Advertorial

Ibu Bahagia, Jaminan Baik untuk Membentuk Karakter pada Anak

Kompas.com - 30/11/2020, 07:41 WIB
K-Talk persembahan Kompas.com bersama Pusat Pendidikan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan tema 'Membangun Karakter, Tantangan Ibu Saat Belajar dariRumah'. (Dok. Kompas.com) K-Talk persembahan Kompas.com bersama Pusat Pendidikan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan tema 'Membangun Karakter, Tantangan Ibu Saat Belajar dariRumah'.

JAKARTA, KOMPAS.com – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia turut berdampak pada sistem pembelajaran anak sekolah. Pola pendidikan yang dahulu dilakukan secara tatap muka berganti metode menjadi belajar dari rumah (BDR).

Di masa-masa seperti itu, peran keluarga, utamanya ibu menjadi penting. Selain harus menemani, mereka juga harus pintar-pintar mendidik anak agar memiliki karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Hal ini dibahas dalam bincang-bincang K-Talk dengan tema ‘Membangun Karakter, Tantangan Ibu Saat Siswa Belajar dari Rumah’ yang disiarkan langsung di Instagram Kompas.com, Kamis (26/11/2020).

Mengajak artis peran sekaligus influencer Zee Zee Shahab dan Analis Pendidikan Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Sri Lestari Yuniarti, K-Talks membahas bagaimana kiat agar ibu mampu membangun karakter anak.

“Pertama, ibunya harus waras dulu. Harus happy.  Dengan begitu, seluruh anggota keluarga pasti bahagia. Ibu yang bahagia akan mampu membangun dan mendidik anak-anaknya menjadi pintar dan berkarakter,” ujar Zee Zee.

Bagi Zee Zee, ibu bahagia adalah jaminan baik untuk membentuk karakter anak. Pasalnya, ia akan berpikir logis bagaimana mendidik anaknya dengan baik.

Namun, Zee Zee mengakui, masa pandemic memberikan tantangan berat bagi ibu. Tanggung jawabnya bertambah. Sebab, ibu juga harus mampu menemani belajar dan mendidik anak sepenuhnya di rumah.

“Waktu awal-awal menemani anak BDR, (kami) stres. Lama-kelamaan, kami (orangtua) cari metode yang tepat. Yang sulit memang mengontrol anger management. Itu sulit, tapi harus bisa. Makanya, seperti tadi aku bilang kalau mau (mengontrol amarah), ibu harus waras dan bahagia dulu,” tegasnya lagi.

Setelah beradaptasi dan mencoba menerima keadaan, Zee Zee mulai memahami pola didik yang tepat bagi anaknya dan bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan bagi anak.

“Beri anak waktu untuk mendapatkan waktu istirahat, fasilitasi juga hiburan apa yang dibutuhkan. Setelah jam sekolah yang panjang jam 7 sampai jam 12, aku biasanya membolehkan anak untuk istirahat selama 30 menit. Dia boleh menonton Youtube atau main game. Itu pilihan. Habis itu baru makan siang,” ujarnya.

Untuk menanamkan nilai-nilai yang membangun karakter anak, Zee Zee pakai cara dengan mencontohkan.

“Dibanding cuma sekadar dipaksa, dilarang atau disuruh biasanya anak-anak enggak suka. Sekarang aku dan suami belajar untuk mencontohkan. Anak pasti mencontoh orangtuanya,” tambahnya.

Hal yang dipaparkan Zee Zee ditanggapi oleh Yuni. Menurut Yuni, kunci pembangunan karakter yang diutarakan oleh Zee Zee bahwa ibu harus bahagia sudah tepat.

“Benar sekali, ibu harus sehat, waras, dan bahagia. Penting juga untuk ibu bekerja sama dengan ayah. Sebab, urusan mendidik dan membangun karakter bukan hanya urusan sendiri,” ujarnya.

Membangun karakter anak, menurut Yuni, masuk dalam visi keluarga. Karenanya, keluarga sebagai ekosistem juga harus dibentuk untuk mendukung.

“Ilmu parenting itu adalah pekerjaan bersama. Jadi mesti bareng-bareng dari mulai setting goal, sampai proses mewujudkannya,” sambungnya.

Karenanya, saat sebuah keluarga mempunyai mimpi, Yuni berharap itu bukan hanya milik ayah dan ibu, melainkan juga ada mimpi anak-anak.

“Kalau punya mimpi keluarga, libatkan anak-anak. Cari tahu apa mimpi mereka, dan jadikan sebagai mimpi keluarga yang bisa diwujudkan bersama,”ujarnya.

Tantangan menemani anak belajar di rumah

Lebih jauh mengenai tantangan menemani anak BDR juga diungkapkan Yuni. Wajar menurutnya kalau Zee Zee sampai bilang bahwa mengontrol amarah adalah hal sulit.

Dari survei Kemendikbud yang dilakukan selama masa pandemi, pihaknya mendapati bahwa keterampilan menguasai pedagogi masih jadi hambatan bagi orangtua.

“(Di rumah) saya dan suami kurang (pengetahuannya) di bidang eksakta, sedangkan anak-anak punya kebutuhan untuk bertanya itu sebagai bahan pembelajaran. Akhirnya, saya coba hubungkan mereka dengan teman-teman atau kerabat (saya) yang lebih paham,” ujarnya.

Ia juga tak segan untuk mengajak anak belajar bersama agar sama-sama dapat memahami suatu hal. Lagi pula, saat ini ada banyak ruang belajar virtual yang bisa dijadikan sebagai pendukung,

“Pandemi ini memang membuat ruang gerak kami (orangtua) terbatas, tapi (pandemi) membuat kami (sebagai orangtua) menjadi lebih baik dan all out untuk mendidik anak. Kami jadi benar-benar merasa punya tanggung jawab untuk menumbuhkan karakter anak dan bikin mereka jadi anak-anak yang lebih hebat lagi,” sambung Zee Zee.

Menanggapi hal itu, Yuni ikut memberi semangat pada seluruh ibu untuk selalu semangat mendidik anak.

“Selalu ada hikmah pada setiap peristiwa, saya yakin betul. Jadi, ibu-ibu jangan sampai drop (semangatnya). Sebab, ibu adalah tokoh sentral untuk mewujudkan mimpi keluarga,” ujar Yuni lagi.