Advertorial

Gandeng PLN, Pertamina Bangun Pusat Riset Energi Indonesia Energy and Electricity Institute

Kompas.com - 13/11/2020, 21:24 WIB
Pertamina bersama PLN bersinergi membangun pusat riset energi Indonesia Energy and Electricity Institute (IEEI) (Dok. Pertamina) Pertamina bersama PLN bersinergi membangun pusat riset energi Indonesia Energy and Electricity Institute (IEEI) (Dok. Pertamina)

KOMPAS.com – Pertamina bersama Perusahaan Listrik Negara (PLN) bersinergi membangun pusat riset energi Indonesia Energy and Electricity Institute (IEEI) untuk membangun ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional.

Sinergi tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pembentukan IEEI oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini yang disaksikan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) I Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Jumat (13/11/2020).

Nantinya, IEEI akan menjadi pusat riset tren teknologi dan perkembangan energi. Selain itu, IEEI akan digunakan sebagai pusat database untuk kegiatan riset serta kajian di bidang kebijakan dengan memperhatikan sumber daya alam Indonesia.

IEEI juga akan berperan aktif dalam advokasi di bidang energi dari perspektif Indonesia dalam penyusunan regulasi di level nasional hingga global.

Wakil Menteri BUMN I Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pembentukan IEEI merupakan wujud sinergi antar-BUMN di Indonesia dalam hal joint research. Kerja sama ini menjadi joint research pertama di Indonesia dalam sektor energi dan ketenagalistrikan.

"IEEI diharapkan dapat menjadi national thought leader dan regional thought leader yang dapat menjadi basis dan rujukan riset-riset di sektor energi dan ketenagalistrikan dalam hal technical research, policy research, dan menjadi Global Platform Energy,” ujar Budi dalam rilis yang diterima Kompas.com, Jumat.

Menurut Budi, riset-riset tentang energi dibutuhkan karena energi memberikan dampak yang sangat besar dalam peradaban manusia. Selain itu, transisi energi juga akan memberikan dampak yang masif untuk manusia.

“Dalam transisi ini, tentunya ada negara atau perusahaan yang survive dan kalah. Harapan saya, Pertamina dan PLN menjadi perusahaan yang survive dalam transisi energi ini,” imbuh Budi.

Budi berharap, Pertamina dan PLN dapat melaksanakan studi bersama serta mempertajam organisasi yang dibentuk dengan memperhatikan isu-isu terkini di era transisi, transformasi, serta digitalisasi energi.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, IEEI diharapkan dapat memberikan lebih banyak pemikiran untuk transisi energi di masa depan.

“Pandemi Covid-19 telah mengakselerasi transisi energi global sedemikian cepatnya sehingga Pertamina dan PLN sebagai garda terdepan dalam energi harus bergerak bersama untuk menjawab tantangan ini. Demi mencapai availability, accessibility, affordability, acceptability, dan sustainability untuk memenuhi kedaulatan energi nasional,” papar Nicke.

Menurut Nicke, pembangunan pusat riset tersebut merupakan tindak lanjut atas kerja sama Pertamina dan PLN yang selama ini telah berlangsung dengan baik.

Kerja sama itu pun dilakukan demi kemandirian dan ketahanan energi nasional serta keberhasilan transisi dan transformasi energi. Tujuannya, agar Indonesia menjadi kekuatan ekonomi yang kokoh dan maju.

Pasalnya, kata Nicke, Pertamina dan PLN adalah penggerak roda besar perekonomian Indonesia. Karena itulah, Pertamina dan PLN akan merambah bidang riset dan teknologi. Apalagi, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi terbatas dalam hal teknologi.

Nicke berharap, IEEI juga bisa menjawab tantangan di dalam negeri terkait kondisi energi yang memerlukan kerja sama dan pemikiran menyeluruh dari semua pihak.

“Diharapkan IEEI ini dapat memberikan advokasi untuk pemerintahan Indonesia dan ke depannya dapat menjadi advokasi di dunia internasional,” katanya.

Lebih lanjut, Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini menegaskan bahwa pembentukan IEEI merupakan terobosan strategis bagi PLN dan Pertamina.

Menurut Zulkifli, IEEI dapat berkontribusi dalam pengembangan sektor kelistrikan dan energi di Indonesia sebagai salah satu langkah dalam menjaga ketahanan energi.

 “IEEI diharapkan dapat menjadi lembaga think tank yang menghasilkan report dan penelitian yang dapat memberikan kontribusi luas bagi pengembangan sektor listrik dan energi di Indonesia,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Chairman Indonesian Institute Energy Economics Prof Subroto mengatakan, semua pihak yang terkait dalam pengelolaan energi harus bekerja secara inklusif, tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, ia berharap IEEI dapat merangkul semua pihak untuk dapat bersinergi.

“Kita harus bergotong royong dalam pengelolaan energi ini,” ujar Subroto.

Untuk diketahui, tim kerja IEEI akan menyiapkan peta jalan dan rencana program kerja 10 tahun ke depan, termasuk penyusunan outlook energi yang dapat menjadi quick wins untuk kedua perusahaan. Adapun kegiatan-kegiatan IEEI itu direncanakan aktif di tingkat nasional maupun internasional.

IEEI sendiri akan diisi oleh orang-orang ahli di bidang energi dan ketenagalistrikan di antaranya Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial, dan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Kacaribu.

Ada pula Penasihat Khusus Menko Bidang Kebijakan Inovasi dan Daya Saing Industri Prof Dr Satryo S Brodjonegoro, Prof Kuntoro Mangkusubroto, Dr Widhyawan Prawiraatmadja, dan Dr Hardiv Situmeang.