Advertorial

Berkenalan dengan Pahlawan Kesehatan Indonesia, Profesor Sri Rezeki Hadinegoro

Kompas.com - 10/11/2020, 21:45 WIB
Profesor Dr Sri Rezeki Hadinegoro dari Indonesia in Technical Advisory Group in Immunization (ITAGI) dan Profesor Kusnadi Rusmil, Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad menjadi pembicara dalam dialog produktif bertema Berjuang Tanpa Lelah Menyiapkan Vaksin di Jakarta, Selasa, (10/10/2020). (DOK. KEMKOMINFO) Profesor Dr Sri Rezeki Hadinegoro dari Indonesia in Technical Advisory Group in Immunization (ITAGI) dan Profesor Kusnadi Rusmil, Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad menjadi pembicara dalam dialog produktif bertema Berjuang Tanpa Lelah Menyiapkan Vaksin di Jakarta, Selasa, (10/10/2020). (DOK. KEMKOMINFO)

KOMPAS.com – Saat ini, Indonesia masih berjuang untuk dapat memproduksi vaksin Covid-19 secara mandiri. Di balik upaya tersebut, ada orang-orang yang memiliki andil besar. Salah seorang dari mereka adalah Profesor Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro.

Perempuan kelahiran Solo, 3 Mei 1946, ini mulai akrab dengan vaksin sejak dia bergelut dengan penyakit infeksi pada anak-anak. Bagi Sri, kesehatan anak adalah ilmu tersulit dalam kedokteran.

“Alasannya sederhana, bayi dan anak-anak sulit untuk ditanya sehingga dokter punya tantangan tersendiri dalam memberikan diagnosis,” ujarnya dalam Dialog Produktif bertema Berjuang Tanpa Lelah Menyiapkan Vaksin yang digelar di Media Center Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Selasa (10/11/2020).

Berangkat dari minat yang digelutinya, Sri pun berpikir bahwa imunisasi perlu dilakukan lebih masif untuk mencegah anak-anak terjangkit penyakit infeksi.

Seiring waktu berjalan, Sri kemudian bertugas di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan semakin banyak bergelut dengan penyakit infeksi pada anak-anak.

Perjalanan Sri dalam memperjuangkan imunisasi semakin matang setelah dirinya didapuk sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi di Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan menjadi Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) sampai saat ini.

Sejak awal, Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak di Universitas Indonesia (UI) ini menyadari bahwa permasalahan kesehatan anak-anak Indonesia cukup besar.

“Kesadaran tentang betapa pentingnya vaksin semakin terpupuk setelah saya pindah tugas ke Jakarta dan merintis program Karang Balita yang di kemudian hari bertransformasi menjadi Pos Pelayanan Keluarga Berencana - Kesehatan Terpadu (Posyandu),” jelasnya dalam rilis yang diterima Kompas.com.

Bagi Sri, vaksinasi atau imunisasi merupakan standar kesejahteraan sebuah negara. Cakupan vaksinasi yang luas memberi gambaran kemajuan sebuah negara, baik secara ekonomi maupun sosial.

"Jadi, kalau mau melihat standar sejahtera suatu negara, imunisasi adalah salah satu indikatornya," kata Sri.

Dalam upaya pencegahan penyakit, Sri menyebutkan dua aspek dasar yang harus dipenuhi oleh negara, yaitu air bersih yang merata dan imunisasi. Bila dua hal ini bisa disediakan dengan baik, 70 persen masalah kesehatan anak terkait infeksi dapat diatasi.

Sebagai informasi, Sri dilantik sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran UI (FKUI) pada 2010. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung, dan lulus pada 1972.

Kemudian, Sri melanjutkan program spesialis di FKUI dengan spesialisasi ilmu kesehatan anak hingga 1983.

Setelah itu, gelar doktor ilmu kesehatan anak didapatnya dari UI pada 1996. Selain itu, Sri juga sempat menempuh pendidikan tambahan di Jepang.