Advertorial

Eijkman Institute: Pengembangan Vaksin Merah Putih Menunjukkan Kedaulatan Nasional

Kompas.com - 20/11/2020, 08:02 WIB

KOMPAS.com – Pemerintah Indonesia terus berusaha mempersiapkan Vaksin Merah Putih dengan mengumpulkan tenaga dan sumber daya manusia (SDM) yang ada. Salah satu yang ikut berkontribusi adalah Eijkman Institute. 

Lembaga riset yang fokus pada penelitian penyakit tropik dunia ini turut membantu pemerintah untuk mengembangkan Vaksin Merah Putih. Proses pembuatan vaksin secara mandiri diperlukan agar Indonesia dapat keluar dari situasi pandemi secara mandiri sehingga mencapai kedaulatan nasional.

Hal tersebut dikatakan oleh Deputi Fundamental Research Eijkman Institute Prof Herawati Sudoyo Supolo dalam acara dialog produktif dengan tema “Vaksin dan Pembangunan Kesehatan Indonesia” di Media Center Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Rabu (18/11/2020).

“Pengembangan Vaksin Merah Putih bukan hanya untuk kemandirian dalam produksi vaksin Covid-19, tetapi juga soal kedaulatan nasional. (Karenanya) proses pembuatan vaksin juga dilakukan dengan cepat, namun tetap memperhatikan aspek keamanan dan keampuhannya,” ujar Herawati.

Dalam diskusi itu, Herawati memang menegaskan bahwa Vaksin Merah Putih akan memberikan Indonesia kedaulatan nasional. Karenanya, sekalipun pengembangan vaksin memerlukan proses yang kompleks, berbagai pihak harus ikut berkolaborasi dan berkontribusi. 

“Saat ini, kami menggunakan metode paling efisien dengan percepatan. Tidak melakukan satu per satu, tapi paralel. Ini kunci melakukannya dengan cepat. Proses ini tidak dapat berdiri sendiri, semuanya harus berkolaborasi,” ujar Herawati.

Herawati menambahkan, proses pengembangan vaksin yang saat ini sedang dilakukan Eijkman Institute bersama dengan industri terkait murni bertujuan agar masyarakat Indonesia mendapatkan vaksin yang aman, ampuh, dan juga cepat. Jika sudah ada kontribusi dan kolaborasi dari banyak pihak, apalagi ditambah dengan penggunaan teknologi terbaru, hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil.

“Sekarang ini, eranya biologi molekul. Era pandemi Covid-19 berbeda dengan era pandemi flu. Jadi, bisa mendeteksi virus dengan pendekatan yang terbarukan, aman buat tenaga laboratorium, dan memberikan data yang akurat kepada pemerintah,” ujar Herawati.

Selanjutnya, ia juga menjabarkan teknologi yang dapat digunakan untuk pengembangan vaksin secara aman. Khusus hal ini, ia berbagi bahwa Eijkman Institute memiliki laboratorium khusus yang bernama Biological Safety Laboratory Level3(BSL3).

Dengan BSL3, para peneliti, dan tenaga laboratorium dapat melakukan studi tentang virus Corona dengan aman. Fasilitas ini mutlak diperlukan untuk penelitian patogen berbahaya yang baru muncul. Sebagai informasi, laboratorium yang dimiliki Eijkman Institute telah digunakan sejak wabah Avian Flu sampai Covid-19.

Ia menambahkan, meski bukan lembaga pembuat vaksin, Eijkman Institute telah memiliki pengalaman untuk meneliti berbagai macam virus dan penyakit. Herawati percaya bahwa Eijkman Institute mampu melakukan penelitian terhadap pengembangan Vaksin Merah Putih.

“(Eijkman) mengalami sejarah cukup panjang dan banyak hasil penelitian (yang dilakukan Eijkman) berhasil ditranslasikan untuk kesejahteraan umat manusia. Salah satunya dalam penelitian dan pengembangan vaksin,” ujar Herawati.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau