Advertorial

Jokowi: Semangat Sumpah Pemuda Harus Terus Menyala dan Membawa Energi Positif

Kompas.com - 30/10/2020, 20:14 WIB
Kepala Negara berpandangan bahwa bersatu dan bekerja sama adalah kunci untuk mencapai Indonesia Maju. (DOK. BPMI) Kepala Negara berpandangan bahwa bersatu dan bekerja sama adalah kunci untuk mencapai Indonesia Maju. (DOK. BPMI)

KOMPAS.com – Peristiwa Sumpah Pemuda yang terjadi 92 tahun lalu, tepatnya pada 28 Oktober 1928, merupakan sebuah peristiwa penting dan bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Pada saat itu, para pemuda dari seluruh penjuru Nusantara menyisihkan berbagai perbedaan di antara mereka, baik suku, agama, maupun bahasa daerah, untuk bersumpah menjadi Indonesia yang satu tanah air, bangsa, dan bahasa.

Ungkapan tersebut disampaikan oleh Presiden Joko Widodo secara virtual dalam sebuah video yang ditayangkan pada kanal YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (28/10/2020).

Presiden Joko Widodo juga mengatakan, semangat Sumpah Pemuda harus tetap ada pada saat ini untuk menghadapi dunia yang berubah dengan cepat dan penuh dengan persaingan.

"Kini, 92 tahun telah berlalu. Semangat Sumpah Pemuda harus terus menyala menghadapi dunia yang berubah dengan cepat," ujar Presiden. 

Dalam arus besar globalisasi, lanjut Jokowi, persaingan yang sengit antarnegara dan antarindividu kerap terjadi. Tidak jarang, kompetisi itu berujung pada upaya saling mengalahkan dan saling menghancurkan. Hal tersebut justru menimbulkan energi negatif yang merugikan.

“Sumpah Pemuda justru membawa energi positif yang menyatukan. Persaingan dan perbedaan tidak harus membuat kita melupakan adanya masalah-masalah bersama, kepentingan-kepentingan bersama, maupun tujuan-tujuan bersama,” jelasnya.

Jokowi berpandangan, bersatu dan bekerja sama adalah kunci untuk mencapai Indonesia Maju.

Untuk itu, upaya-upaya untuk menjaga persatuan harus terus dilakukan. Menurutnya, menjadi Indonesia tidak cukup hanya dengan menjadi bagian dari wilayah Indonesia. 

“Kita harus bekerja sama merawat keindonesiaan. Keindonesiaan harus selalu dijaga dengan semangat solidaritas dan rasa persaudaraan. Kita harus saling membantu satu sama lain dalam semangat solidaritas. Tidak ada Jawa, tidak ada Sumatera, tidak ada Sulawesi, tidak ada Papua. Yang ada adalah saudara sebangsa dan setanah air," tegasnya.

Persatuan, imbuh Presiden, harus terus diperjuangkan dengan menghargai perbedaan, menjaga toleransi, serta menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk mewujudkan Indonesia yang satu, seluruh komponen bangsa harus bekerja sama membangun Indonesia secara adil dan merata, lalu membangun Indonesia sentris dimulai dari pinggiran, desa, pulau terdepan, hingga perbatasan. 

"Kita juga membangun infrastruktur yang memudahkan konektivitas antarwilayah dan antarpulau untuk mempersatukan Indonesia. Dengan pembangunan yang merata dan berkeadilan, maka seluruh masyarakat di berbagai wilayah merasa menjadi bagian dari Indonesia, merasa memiliki Indonesia, serta ikut berkontribusi untuk memajukan Indonesia," paparnya.

Resmikan stasiun TVRI di Papua Barat

Menurutnya, salah satu sarana untuk mengetahui wajah Indonesia dan berbagai perkembangan yang terjadi di Indonesia dan dunia adalah melalui televisi.

“(Dengan televisi), apa yang terjadi di Papua dapat diketahui oleh masyarakat di Jawa, Sumatera, dan sebagainya. Sebaliknya, apa yang terjadi di berbagai wilayah Tanah Air juga dapat diketahui oleh masyarakat di Papua,”  jelas Jokowi.

Untuk menegaskan keseriusan komitmen menjaga persatuan dan pemerataan akses informasi, pada momen Sumpah Pemuda tersebut, Presiden Joko Widodo juga meresmikan stasiun ke-30 TVRI di Papua Barat.

Stasiun ini akan melayani masyarakat Papua dan menyediakan berbagai informasi berkualitas sehingga masyarakat Papua mendapatkan akses informasi yang sama dengan masyarakat di wilayah Indonesia lainnya.

"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya resmikan stasiun TVRI di Papua Barat. Teruslah bekerja menjadi media pemersatu bangsa," ujarnya.