Layanan Energi kepada Masyarakat

Kompas.com - 30/10/2020, 14:31 WIB

KOMPAS.com – PT Pertamina Persero (Pertamina) terus mengembangkan inovasi bisnis untuk memperluas dan memperkuat pelayanan energi kepada masyarakat dengan 4 program utama.

Keempat program tersebut, yakni layanan pesan antar yang mencakup Pertamina Delivery Service (PDS) dan Pertamina Lubricant Home Service (PLHS), program Pertamina Shop (Pertashop), program BBM satu harga, dan program Digitalisasi SPBU.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, sebagai badan usaha di sektor hilir migas dan implementasi tugas BUMN untuk melayani energi negeri, Pertamina terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dengan melakukan inovasi model bisnis secara berkelanjutan.

Dari keempat program tersebut, kata Fajriyah, terdapat dua program penugasan untuk menjangkau masyarakat hingga pedesaan serta wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T). Kemudian, dua program lainnya merupakan tugas untuk memperkuat dan memudahkan pelayanan pelanggan.

Di era pandemi Covid 19, lanjutnya, Pertamina terus memperkuat layanan PDS yang hadir sejak Agustus 2019. Saat ini, PDS telah menjangkau 5.930 kecamatan, melayani penjualan BBM di 234 SPBU, dan penjualan Bright Gas di 576 agen LPG.

"Layanan (PDS) meningkat tajam sejak kebijakan pembatasan sosial berskala besar di berbagai wilayah. Kami ingin selalu memberikan layanan terbaik dengan mengantarkan kebutuhan BBM dan Bright Gas langsung ke rumah pelanggan serta layanan antar khusus Pelumas yang bekerja sama dengan bengkel,” ujarnya dalam rilis yang diterima Kompas.com, Jumat (30/10/2020).

Fajriyah menuturkan, untuk mendekatkan akses layanan produk kepada pelanggan, Pertamina juga terus menambah jumlah outlet BBM, LPG, dan pelumas melalui program Pertashop.

Berdasarkan data Pertamina hingga minggu ke-3 Oktober 2020, jumlah Pertashop yang statusnya siap dan sudah beroperasi mencapai 786 outlet yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

“Pembangunan Pertashop akan terus berlanjut sampai seluruh kecamatan yang belum memiliki lembaga penyalur BBM dan LPG kecamatan terwujud,” kata Fajriyah.

Pertamina, imbuhnya, akan memprioritaskan lembaga desa dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang memenuhi kriteria untuk menjadi pengelola Pertashop. Hal ini sejalan dengan program Pertamina One Village One Outlet sehingga nantinya pemerintahan desa bisa memiliki pusat ekonomi baru.

Kemudian, Pertamina juga tetap melanjutkan program BBM Satu Harga sebagai upaya memperluas jangkauan distribusi BBM hingga wilayah 3T. Sebagai informasi, terdapat 21 titik program BBM Satu Harga yang telah dibangun sepanjang 2020.

Adapun ke-21 titik itu tersebar di Sulawesi Tengah (2 titik), Sulawesi Selatan (2 titik), Kalimantan Barat (1 titik), Maluku & Maluku Utara (3 titik), Kalimantan Selatan (2 titik), Sumatera Utara (1 titik), Sumatera Selatan (3 titik), Lampung (3 titik), Nusa Tenggara Barat (1 titik), dan Papua (3 titik).

Sementara itu, hingga saat ini terdapat 62 titik program BBM Satu Harga yang sedang dalam proses pembangunan.

“Di tengah kondisi pandemi Covid 19, terdapat beberapa kendala dan keterbatasan dalam proses pembangunan. Namun, kami senantiasa optimistis dapat menuntaskan pembangunan BBM Satu Harga sehingga target sebanyak 83 titik dapat tercapai pada akhir 2020,”ujarnya.

Lebih lanjut, Pertamina menargetkan pembangunan BBM Satu Harga mencapai 500 titik yang tersebar di seluruh Indonesia pada 2024 sesuai dengan road map. Target ini merupakan wujud nyata dari komitmen Pertamina untuk membantu pemerintah dalam mewujudkan energi berkeadilan.

Selain itu, menurut Fajriyah, dalam rangka menjalankan peran dan penugasan untuk menyalurkan BBM jenis subsidi, Pertamina juga mengupayakan program digitalisasi SPBU terus berlanjut. Data terbaru Pertamina menunjukkan, sebanyak 100 persen atau 5.518 SPBU telah memasuki proses integrasi.

“Data yang masuk dalam sistem dashboard SPBU sudah mencapai 5.179 SPBU atau sekitar 95 persen dan sudah mulai bisa dimonitor. Kami optimistis di akhir tahun ini seluruh SPBU sudah terdigitalisasi” papar Fajriyah.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau