Advertorial

Tantangan Transformasi Digital bagi UMKM dan Solusi untuk Mengatasinya

Kompas.com - 15/12/2020, 10:17 WIB
Ilustrasi transformasi digital pelaku UMKM. (DOK. SHUTTERCSTOCK) Ilustrasi transformasi digital pelaku UMKM.

JAKARTA, KOMPAS.com – Bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), masa pandemi Covid-19 telah mendisrupsi operasional usaha. Mereka pun dituntut untuk melakukan transformasi digital karena penjualan secara tatap muka berkurang akibat kebijakan pembatasan fisik.

Selain itu, transformasi digital memang harus dilakukan agar tak tertinggal zaman. Pasalnya, digitalisasi juga punya banyak keuntungan.

Pelaku usaha kini bisa memasarkan produknya lebih luas dengan bantuan teknologi. Mereka bisa menjual produknya ke seluruh Indonesia dan bahkan ke penjuru dunia.

Meski membantu memperluas peluang bisnis, nyatanya melakukan transformasi digital bukan perkara mudah bagi pelaku UMKM. Mereka harus menghadapi beragam tantangan yang bisa menghambat digitalisasi usahanya.

Lalu, tantangan apa saja yang biasanya menjadi penghalang? Kemudian, dari tantangan itu, solusi apa yang bisa dilakukan? Untuk mengetahui jawabannya, simak ulasan berikut.

  1. Pengetahuan teknologi masih rendah

Tantangan pertama yang sering menghambat pelaku UMKM go digital adalah terbatasnya kemampuan dan pengetahuan mereka dalam memanfaatkan teknologi serta platform digital.

Pelaku UMKM umumnya belum mengetahui cara mengunduh aplikasi untuk berjualan, mengunggah informasi dan foto terkait produk mereka di situs e-commerce, serta memaksimalkan ragam fitur yang dihadirkan situs online.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pelaku usaha harus belajar secara bertahap. Proses belajar ini bisa dilakukan mulai dari bergabung dengan komunitas UMKM, mencari mentor, hingga mengikuti ragam kelas online atau webinar.

  1. Menentukan platform digital

Saat melakukan transformasi digital, sering kali pelaku usaha kebingungan terhadap platform mana yang harus mereka manfaatkan guna menjangkau konsumen lebih luas.

Namun, sebelum menentukan platform digital yang digunakan, pelaku usaha harus terlebih dahulu menentukan target konsumennya. Hal ini kerap disebut mencari persona (profiling persona) yang tepat untuk disasar.

Dengan adanya persona, pelaku usaha bisa mengetahui berbagai informasi mengenai target market, mulai dari gender, usia, lokasi, kebiasaan, hingga penghasilan mereka. Informasi ini bisa membantu UMKM menentukan platform digital yang hendak digunakan, seperti email, telepon, blog, atau media sosial.

  1. Strategi pemasaran digital

Strategi pemasaran digital atau digital marketing juga jadi salah satu tantangan yang harus dihadapi UMKM dalam perjalanan transformasinya.

Sebenarnya, bila pelaku usaha sudah memiliki pengetahuan lebih terhadap teknologi dan telah menentukan platform digital yang digunakan sesuai persona konsumennya, mereka akan lebih mudah menentukan strategi pemasaran.

Chief Marketing Omni Communication Assistant (OCA) Indonesia Tiffany Krisnandya mengatakan, pada dasarnya segala bentuk pemasaran digital erat hubungannya dengan komunikasi.

“Semua bisnis memerlukan komunikasi. Oleh karena itu, pelaku UMKM harus bisa memaksimalkan strategi komunikasi untuk mengeskalasi pemasaran digital mereka. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi omni-channel communication,” jelas Tiffany.

Dengan teknologi tersebut, lanjut Tiffany, pelaku usaha bisa secara masif menjangkau pelanggan dalam waktu bersamaan dan cukup singkat.

“Misalnya, pelaku usaha ingin menjangkau konsumen yang lebih suka dihubungi melalui email dan WhatsApp secara bersamaan. Dengan omni-channel communication, pelaku usaha hanya perlu mengirim pesan dengan satu sentuhan. Pesan pun terkirim dengan cepat,” ujar Tiffany.

Untuk memanfaatkan teknologi tersebut, pelaku usaha pun bisa menggunakan layanan OCA Indonesia. Selain menyediakan layanan komunikasi untuk perusahaan atau enterprise, OCA Indonesia kini telah meluncurkan program OCA UMKM.

“Ada beberapa fitur yang bisa pelaku usaha manfaatkan dari OCA UMKM. Kami punya produk OCA Blast. Dengan layanan ini, UMKM bisa menyebarkan informasi dalam satu waktu dan mendapatkan awareness lebih cepat untuk memperluas pasar,” jelas Tiffany.

Selain OCA Blast, ada beberapa fitur lain yang juga bisa dimanfaatkan pelaku usaha, seperti OCA Profiling guna membantu UMKM mendapatkan calon konsumen sesuai target dan personanya serta OCA Interaction yang memungkinkan pelaku usaha berinteraksi dengan konsumen secara langsung.

Kemudian, ada fitur API Platform Services yang memungkinkan pelaku usaha menambahkan platform di website atau aplikasi seluler tanpa perlu mengubah tampilannya. Terakhir, fitur Chatbot untuk membantu pelaku usaha melakukan percakapan dengan konsumen menggunakan pesan otomatis.

“Selain menawarkan layanan komprehensif, kami juga tak segan merangkul UMKM dengan membentuk komunitas yang bisa membantu dan mengedukasi para pelaku usaha melakukan transformasi digital,” ujar Tiffany.

OCA Indonesia menyediakan program Instagram Live dan webinar. Lewat program itu, pelaku usaha bisa belajar banyak hal, mulai topik customer engagement, tips sukses bangun UMKM, sampai panduan UMKM untuk go digital.

Dengan demikian, tak ada alasan lagi bagi UMKM untuk tidak melakukan transformasi digital. Sebab, transformasi digital adalah keniscayaan di era sekarang.