Advertorial

Dorong Ekonomi Mikro, BRI Berdayakan Pelaku UMKM dan Desa BRILian

Kompas.com - 31/10/2020, 02:12 WIB
Ilustrasi investasi UMKM Indonesia. (DOK. SHUTTERSTOCK) Ilustrasi investasi UMKM Indonesia. (DOK. SHUTTERSTOCK)

KOMPAS.com – Selain fokus menyalurkan dana stimulus pemulihan ekonomi nasional, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk pada saat yang bersamaan juga melakukan pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) secara komprehensif serta terukur.

Pemberdayaan pelaku usaha tersebut menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan potensi dan kapasitas pelaku UMKM di Indonesia. Hal ini mengingat segmen UMKM memiliki kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan.

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, perseroan saat ini fokus pada pemberdayaan UMKM yang konsepnya terintegrasi dengan seluruh kementerian dan lembaga.

“Konsep pemberdayaan kami komprehensif dan terukur, serta dapat dimonitor dengan baik,” ujar Supari dalam rilis resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (30/10/2020).

Program pemberdayaan UMKM yang dijalankan BRI, lanjutnya, memiliki tiga fase, yakni fase dasar, integrasi, dan interkoneksi.

Pada fase dasar, BRI melakukan mapping UMKM dengan sistem self-assessment naik kelas menggunakan indikator yang sudah difasilitasi oleh BRI.

Selanjutnya, fase integrasi. BRI mengintegrasikan sistem serta database dengan kementerian dan lembaga terkait sehingga dapat digunakan menjadi data center UMKM.

Terakhir, BRI melakukan integrasi antara sistem dan database yang dimiliki perseroan, kementerian, dan lembaga terkait. Selain itu, BRI juga melakukan integrasi koneksi dengan instansi eksternal yang terkait perizinan, sertifikasi halal, dan UMKM ekspor.

“Konkretnya, kami mencoba menghitung kembali aktivitas ekonomi pada level grass root. Bagaimana kami bisa menghubungkan pedagang dengan pembeli. Pasalnya, banyak usaha tutup dan tidak ada aktivitas karena penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB),” ujar Supari.

Dalam pemberdayaan UMKM, BRI memberikan literasi dasar, bisnis, dan digital secara berjenjang sesuai dengan level entrepreneurship­-nya, yakni unfeasible-unbankable, feasible-unbankable, dan feasible-bankable.

Literasi dasar mencakup dua hal. Pertama, inklusi keuangan yang mencakup pengenalan produk dan jasa perbankan. Kedua, manajemen keuangan dasar yang melingkupi akuntansi sederhana.

Kemudian, literasi bisnis berupa peningkatan kapasitas manajerial, legalitas atau kepatuhan, budaya inovasi, pemahaman industri dan pasar, kepemimpinan, pola pikir jangka panjang, serta skala usaha.

Terakhir, ada kelas literasi digital yang bertujuan membantu UMKM go modern, go digital, go online, dan go global.

“Untuk pemberdayaan ini, BRI melibatkan 176 expertise dan 104 mentor tersertifikasi dari kementerian dan asosiasi. Mengenai progress pemberdayaan UMKM, BRI pun telah menyelenggarakan 1.043 pelatihan yang diikuti sebanyak lebih dari 24.000 peserta,” kata Supari.

Desa BRILian

Selain membantu UMKM, BRI juga ingin mengembangkan desa-desa di Indonesia dengan program Desa BRILian. Saat ini, BRI telah menggandeng Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) untuk menjalankan program tersebut.

“Kami akan bangun desa-desa yang suatu ketika mereka tidak butuh dana desa, yang kepala desanya visioner, dan bisa menghidupi desanya sendiri,” papar Supari.

BRI menilai, para pelaku UMKM di sektor pertanian dan peternakan di wilayah perdesaan menyimpan potensi yang bisa terus didorong agar dapat berkembang.

Supari merasakan potensi tersebut saat ia melakukan kunjungan ke sebuah desa di Kediri, Jawa Timur. Mata pencaharian mayoritas di desa yang ia kunjungi adalah peternak sapi. Banyak dari peternak sapi ini yang menghasilkan susu dan telah bekerja sama dengan perusahaan skala besar.

Dana KUR

Di lain sisi, terkait dukungan pembiayaan, BRI telah menyalurkan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada lebih dari 3,3 juta debitur dengan plafon sebesar Rp 90,10 triliun hingga September 2020.

Adapun penyaluran kredit atas penempatan dana pemerintah (PMK No 70) sebesar Rp 10 triliun. BRI juga telah berkomitmen mengeskalasi jumlah tersebut tiga kali lipat menjadi Rp 30,1 triliun per 7 Agustus 2020. Dana ini pun telah disalurkan kepada 695.000 debitur.

Perlu diketahui, segmen mikro menjadi penerima KUR terbesar dengan nilai Rp 21,64 triliun. Nominal tersebut diberikan kepada 679.000 debitur.

Selain itu, segmen kecil menjadi penerima kedua terbesar dengan nilai kredit 4,54 triliun dan total penerima lebih dari 14.000 debitur. Sementara untuk segmen ritel menengah nominalnya sebesar Rp 3,78 triliun dan telah diberikan kepada 1.941 debitur.

Selain penempatan deposito, BRI juga menyalurkan subsidi bunga dari pemerintah atas Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Hingga 25 September 2020, BRI memberikan subsidi bunga sebesar Rp 2,64 triliun dengan outstanding senilai Rp 270 triliun kepada 6,5 juta pemilik rekening.

Tidak hanya itu, BRI juga telah menyalurkan kredit khusus kepada segmen ultra mikro. Per Minggu (4/10/2020), menurut Supari, BRI telah memberikan kredit sebanyak Rp 2,08 triliun kepada 240.000 pelaku usaha.

Sementara itu, hingga 25 September 2020, BRI telah menyalurkan Rp 12,2 triliun bantuan produktif usaha mikro kepada 5,08 juta rekening.

Supari menilai, UMKM merupakan penopang ekonomi negara karena sektor ini mampu menanggulangi kemiskinan, mengatasi permasalahan pemerataan, dan sumber devisa masa depan.

Dalam hal penyerapan tenaga kerja, ada 61 juta pengusaha mikro dan masing-masing unit usaha tersebut menyerap 1,7 tenaga kerja.

“Mari bersama-sama membantu UMKM agar menjadi penopang perekonomian negara di masa depan,” ujarnya.