Advertorial

Akselerasi Transformasi Digital, BRI Alokasikan Capex hingga 4 Persen dari Total Pendapatan

Kompas.com - 02/11/2020, 11:27 WIB
Aplikasi CERIA jadi salah satu produk digital dari BRI. (Dok.BRI) Aplikasi CERIA jadi salah satu produk digital dari BRI.

KOMPAS.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengalokasikan hingga 4 persen dari total pendapatan perusahaan untuk belanja modal dalam rangka akselerasi transformasi digital, termasuk di dalamnya membangun kapabilitas financial technology (fintech).

Sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia, BRI membangun ekosistem digital sebagai bagian dari transformasi digital agar perusahaan tetap unggul dan memberikan inovasi layanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Hal ini seiring perubahan perilaku nasabah di era disrupsi teknologi pada masa pandemi Covid-19 saat ini.

Direktur Digital, Teknologi Informasi, dan Operasi Indra Utoyo, mengatakan perusahaan terus melakukan inovasi-inovasi dengan membangun ekosistem digital dalam rangka transformasi. BRI menerapkan dua strategi inisiatif dan inovasi, yakni digitize dan digital.

Melalui digitize, BRI mengeksploitasi dari bisnis yang ada dengan memanfaatkan teknologi supaya lebih efisien dan produktif. Adapun strategi digital, terkait menciptakan produk dengan fokus pada customer centric, inovasi, dan customer experience yang lebih baik.

“Secara garis besar, kami menyiapkan sekitar 3 hingga 4 persen dari total revenue BRI untuk melakukan transformasi digital. Di dalamnya, termasuk membangun kapabilitas fintech,” ujar Indra dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (2/11/2020).

Perkembangan industri digital telah membuat banyak perilaku nasabah ikut berubah. Hal ini juga terjadi pada industri finansial di Tanah Air. Dalam dua tahun terakhir, telah banyak perkembangan di lini e-money, peer to peer lending (P2P), dan lain sebagainya.

“Sebagai bank, tentu kami tidak boleh berhenti berinovasi. Justru, (dengan) mempercepat transformasi digital akan dapat memberikan dampak positif bagi nasabah ke depannya. Dengan transformasi digital, BRI bertekad melayani masyarakat sebanyak-banyaknya dengan biaya seefisien mungkin,” lanjut Indra.

Karena hal tersebut, BRI menjajaki masuk ke industri fintech, baik melalui cara kerja sama dengan perusahaan fintech ternama, seperti Investree dan LinkAja. Ataupun membangun kapabilitas fintech secara internal seperti BRIAPI, Pinang, dan Ceria.

Pengembangan kapabilitas fintech juga dilakukan BRI pada anak perusahaan, yakni BRI Ventures. Saat ini, BRI menyiapkan dana hingga Rp 1,5 triliun untuk melakukan investasi ke fintech melalui BRI Ventures.

Melalui kerja sama dengan fintech dan membangun kapabilitas digital, BRI berharap pada 2022 mayoritas transaksi nasabah dapat bergeser dari konvensional ke digital.

Tren pergeseran nasabah ke digital tersebut sudah terlihat sejak pandemi Covid-19, yakni terjadi percepatan transaksi melalui berbagai saluran digital. Sebagai contoh, periode Januari-Maret 2020, tercatat transaksi internet banking BRI melonjak 61 persen dan transaksi melalui mesin electronic data captured (EDC) naik 21 persen.

Dengan layanan digital, BRI mampu mencatat efektivitas dalam pengajuan dan penyaluran kredit. Dalam hal ini, nasabah yang tadinya membutuhkan waktu dua pekan, kini menjadi lebih singkat yakni hanya dua menit. BRI sudah menerapkan proses yang fully digital, salah satunya menggunakan biometri.

Pada masa pandemi saat ini, menurut Indra, BRI juga mengoptimalkan pengembangan BRIBrain sebagai upaya BRI membantu pemulihan ekonomi masyarakat.

BRIBrain merupakan terobosan teknologi digital yang dimiliki BRI, yakni platform yang menyimpan, memproses, dan mengkonsolidasikan informasi dari berbagai aliran data. Platform ini menjadi otak bagi BRI untuk mengambil keputusan dalam bentuk BRIScore dengan tepat dan presisi.

“Dengan terobosan ini, BRI dapat meluncurkan produk-produk digital baru yang telah disempurnakan dan menjadi produk digital terdepan di segmennya. Saat ini, BRIBrain dimanfaatkan untuk semua produk digital lending BRI di antaranya Pinang, Ceria, dan KUR e-commerce,” kata Indra.