Advertorial

10 Tahun Menjabat, Risma Gagas Permakanan dan Perbanyak Bedah Rumah

Kompas.com - 20/11/2020, 10:43 WIB
- -

KOMPAS.com - Program kesejahteraan sosial masyarakat selalu menjadi program prioritas di masa kepemimpinan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Selama 10 tahun memimpin Kota Pahlawan, wanita yang akrab dengan panggilan Risma ini telah menggagas permakanan hingga memperbanyak rehabilitasi rumah tidak layak huni (rutilahu) atau bedah rumah. Ia tidak ingin ada satu pun warganya yang kelaparan dan tidak memiliki tempat tinggal.

Seiring berjalannya waktu, program pemberian permakanan, bedah rumah, hingga pelayanan di lingkungan pondok sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) terus mengalami perkembangan.

Adapun program permakanan muncul saat Risma menemui orang terlantar dengan kondisi kelaparan hingga meninggal dunia. Meski orang terlantar itu bukan warga Surabaya, ia merasa iba dan berinisiatif membuat program tersebut.

“Aku ndak mau ada orang Surabaya yang meninggal karena kelaparan,” kata Risma dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (19/11/2020).

Awalnya, program yang digagas sejak tahun ini hanya diberikan kepada lansia miskin atau para orang tua. Lansia menjadi target utama karena kebanyakan mereka tinggal sendiri.

Program permakanan terus berjalan hingga penerima bantuan makanan bertambah, mulai dari anak yatim piatu hingga penyandang disabilitas.

“Kegiatan permakanan merupakan pemberian makan kepada masyarakat Surabaya yang termasuk penyandang PMKS,” imbuh Risma.

Pada pelaksanaan program tersebut, Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya bekerja sama dengan kelompok masyarakat, yakni Karang Wreda untuk lansia, panti asuhan untuk anak, dan Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) untuk penyandang disabilitas.

“Makanan akan disediakan oleh para pelaksana dan dikirimkan melalui kurir kepada para penerima manfaat permakanan satu kali setiap harinya,” ujar Risma.

Dinsos Surabaya mencatat, sebanyak 30.865 orang telah menerima manfaat permakanan sejak 2013 hingga 2019. Adapun rinciannya adalah 18.779 lansia, 5.750 anak, dan 6.336 penyandang disabilitas.

- -

“Mulai 2020, kegiatan permakanan dialihkan ke masing-masing kelurahan untuk mendekatkan ke sasaran penerima permakanan,” kata Kepala Dinsos Surabaya Suharto Wardoyo.

Selain permakanan, kata Suharto, Pemkot Surabaya juga memiliki program rutilahu atau bedah rumah. Program ini dilakukan dengan cara merenovasi rumah tidak layak huni milik warga miskin yang diusulkan oleh masyarakat kepada Pemerintah Kota (Pemkot) atau dari hasil survei oleh Dinsos Surabaya.

Sasaran program tersebut adalah warga Kota Surabaya yang berkategori masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Data tiga tahun terakhir mencatat, program ini telah menyasar ribuan orang.

Pada 2018, realisasi program ini berhasil 1.009 unit rumah. Lalu, 1.090 unit rumah pada 2019 dan 463 unit rumah pada 2020.

“Sejak digagas pada 2011, total realisasi program rutilahu telah mencapai 7.258 unit rumah,” terang Suharto.

Selama ini, Pemkot Surabaya terus berupaya meningkatkan kesejahteraan sosial warganya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan berbagai layanan di beberapa lingkungan pondok sosial.

Di Surabaya, orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), tunawisma, anak jalanan, dan anak berkebutuhan khusus (ABK) mendapat fasilitas pelayanan berupa tempat penampungan sekaligus rehabilitasi, pembinaan, serta pemberdayaan.

Mereka tersebar dan mendapat pelayanan di lima Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) yang dikelola Pemkot melalui Dinsos sesuai dengan peruntukannya.

Adapun lima Liponsos yang dikelola Pemkot Surabaya di antaranya adalah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Liponsos Keputih, UPTD Kampung Anak Negeri, UPTD Babat Jerawat, Liponsos Kalijudan , dan UPTD Griya Wreda.

Suharto mengatakan, hingga Kamis (12/11/2020) terdapat 1.050 orang yang menghuni UPTD Liponsos Keputih. Mereka terdiri dari 931 ODGJ, 49 gelandang dan pengamen, 60 lansia, 9 anak jalanan dan 1 orang terlantar. Para penghuni berasal dari berbagai daerah di dalam dan luar Jawa Timur.

“Sementara itu, ada 41 penghuni Liponsos Keputih yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Menur,” ujar Suharto.

Liponsos Keputih, lanjut Suharto, tidak hanya menjadi tempat penampungan. Para penghuni juga mendapat fasilitas pelayanan dari Pemkot Surabaya. Mulai dari pemberian kebutuhan permakanan tiga kali sehari, pemberian kebutuhan pakaian layak pakai, pengobatan secara berkala di rumah sakit jiwa bagi ODGJ, hingga pembinaan mental keagamaan.

“Mereka juga mendapat pelatihan keterampilan, kegiatan terapi musik, kesehatan jasmani melalui olahraga dan pemulangan ke daerah asalnya,” terang Suharto.

Sementara itu, di UPTD Kampung Anak Negeri, anak-anak jalanan tidak hanya diberikan ditampung dan diberikan pembinaan secara formal. Liponsos ini juga mengembangkan minat dan bakat sehingga anak-anak mampu menorehkan prestasi. Kini, UPTD tersebut dihuni 34 anak.

Kemudian, UPTD Liponsos Kalijudan tidak hanya sekadar tempat bernaung bagi anak-anak penyandang disabilitas. Liponsos ini juga menjadi wadah pengembangan kreativitas mereka.

“Liponsos Kalijudan saat ini dihuni 50 anak,” ujar Suharto.

Tak hanya UPTD yang dikhususkan bagi anak-anak, pemkot juga memiliki Griya Wreda atau tempat penampungan bagi para lansia. Griya Wreda sendiri didirikan dan diresmikan oleh Wali Kota Risma pada 2013 di Jalan Jambangan Surabaya. Sebelumnya, penampungan ini berada di Medokan Asri, Surabaya.

“Hingga November 2020, jumlah penghuni Griya Werda Jambangan mencapai 151 orang,” kata Kepala UPTD Griya Wreda Jambangan Surabaya Septati Hendartini.

Di samping UPTD Griya Wreda yang dikhususkan bagi lansia, Dinsos juga memiliki tempat rehabilitasi sosial bagi eks penyandang penyakit kusta. UPTD tersebut menampung sekitar 93 orang yang berasal dari dalam dan luar Jawa Timur.

Meski telah sembuh, eks penderita penyakit kusta sering kali ditolak saat kembali ke kampung halamannya. Karena itu, mereka tinggal dan dirawat Pemkot Surabaya di UPTD Babat Jerawat.

- -