Advertorial

Sudah Kembali Dibuka, Begini Rekomendasi Destinasi dan Tip Berlibur Nyaman dari Harival Zayuka

Kompas.com - 16/11/2020, 13:17 WIB
Festival Traveler Indonesia Episode 3: Wisata di Bali Saat Pandemi yang disiarkan langsung di Instagram Kompas.com, Rabu (11/11/2020). Festival Traveler Indonesia Episode 3: Wisata di Bali Saat Pandemi yang disiarkan langsung di Instagram Kompas.com, Rabu (11/11/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com – Pariwisata Bali sempat mati suri karena pandemi Covid-19. Destinasi wisata harus ditutup sementara untuk meminimalisasi penularan virus corona.

Seiring waktu berjalan, pariwisata Bali mulai bangkit. Terutama setelah program We Love Bali diluncurkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Kamis (15/10/2020).

Lewat program itu, Kemenparekraf melakukan edukasi dan kampanye penerapan protokol kesehatan berbasis Cleanliness, Health, Safety, dan Environmental Sustainability (CHSE).

Adapun, protokol CHSE secara umum mengacu pada protokol kesehatan yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan dan dipadu dengan konsep pembangunan kepariwisataan berkelanjutan.

Diberitakan Kompas, Jumat (15/10/2020), konsep Cleanliness merujuk pada keadaan bebas kotoran, termasuk virus dan bakteri. Konsep Health mengacu pada penerapan aturan kesehatan yang melingkupi pencegahan, perawatan, pemantauan, dan pengendalian.

Kemudian konsep Safety mencakup faktor keamanan yang terwujud melalui keadaan bebas risiko, bahaya, pencemaran, ancaman, dan gangguan permanen maupun nonpermanen.

Terakhir konsep Environmental Sustainability. Konsep ini mencakup zero waste management dan strategi penciptaan wisata berkelanjutan.

Kebangkitan pariwisata Bali dirasakan oleh travel blogger Harival Zayuka. Pria asal Sumatera Barat ini sudah cukup lama tinggal di Bali, sekitar 4 tahun, sehingga mengetahui perubahan pariwisata di Bali.

“(Saat ini) Bali sudah siap menerima wisata domestik. Hampir semua tempat wisata di Bali sudah dibuka,” kata Harival dalam acara Festival Traveler Indonesia Episode 3: Wisata di Bali Saat Pandemi yang disiarkan langsung di Instagram Kompas.com, Rabu (11/11/2020).

Menurut Harival, kebangkitan ini berkat penerapan sistem protokol kesehatan yang semakin mudah dan sederhana tanpa mengurangi keketatannya.

Pada awal pembukaan kembali penerbangan di Bali, Juli 2020, kata Harival, pelancong yang ingin berkunjung ke Bali harus melalui tahapan administrasi yang cukup rumit.

Pelancong harus melampirkan hasil rapid test atau swab test yang menyatakan nonreaktif atau negatif. Kemudian, wisatawan harus mengisi formulir trackingcontact/perjalanan di situs web Indonesia Health Alert Card (eHAC).

Wisatawan juga diwajibkan mengisi pernyataan untuk bisa traveling ke Bali di situs web milik Pemerintah Provinsi Bali.

“Lumayan ribet waktu itu. Ada beberapa form yang harus kita isi. Tapi, sekarang sudah simpel banget. Cuma dicek hasil rapid test yang menyatakan nonreaktif dan screening (di bandara),” imbuh Herival.

Protokol CHSE di Bali

Ilustrasi penerapan protokol CHSE di hotel. (Dok. Shutterstock) Ilustrasi penerapan protokol CHSE di hotel.

Meski proses administrasi dibuat lebih simpel, bukan berarti protokol kesehatan tidak diterapkan secara ketat di Bali.

Harival menjelaskan, seluruh stakeholder pariwisata di Bali, baik pemerintah, pelaku bisnis wisata, dan masyarakat, menjalankan protokol kesehatan secara disiplin.

Misalnya, saat ia staycation di salah satu resor di Bali. Harival bercerita, pengelola resor tersebut memperhatikan dengan detail protokol kesehatan.

“Sebelum masuk lobi, harus memakai masker dengan benar, check in harus jaga jarak, cuci tangan, dan di kamarnya pun sudah disediakan hand sanitizer. Tiga resor tempat aku staycation semuanya sangat memperhatikan protokol kesehatan,” ceritanya.

Para karyawan hotel di Bali, kata dia, juga menerapkan protokol kesehatan. Mereka juga dites, baik rapid test maupun swab, tiap 14 hari sekali.

Hal serupa juga diberlakukan oleh pengelola tempat wisata. Selain protokol kesehatan, mayoritas tempat wisata di Bali juga membatasi para pengunjung guna mencegah terjadinya kerumunan.

Pemerintah di Bali pun sangat ketat menjalankan protokol kesehatan. Di pintu-pintu masuk ke Bali, petugas melakukan pemeriksaan.

“Baru minggu kemarin aku backpacking ke Lombok menggunakan jalur darat. Saat di pelabuhan penyeberangan, baik pergi maupun pulang, harus menunjukkan hasil rapid test nonreaktif,” jelas pemilik akun Instagram @harivalzayuka itu.

Petugas keamanan, baik dari polisi maupun pecalang, juga mengawasi penerapan protokol kesehatan. Masyarakat yang tidak memakai masker pun ditindak tegas dengan denda.

Masyarakat Bali, kata Harival, sangat patuh menjalani protokol kesehatan. Bahkan, kepatuhan ini ditunjukkan sejak awal-awal pandemi masuk ke Indonesia.

“Itu aku salutnya dengan masyarakat Bali. Awal-awal pandemi, perayaan Nyepi bahkan diperpanjang hingga tiga hari (untuk menekan penyebaran Covid-19). Mereka sangat patuh,” ujarnya lagi.

Rekomendasi wisata di Bali selama pandemi

Pantai Kelingking, Nusa Penida (dok. Shutterstock/ Guitar photographer) Pantai Kelingking, Nusa Penida

Harival bercerita, hanya beberapa tempat wisata di Bali yang masih ditutup, seperti Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK) dan pertunjukan Tari Kecak di Pura Uluwatu yang masih belum bisa diselenggarakan.

Meski demikian, kata Harival, wisatawan masih bisa mengeksplorasi destinasi di Bali, misalnya wisata alam, yang sudah dibuka.

Harival merekomendasikan tiga wisata pantai yang harus dikunjungi ketika sedang berwisata ke Bali. Dua di antaranya terletak di daerah Nusa Penida, yakni Pantai Kelingking dan Pantai Diamond.

Sebagai informasi, daerah yang berada di selatan Pulau Bali ini memiliki pantai dengan pasir putih yang indah.

Bagi seseorang yang memiliki hobi diving, pantai di Nusa Penida merupakan surga karena banyak memiliki dive spot yang indah dengan ekosistem karang dan serta ikan yang beragam.

Kedua pantai ini memiliki kesamaan. Selain air laut yang biru dan pasirnya yang putih, letaknya yang berada di balik tebing membuat pantai tersebut memiliki keindahan tersendiri.

Selanjutnya, Herival merekomendasikan Pantai Kubu yang terletak di daerah Jimbaran. Tak jauh berbeda dengan kedua pantai sebelumnya, pantai yang sedang ramai di media sosial ini juga bisa dinikmati dari atas tebing.

“Di sosial media, pantai Kubu ini sedang ramai dibicarakan. Aku rasa, pantai ini akan menjadi pantai favorit bagi traveller. Terlebih, pemandangan dan suasana di sini mirip dengan Pantai Mbawana yang ada di Sumba,” ujar Harival.

Akan Tetapi, karena Pantai Kubu merupakan private beach, para wisatawan harus terlebih dahulu menjadi tamu penginapan di salah satu resor yang menjadikan pantai ini sebagai fasilitas wisata.

Selain pantai, para wisatawan juga dapat menikmati wisata alam lainnya. Harival menyarankan untuk mencoba paragliding atau paralayang yang ada di Nusa Dua.

Wisata ini cocok untuk seseorang yang suka memacu adrenalin, terlebih wisatawan juga dapat menikmati pemandangan Nusa Dua dari atas langit.

Wisata air di Bali tak hanya berbentuk pantai. Terdapat beberapa air terjun yang juga bisa dinikmati oleh wisatawan. Salah satunya adalah Air Terjun Nungnung yang dianggap sebagai surga tersembunyi.

Untuk menuju ke Air Terjun Nungnung ini, sebaiknya wisatawan dalam keadaan kondisi fisik yang prima. Untuk sampai ke sana, wisatawan harus melewati jalan terjal dan melewati banyak anak tangga.

Wisata kuliner

Ilustrasi kuliner Nasi Campur Bali. (Dok. Shutterstock) Ilustrasi kuliner Nasi Campur Bali.

Selain punya panorama alam yang indah, Bali juga kaya akan berbagai kuliner menggugah selera. Bahkan, hampir semua tempat makan atau kafe di sana menawarkan keduanya.

Untuk kuliner autentik khas Pulau Dewata, Harival merekomendasikan Warung Nasi Campur Bu Oki yang terletak di Uluwatu dan Jimbaran.

Nasi campur merupakan makanan khas Bali yang tidak boleh dilewatkan. Pada tampilannya, makanan tersebut seakan sudah menunjukan keragamanan cita rasa khas Bali.

Dalam satu porsi nasi campur, biasanya terdapat ayam suwir, lawar buncis, ikan, kacang panjang, kacang goreng, kerupuk, sate lilit dan sambal matah.

Opsi lainnya, yaitu Nasi Ayam Betutu Liku yang berada di Jalan Nakula. Ayam betutu juga merupakan kuliner khas pulau Dewata.

Dimasak dengan cara dipanggang dalam api sekam, ayam betutu adalah kuliner mengambarkan peralihan citarasa dari makanan manis di Jawa, ke makanan pedas di Timur. Selain itu, wisatawan juga bisa mencoba Nasi Ayam Kedewatan yang terletak di Denpasar.

Bagi para pecinta kopi, Kintamani menjadi tempat yang paling disarankan untuk dikunjungi. Kafe yang berada di daerah ini juga menyuguhkan pemandangan indah.

“Gerai kopi di daerah ini memberikan pengalaman luar biasa karena memberikan keindahan pemandangan Gunung Agung dan Gunung Batur kepada wisatawan,” kata Harival.

Kurang lengkap rasanya jika berwisata tanpa membawa pulang cenderamata khas setempat. Untuk keperluan ini, usai menikmati kuliner, Harival pun menyarankan mencari oleh-oleh di Pasar Seni Sukawati.

“Ada banyak pilihan oleh-oleh dijual di sini, mulai dari kerajinan tangan, pakaian, kain, hingga makanan,” imbuhnya.

Tips liburan di masa pandemi

Ilustrasi wisatawan bersepeda sambil memakai masker di Bali (Dok. Shutterstock) Ilustrasi wisatawan bersepeda sambil memakai masker di Bali

Pada kesempatan tersebut, Harival juga membagikan tips bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Bali untuk liburan akhir tahun.

Harival menyarankan untuk melakukan pemesanan tiket dan akomodasi mulai dari sekarang secara online.

“Untuk rapid test, lebih baik dilakukan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain untuk menghindari kerumunan di bandara,” katanya.

Selain tiket dan akomodasi penginapan, Harival juga menyarankan, para wisatawan untuk menyiapkan agenda liburan selama di Bali sebelum berlibur.

“Baiknya, bagi yang ingin berlibur agar membuat list mengenai kegiatan yang akan dilakukan sejak sebelum berangkat. Hal ini untuk menghindari kebingungan dan lebih menghemat waktu,” jelasnya.

Wisatawan, katanya, juga harus mempersiapkan kondisi fisik dengan rajin berolahraga juga sangat disarankan, mengingat untuk menikmati wisata alam di Bali dibutuhkan kondisi tubuh yang prima. Selain itu, cara tersebut dapat memperkuat imun agar terhindar dari penularan virus corona maupun penyakit lainnya.

Hand sanitizer harus selalu di kantong, memakai masker, membawa obat-obatan, dan harus menjaga jarak saat mengunjungi obyek wisata,” imbuhnya.

Pengalaman Harival bisa jadi referensi buat kamu yang ingin berlibur ke Bali. Bila masih bingung membuat list liburan, kamu bisa klik tautan ini untuk mendapatkan ide wisata menarik di Bali.