Advertorial

Akibat WFH Tubuh Jadi Gampang Lelah, Begini Cara Mengatasinya

Kompas.com - 20/11/2020, 07:46 WIB

KOMPAS.com – Lebih kurang sudah tujuh bulan imbauan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) dijalankan oleh sebagian masyarakat. Hal ini menyusul kebijakan pemerintah untuk tetap berada di rumah guna menghindari penyebaran virus corona.

Meski mendapatkan keleluasaan yang lebih banyak saat bekerja di rumah, nyatanya kegiatan ini menguras lebih banyak energi. Banyak orang yang berpendapat kalau WFH membuatnya jadi cepat lelah. Mengapa demikian?

Perlu diketahui, tubuh manusia diatur oleh ritme sirkadian atau jam biologis 24 jam mulai dari bangun sampai tidur kembali.

Ritme tersebut terbentuk secara alami berdasarkan rutinitas yang biasa dilakukan, seperti terpapar sinar matahari, makan, dan bekerja. Ketika manusia terus berada di dalam ruangan dalam waktu lama, jam biologis tersebut pun menjadi kacau.

Saat ini, bekerja dari rumah membuat batasan waktu kerja dan kehidupan pribadi menjadi tidak teratur. Inilah yang mengakibatkan sebagian orang merasa waktu kerjanya menjadi lebih panjang. Kondisi ini akhirnya memengaruhi kerja tubuh dan energi menjadi cepat terkuras.

Selain itu, selama WFH banyak orang yang bekerja di atas tempat tidur. Meski nyaman, tetapi situasi ini malah akan membuat otak menjadi bingung dan mengasosiasikan tempat tidur sebagai tempat untuk bekerja. Akibatnya, rutinitas tidur malam menjadi terganggu.

Selain lelah fisik, bekerja dari rumah dalam waktu yang lama juga bisa memengaruhi mental seseorang. Menurut psikolog ternama asal Amerika Serikat dr Susan Albers, PsyD, banyak orang tertekan secara mental selama WFH karena terus-menerus menatap layar.

“Kerap juga kita melakukan meeting atau konferensi secara virtual. Dengan begini, otak harus bekerja lebih keras untuk menguraikan komunikasi nonverbal di layar,” jelas dr Susan seperti diberitakan Kompas.com, Senin (3/8/2020).

Multivitamin Forneuro. (DOK. FORNEURO) Multivitamin Forneuro.

Konsumsi multivitamin

Pada dasarnya, banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan cepat lelah akibat WFH. Pertama, kamu bisa membuat jadwal khusus yang memisahkan waktu bekerja dengan waktu istirahat.

Misalnya, disiplin dengan waktu bekerja yang dimulai dari pukul delapan pagi sampai lima sore dengan satu jam istirahat. Dengan demikian, kamu jadi mengetahui batasan waktu dalam bekerja dan memaksimalkan waktu yang ada untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

Cara selanjutnya, kamu bisa melakukan peregangan otot di sela-sela bekerja agar badan menjadi lebih rileks dan santai. Selain itu, aktivitas peregangan ini juga bisa mengistirahatkan otak sementara waktu sehingga pikiran menjadi lebih jernih dan segar.

Untuk menjaga kebugaran tubuh lebih maksimal, kamu juga bisa mengonsumsi multivitamin agar bebas dari lelah. Multivitamin yang dikonsumsi pun harus memiliki vitamin dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti yang terkandung dalam Forneuro.

Sebagai informasi, Forneuro mengandung vitamin B kompleks, vitamin E, dan asam folat yang dapat membantu mengontrol serta menjaga kadar homosistein dalam darah.

Selain itu, sumber vitamin E yang terkandung di dalamnya pun terbuat dari bahan alami sehingga aman untuk dikonsumsi kapan saja, baik pagi, siang, atau malam. Kendati demikian, dosis yang dianjurkan untuk mengonsumsi multivitamin Forneuro adalah satu kali sehari.

Dengan cara membuat jadwal harian, peregangan di sela-sela bekerja, dan megonsumsi multivitamin, permasalahan cepat lelah saat WFH pun bisa diatasi. Dengan begitu, tubuh menjadi lebih bugar dan pekerjaan dapat selesai tepat waktu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau