Advertorial

Hadapi Triple Shock, Pertamina Lanjutkan Proyek Strategis untuk Masa Depan Energi Nasional

Kompas.com - 01/11/2020, 15:26 WIB
Proses pengeboran di salah satu proyek strategis Pertamina (Dok. Pertamina) Proses pengeboran di salah satu proyek strategis Pertamina

KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) memastikan bahwa investasi di proyek strategis yang dijalankan pada seluruh lini bisnis tetap berjalan. Hal ini dilakukan untuk masa depan ketahanan dan kemandirian energi nasional.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, saat ini Pertamina diterpa triple shock akibat pandemi Covid-19.

Meski demikian, Pertamina tetap berkomitmen untuk menjalankan proyek strategis yang bermanfaat untuk menjaga dan meningkatkan produksi migas serta produk energi nasional pada beberapa tahun ke depan.

Salah satu proyek strategis yang masih terus berjalan, lanjut Fajriyah, adalah Jambaran-Tiung Biru yang dikelola PT Pertamina EP Cepu.

Saat ini, proyek tersebut telah melalui proses perforasi secara rigless dengan Smart Coiled Tubing Unit di Jambaran East dan pengeboran dua sumur di Jambaran Central.

“Proyek ini akan memproduksi gas dari lapangan Jambaran-Tiung Biru dengan produksi rata-rata 192 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dengan target gas onstream pada 2021,” jelas Fajriyah dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu (1/11/2020).

Fajriyah menambahkan, kegiatan di lepas pantai utara Jawa Barat yang dilakukan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) juga terus berlangsung. Saat ini, proyek pengembangan KLD ONWJ telah masuk pada tahap pengeboran sumur KLD-3.

“Proyek ini ditargetkan dapat berkontribusi dalam penambahan cadangan dan produksi pada Desember 2020,” terangnya.

Pada sektor bisnis lainnya, lanjut Fajriyah, Pertamina juga terus melanjutkan realisasi pada proyek pengembangan dan pembangunan kilang yang dikawal oleh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI)

“Salah satunya adalah proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dan Lawe-Lawe. Proyek ini merupakan salah satu proyek terbesar Pertamina dengan nilai (proyek) sebesar 6,5 miliar dollar AS,” jelasnya.

Fajriyah menambahkan, proyek tersebut akan meningkatkan kapasitas kilang, memperbaiki kualitas produk, dan menurunkan harga pokok produksi bahan bakar minyak (BBM) yang akan mendorong peningkatan devisa serta penerimaan pajak.

“Saat ini, (progres) proyek RDMP Balikpapan telah mencapai 22,26 persen per 22 Oktober 2020 dan berjalan dengan protokol kesehatan yang ketat. Di samping itu, kami pun turut mendorong program pemulihan ekonomi karena menyerap lebih dari 5.000 tenaga kerja,” imbuhnya.

Selain itu, Pertamina terus menjalankan proyek infrastruktur tangki timbun di Terminal BBM, Terminal liquid petroleum gas (LPG), dan Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) serta melakukan perawatan terhadap 280 kapal.

Langkah itu dilakukan untuk memastikan tersedianya fasilitas penyimpanan dan distribusi yang handal di masa depan.

Tak hanya berinvestasi, Pertamina memastikan pula pelaksanaan proyek pada 2020 memenuhi ketentuan penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

“Hingga semester I-2020, rata-rata TKDN Pertamina mencapai 54 persen,” kata Fajriyah.

Fajriyah menambahkan, konsistensi penguatan komponen dalam negeri yang dilakukan Pertamina dipercaya akan memperkuat industri nasional, membuka lapangan pekerjaan, dan mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk impor.

Dengan begitu, Fajriyah berharap hal tersebut bisa menggerakkan roda perekonomian nasional.

“Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) migas, Pertamina tetap menjalankan bisnis dan proyek sesuai arahan pemerintah melalui Kementerian BUMN dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),” terangnya.

Pertamina, lanjut Fajriyah, terus mengupayakan masa depan energi dan menggerakkan perekonomian nasional dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dalam negeri.