Advertorial

Ninja Xpress Ajak Masyarakat Membuat Usaha Baru di Halaman Rumah

Kompas.com - 03/12/2020, 18:39 WIB
Chief Marketing Officer Ninja Xpress Andi Djoewarsa (Dok. Ninja Xpress) Chief Marketing Officer Ninja Xpress Andi Djoewarsa (Dok. Ninja Xpress)

KOMPAS.com -  Pandemi Covid-19 yang melanda dunia membawa banyak perubahan di berbagai sektor, termasuk ekonomi. Bahkan, Indonesia dinyatakan memasuki masa resesi pada kuarta III-2020. 

Meski demikian, kebiasaan masyarakat yang lebih banyak berdiam diri di rumah justru meningkatkan kecenderungan belanja online

Saat rapat bersama Panja Pemulihan Pariwisata Komisi X DPR pada Juli 2020, pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengatakan bahwa aktivitas belanja online meningkat sampai 400 persen selama pandemi. 

Temuan itu diperkuat dengan hasil riset McKinsey yang menyatakan bahwa belanja online menjadi alternatif utama yang banyak dipilih masyarakat selama enam hingga tujuh bulan terakhir. Pada riset ini, 92 persen responden mencoba metode belanja baru, 57 persen berbelanja secara online, dan 48 persen menggunakan layanan grocery pick up maupun aplikasi pengiriman. 

Chief Marketing Officer Ninja Xpress Andi Djoewarsa mengatakan, tren belanja online ini dapat membantu para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) agar dapat tetap bertahan dalam situasi pandemi. 

“Hal ini pun membuka peluang bisnis baru bagi masyarakat yang membutuhkan penghasilan tambahan maupun yang dirumahkan dari tempat kerjanya,” kata Andi dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (3/12/2020). 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Memulai usaha baru, lanjut Andi, dapat memberikan pendapatan lebih pada masa sulit akibat pandemi Covid-19. 

“Mungkin terdengar susah untuk dijalankan pada awalnya, namun berbisnis sangat mungkin untuk dilakukan dari rumah dan dengan modal yang tidak terlalu besar,” ujar Andi. 

Andi menambahkan, memulai bisnis menjadi lebih mudah dengan kehadiran panduan atau tutorial di internet. Masyarakat dapat menemukan berbagai panduan, mulai dari cara menjalankan bisnis hingga membuat kerajinan yang dapat dijual. 

“Contohnya, produk yang sedang digemari saat ini adalah tie-dye fashion,” imbuh Andi. 

Motif tie-dye didapatkan dari metode pewarnaan yang melibatkan teknik melipat, memutar, melipit, dan meremas kain, yang kemudian diikat menggunakan tali atau karet gelang. Lewat metode itu, tercipta perpaduan warna dan bentuk mencuri perhatian. 

Motif tersebut sempat menjadi salah satu tren mode terbesar pada era 1990-an. Corak khas ini pun hadir kembali sejak mewarnai koleksi berbagai rumah mode mewah pada beberapa musim terakhir, seperti Dior, Gucci, dan Balenciaga. 

Sejumlah selebriti papan atas Indonesia hingga Hollywood juga terlihat memakai motif tie-dye. Sebut saja Prilly Latuconsina, Zaskia Adya Mecca, Aurel Hermansyah, Jennifer Lopez, Kaia Gerber, Hailey Bieber, dan Emily Ratajkowski. 

Tren tersebut semakin naik daun di kalangan masyarakat luas berkat label lokal maupun pengrajin UMKM yang ikut mengadaptasi corak tersebut di produk mereka. 

Maraknya tren tie-dye pun didukung dengan penjelasan ilmiah dari psikolog perilaku sekaligus penulis buku The Psychology of Fashion, Dr Carolyn Mair. 

“Selain nuansa nostalgia yang baik untuk kesehatan mental, mengenakan (motif) tie-dye menunjukkan bahwa kita ingin berbaur sekaligus tampil menonjol. Ini adalah aspek mendasar manusia,” kata Carolyn dilansir dari laman The Oprah Magazine, Kamis (30/7/2020). 

Program Belajar Ragam Usaha Baru (BERGURU) yang diselenggarakan Ninja Xpress (Dok. Ninja Xpress) Program Belajar Ragam Usaha Baru (BERGURU) yang diselenggarakan Ninja Xpress (Dok. Ninja Xpress)

Andi menambahkan, minat tinggi masyarakat terhadap motif tie-dye ditunjukkan dari hasil pencarian di Google yang meningkat pesat selama beberapa bulan terakhir, terutama di wilayah Bali, Yogyakarta, Jawa Tengah, Lampung, dan Banten. 

“Menilik tren ini, menjual busana serta aksesoris bermotif tie-dye (dapat) menjadi salah satu bisnis rumahan dengan prospek menggiurkan,” jelas Andi. 

Proses pembuatan tie-dye, lanjut Andi, terbilang mudah dan turut melestarikan lingkungan. Sebab, pembuatan produk tersebut dapat memanfaatkan pakaian atau sarung bantal yang sudah tidak terpakai lagi dan di-upcycle menjadi seperti baru dengan corak tie-dye

Berbagi inspirasi, dorong UMKM 

Pelaku UMKM sekaligus pemilik label KUSUMA Diah Kusumawardani dapat menjadi contoh nyata bahwa mendapat penghasilan lebih setelah pandemi bukan hal yang mustahil. 

“Berawal dari hobi, kini saya bisa mendapatkan keuntungan Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per bulan dengan berjualan berbagai produk tie-dye,” imbuh Diah. 

Mengusung misi untuk membantu para pelaku UMKM selama pandemi Covid-19 dan menghadapi new normal, Ninja Xpress dan Diah membagikan cara membuat motif tie-dye bentuk spiral di rumah melalui serial video Belajar Ragam Usaha Baru (BERGURU) yang tersedia di kanal YouTube Ninjaxpressid


Selain berbagi ilmu BERGURU yang tayang setiap minggu, Ninja Xpress juga melakukan sejumlah program inisiatif lainnya seperti Ninja Academy (OASIS Online). 

Program tersebut wujud nyata dari kampanye #ObsesiUntukNegeri yang merupakan komitmen Ninja Xpress dalam mendukung dan membantu UMKM serta brand lokal untuk terus berkembang. Melalui program ini, Ninja Xpress memberikan pelatihan online kepada mereka yang berada di dalam ekosistemnya. 

Selain itu, ada pula program Ninja Creative Hub yang menjadi tempat para pelaku UMKM dan brand lokal untuk meningkatkan kemampuannya sehingga bisa berkembang.

Kemudian, Ninja Xpress juga tengah mengadakan Program AKSILERASI yang diikuti 20 UKM dari berbagai industri, mulai dari pakaian, kebutuhan anak, hingga perlengkapan rumah. 

Pada program yang berlangsung selama 22 September - 22 Desember 2020 ini, Ninja Xpress menghadirkan 12 mentor yang telah malang melintang di berbagai industri tanah air untuk mengisi kelas online, workshop, dan daily coaching

“Program ini bertujuan untuk mempercepat perkembangan kapasitas dan kapabilitas UKM agar dapat bersaing di pasar digital, menghadapi berbagai tantangan bisnis, serta beradaptasi dengan dinamika pasar yang terus berubah sejak pandemi melanda,” ujar Andi. 

Saat ini, lanjut Andi, Ninja Xpress tengah mematangkan program AKSILERASI untuk batch selanjutnya. 

“Program AKSILERASI batch pertama ini (dapat) menjadi tolok ukur keberhasilan yang harus diraih oleh UKM di luar sana agar bisa naik kelas dan go digital, terutama di tengah situasi yang penuh ketidakpastian seperti saat ini. 

Andi menambahkan, Ninja Xpress akan berkomitmen untuk membantu UKM di Indonesia melalui berbagai program yang dimilikinya.