Advertorial

FTP Unwar Gelar Kompetisi Bambu Internasional

Kompas.com - 13/11/2020, 09:46 WIB

KOMPAS.com - Prodi Arsitektur Fakultas Teknik dan Perencanaan (FTP) Universitas Warmadewa (Unwar) menggelar kompetisi internasional “2020 Guangdong-Hongkong-Macao Greater Bay Area and Asean International Colleges and Universities Construction Competition Preliminary Contest” secara online, Rabu (11/11/2020).

Mengusung tema “Waterfront Bird-Watching Platform”, kompetisi hasil kerja sama FTP Unwar dengan Asean International Collages and Universities itu diikuti 12 partisipan.

Kepala Program Studi Arsitektur FTP Unwar I Nyoman Gede Maha Putra mengatakan, bambu menjadi bahan bangunan yang popular karena mudah didapat. Sebab, bambu bisa tumbuh dimana saja terutama di daerah tropis.

“Namun, bambu memiliki beberapa kelemahan, seperti mudah rusak dan lapuk. Tak heran jika penggunaan bambu sebagai bahan bangunan mulai ditinggalkan,” kata Gede dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (12/11/2020).

Meski demikian, lanjut Gede, material bambu kembali dilirik oleh banyak orang. Tak hanya di Bali, tetapi juga di seluruh dunia.

Alhasil, pemanfaatan kembali material bambu membuka banyak peluang. Salah satunya adalah ruang kreatif.

“Kalau dulu, bambu hanya digunakan sebagai rumah tinggal. Saat ini, bambu banyak digunakan untuk restoran, villa, dan bangunan mewah lainnya. Bambu bisa dikatakan telah naik kelas dan mulai mendapat tempat di masyarakat modern,” terang Gede.

Gede menambahkan, fenomena tersebut memunculkan kesadaran bahwa peluang untuk mengeksplorasi material ini terbuka sangat luas.

Merespons situasi tersebut, FTP Unwar menggelar lomba bambu tingkat internasional bersama Nansha Wetland Park di Tiongkok dan South China University of Technology.

“Kami menyelenggarakan lomba bambu ini untuk level Indonesia. Maka dari itu, kami mengundang mahasiswa-mahasiswa arsitektur dari seluruh Indonesia untuk ikut berkompetisi,” imbuh Gede.

Selain itu, Gede berharap, bambu dapat kembali menjadi material alternatif. Sebab, Indonesia kaya akan material tersebut.

Sementara itu, Dekan FTP Unwar mengatakan, lomba internasional ini telah memasuki gelaran kedua.

Pada gelaran sebelumnya, FTP Unwar terpilih menjadi pemenang di Tiongkok. Maka dari itu, fakultas ini dipercaya menjadi penyelenggara lomba tahun 2020.

Karena situasi pandemi Covid-19, lanjut Wayan, lomba digelar secara online. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut.

“Tak hanya sebatas lomba-lomba, kami berharap FTP Unwar mampu mengembangkan laboratorium. Dengan demikian, bahan-bahan (perlombaan) bisa disiapkan oleh kampus,” ujar Wayan.

Wayan menambahkan, kegiatan lomba ini juga sesuai dengan visi Unwar, yakni, berwawasan ekowisata. Dengan demikian, visi “Go Global 2034” yang diusung Unwar dapat tercapai.

Pada lomba tersebut, Universitas Teknologi Yogyakarta dan Universitas Tanjungpura berhasil meraih juara pertama. Sementara, juara kedua diraih Universitas Udayana (Unud) dan Alauddin State Islamic University Of Makassar. Lalu, juara ketiga diraih Universitas Pandanaran, Universitas Petra Christian, Universitas Tanjungpura, dan Universitas Merdeka Malang.

Sebagai informasi, karya juara pertama akan dibangun di Nansha Wetland Park di Tiongkok.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau