Advertorial

Digunakan sejak 100 Tahun Lalu, Ini Manfaat Vitamin C yang Mungkin Belum Banyak Diketahui

Kompas.com - 25/11/2020, 22:27 WIB
Ilustrasi buah dengan kandungan vitamin C (Dok. Pixabay/Couleur) Ilustrasi buah dengan kandungan vitamin C (Dok. Pixabay/Couleur)

KOMPAS.com – Vitamin C merupakan salah satu zat gizi yang lazim terkandung dalam buah dan sayur segar. Beberapa waktu belakangan ini, konsumsi vitamin C semakin dianjurkan demi menjaga daya tahan tubuh selama pandemi Covid-19.

Sebenarnya, vitamin C atau asam askorbat sudah sejak lama dipercaya sebagai salah satu vitamin yang kaya akan manfaat.

Menurut pakar gizi medik dari Perhimpunan Nutrisi Indonesia Prof Dr dr Saptawati Bardosono MSc, khasiat  vitamin C telah dikenal sejak 1920-an. Saat itu, seorang ilmuwan Hungaria bernama Albert Szent-Gyo?rgyi dari Universitas Szeged memakai vitamin C untuk mencegah dan mengobati pendarahan gusi dan pendarahan di bawah kulit.

Kedua penyakit tersebut banyak diderita oleh orang-orang yang jarang mengonsumsi buah dan sayur segar. Jika tidak diobati, penderitanya bisa mengalami gangguan penyembuhan luka, anemia, dan gangguan pertumbuhan tulang.

Sejak saat itu, kegunaan dan manfaat vitamin C terus diteliti oleh para ilmuwan seiring dengan kemajuan ilmu kedokteran dan bertambahnya masalah kesehatan manusia. Contohnya, munculnya penyakit infeksi bersamaan dengan adanya penyakit kronis tidak menular, seperti penyakit jantung dan pembuluh darah.

“Sekitar 1930, ditemukan efek lain dari vitamin C, yaitu efek anti-bakteri terhadap kuman penyebab TBC dan bisa menghambat perbanyakan (replikasi) berbagai jenis virus, parasit, dan jamur,” papar Saptawati dalam rilis yang diterima Kompas.com, Senin (17/11/2020).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kemudian, penelitian juga menemukan bahwa vitamin C bertindak sebagai antioksidan saat terjadi peradangan kronis dan stres oksidatif yang mengakibatkan terjadinya kondisi kronis, seperti gangguan lambung (gastritis), gangguan pencernaan, diabetes tipe 2, obesitas, peradangan paru, penyakit saraf menahun, serta penyakit jantung dan pembuluh darah.

Efek sebagai antioksidan itu, kata Saptawati, berhubungan erat dengan sistem imun tubuh yang diatur oleh sel darah putih. Vitamin C dibutuhkan untuk proses perbanyakan sel darah putih.

“Walaupun di dalam tubuh tersedia antioksidan endogen, tetapi dalam kondisi tertentu jumlahnya tidak cukup sehingga memerlukan vitamin C dan mineral lain sebagai antioksidan eksogen,” imbuh Saptawati yang juga menjadi anggota Perhimpunan Nutrisi Indonesia.

Karena itulah, tubuh manusia memerlukan asupan vitamin C yang cukup setiap hari. Jika tidak, tubuh akan mengalami hipovitaminosis C dalam darah atau status kekurangan vitamin C.

Menurut Saptawati, kondisi tersebut bisa menyebabkan berbagai gejala klinis terkait dengan fungsi vitamin C sebagai antiskorbut, anti-mikroba, anti-peradangan, atau antioksidan, seperti  terjadinya penyakit kronis, penuaan, dan imunitas tubuh.

Dosis yang dianjurkan dan cara memenuhinya

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan untuk masyarakat Indonesia, kecukupan asupan vitamin C ditentukan berdasarkan usia dan jenis kelamin.

Untuk laki-laki berusia 16 sampai lebih dari 80 tahun membutuhkan 90 miligram (mg) per hari. Sementara itu, perempuan dalam rentang usia yang sama membutuhkan 75 mg vitamin C per hari.

“Anjurannya, vitamin C bisa dikonsumsi sebesar 200 mg atau lebih setiap harinya untuk mempertahankan kadar normalnya dalam darah,” ucap Saptawati.

Namun, untuk seseorang yang aktif berolahraga atau melakukan kegiatan fisik berat, perlu menambah asupan vitamin C sekitar 500-1.000 mg per hari agar tidak mengalami gangguan pernapasan setelah berolahraga.

Vitamin C dengan dosis lebih tinggi juga dibutuhkan untuk perokok yang sering mengonsumsi makanan tidak segar dan minuman keras. Supaya dapat terhindar dari penyakit jantung, dianjurkan untuk mengonsumsi vitamin C dengan kadar 320-1.100 mg per hari.

Saptawati menjelaskan, asupan vitamin C bisa didapatkan dari konsumsi buah dan sayur segar. Idealnya, seseorang wajib mengonsumsi buah dan sayur sebanyak tiga porsi per hari untuk mencukupi kebutuhannya.

Beberapa jenis sayur dan buah dengan kandungan vitamin C cukup tinggi di antaranya buah jeruk mengandung 70 mg vitamin C per buah, jambu biji mengandung 125 mg vitamin C per buah, pepaya sekitar 90 mg per satu mangkuk saji atau 150 gram berat buah, dan stroberi memiliki 90 mg vitamin C per satu mangkuk saji atau 150 gram berat buah.

Kemudian brokoli mengandung sekitar 80 mg vitamin C, kembang kol memiliki 50 mg vitamin C, dan bayam mengandung 8,5 mg vitamin C per 30 gram.

“Bila dirasa kurang, kita dapat memperolehnya dari makanan dan minuman yang telah mengalami proses penambahan mikronutrien dengan melihat di label kemasannya dan juga dari suplemen vitamin C,” ujarnya.

Pada intinya, kata Saptawati, vitamin C merupakan zat gizi esensial sehingga pemenuhan kecukupannya harus diperoleh dari asupan makanan sehari-hari. Oleh karena itu, konsumsi vitamin C secara terus-menerus justru dianjurkan.

Apalagi, di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) saat ini. Banyak orang sudah mulai bekerja dan beraktivitas di luar rumah sehingga tubuh memerlukan imunitas tubuh yang kuat agar dapat terhindar dari berbagai macam penyakit. Semua manfaat itu dapat diperoleh dari vitamin C.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.