Advertorial

Banpres Produktif Beri Manfaat Pelaku Usaha Mikro di Bandung

Kompas.com - 27/11/2020, 11:42 WIB

KOMPAS.com - Pemerintahan Joko Widodo - KH Ma'ruf Amin kini tengah berupaya membangkitkan perekonomian Indonesia yang sedang terpuruk akibat wabah Covid-19. Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk pemberian bantuan.

Bantuan yang diberikan pun tak sekadar menggelontorkan uang, tetapi melalui berbagai kebijakan yang memudahkan usaha, yakni melalui Bantuan Presiden (Banpres) Produktif. Hal ini dilakukan sebagai salah satu solusi untuk menjalankan kembali roda perekonomian di Indonesia.

Kini, masyarakat sudah bisa merasakan kehadiran Banpres Produktif untuk usaha mikro dari presiden, salah satunya dirasakan oleh Ade Irawan. Sehari-hari, Ade membuka usaha warung kelontong di Kampung Warung, Desa Batujajar Barat, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Ade adalah salah seorang penerima program Banpres Produktif untuk usaha mikro sebesar Rp 2,4 juta yang diberikan melalui Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM). Penyalurannya, ditransfer melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Ade mengatakan, Banpres Produktif bisa dimanfaatkan untuk menambah modal usahanya yang selama pandemi ini mengalami penurunan omzet cukup drastis.

"Bagi saya sebagai penjual sembako kecil-kecilan di kampung, bantuan ini bermanfaat dan membantu untuk kelangsungan usaha saya. Secara pribadi, saya terharu dengan kepedulian pemerintah. Karenanya saya mengucapkan terima kasih kepada bapak presiden dan Kemenkop UKM yang sudah menyalurkan bantuan ini hingga sampai ke tangan saya," ujar Ade melalui rilis tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (27/11/2020).

Menurut Ade, meskipun bantuan tersebut tidak mencukupi semua kebutuhannya, tetapi manfaat yang didapat cukup besar bagi pedagang kecil seperti dirinya.

Sementara itu, salah satu pelaku UKM yang bergerak di bidang kerajinan Supriatna berharap pandemi cepat berlalu. Dia mengaku, selama virus corona mewabah di Indonesia, usahanya mengalami kebangkrutan.

Berbagai jenis usaha yang diproduksinya pun nyaris berhenti total. Padahal, kata Supriatna, sebelum pandemi berlangsung, dirinya hampir 24 jam memproduksi barang kerajinan untuk memenuhi banyaknya permintaan. Namun, kini mesin produksinya berhenti total dan aktivitas usahanya berhenti karena tidak ada permintaan.

Adapun produksi yang digeluti Supriatna selama ini adalah kerajinan dan cenderamata atau souvenir, label garmen yang terbuat dari kulit hewan, plakat yang terbuat dari akrilik, dan sempat memproduksi masker di awal masa pandemi.

“Kini, kejayaan selama hampir dua tahun itu hanya jadi kenangan. Semua mesin yang saya punya tidak lagi memproduksi karena tidak ada permintaan (pesanan)," ujarnya mengeluh.

Oleh karena itu, dia berharap, pemerintah melalui Kemenkop UKM dapat memberikan perhatian lebih kepada para pelaku usaha seperti dirinya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau