Advertorial

Tak Cuma Cantik, Baju Bikinan Nurdini Prihastiti Punya Nilai Humanis Hasil Kolaborasi dengan Penyintas Autis

Kompas.com - 23/12/2020, 14:33 WIB
Dama Karat terlahir berangkat dari keyakinan bahwa setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing. Dama Kara berkomitmen untuk mengangkat kain yang diproses pengrajin secara tradisional pada volume ganjil dan mendukung terapi menggambar bagi rekan istimewa. (Dok. Instagram Dama Kara) Dama Karat terlahir berangkat dari keyakinan bahwa setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing. Dama Kara berkomitmen untuk mengangkat kain yang diproses pengrajin secara tradisional pada volume ganjil dan mendukung terapi menggambar bagi rekan istimewa.

JAKARTA, KOMPAS.com – Peran perempuan sebagai penggerak ekonomi keluarga kini bukan menjadi hal asing. Berkat keberadaan teknologi digital, akses perempuan terhadap dunia usaha semakin terbuka.

Keterlibatan perempuan dalam dunia usaha bukan untuk menggeser peran laki-laki, melainkan ikut mendorong roda ekonomi agar terus berputar.

Salah satu perempuan yang ikut mendukung suami dalam menggerakkan ekonomi keluarga adalah Nurdini Prihastiti (30), founder merek clothing Dama Kara.

Nurdini yang akrab disapa Dini membagikan kisahnya membangun bisnis garmen dengan brand Dama Kara dalam sebuah webinar bertajuk “Perempuan Menggerakkan Ekonomi Keluarga”. 

Webinar tersebut diselengarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), serta disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Kompas TV, Sabtu (19/12/2020).

Dalam menjalankan bisnis fesyen tersebut, Dini menggandeng rekan istimewa penyandang autisme sebagai kreator motif kain batik tulis yang jadi bahan pembuat produk clothing-nya.

Ide tersebut muncul setelah bisnis Indogarment yang sebelumnya telah dijalankan bersama sang suami, Bheben Oscar, mengalami kerugian akibat kebakaran.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Pada Agustus 2019, kami mendapat pesanan seragam dan suvenir ke Kalimantan. Barang tersebut kami kirim menggunakan ekspedisi laut. Namun di perairan Masalembo, kapal yang digunakan untuk mengirim barang terbakar,” ujar Dini.

Meski demikian, peristiwa tersebut tidak memutus asa Dini. Justru, musibah kebakaran menjadi titik balik Dini untuk melakukan langkah yang lebih besar.

Menurut Dini, seorang pengusaha perlu melakukan suatu hal yang tak sekadar berorientasi pada bisnis yang sedang dijalankan, tetapi juga bisa memberi dampak bagi orang lain, termasuk anak-anak penyandang autisme.

“Pada akhir 2019, saya memutuskan membuat sebuah bisnis baru dan merintis bisnis clothing Dama Kara. Saya mengunjungi sejumlah yayasan dan muncul ide untuk berkolaborasi dengan yayasan yang melakukan terapi bagi penyintas autis,” terangnya.

Ia menjelaskan, salah satu terapi yang diterapkan pada anak-anak autis adalah menggambar. Dari kunjungan itu, Dini melihat potensi dan kreativitas anak-anak autis.

“Ternyata, hasil gambar penyintas autisme sangat luar biasa bagus. Sayangnya, selama ini muncul anggapan negatif terhadap penyintas autisme,” ungkapnya.

Sejak saat itu, melalui Dama Kara, Dini ingin mengajak masyarakat untuk melihat bahwa setiap orang punya keistimewaan dan keunikan, tidak terbatas pada stigma mengenai penyandang autisme.

“Jangan melihat seseorang dari kekurangannya, tetapi dari kelebihan yang dimiliki. Ternyata, penyandang autisme pun punya kelebihan, salah satunya dalam menggambar,” terang Nurdini.

Ia menjelaskan, setiap gambar yang dihasilkan anak-anak autis unik dan menarik untuk diaplikasikan sebagai corak berbagai jenis pakaian yang ia produksi.

Salah satu jenis gambar yang dihasilkan dan diterapkan dalam fesyen batik miliknya adalah gambar-gambar fauna.

Sebagai bentuk sokongan agar para penyandang autisme dapat mandiri ekonomi, Dini menyisihkan sekian persen dari setiap produk pakaian yang terjual sebagai royalti bagi kreator-kreatornya tersebut .

“Saya ingin anak autis yang selama ini dipandang sebelah mata bisa punya pendapatan dan punya kelebihan untuk berkarya,” jelasnya.

Selain berkolaborasi dengan anak-anak penyandang autisme, alumnus IPB University ini juga menggandeng pengrajin batik jumputan.

Ia menilai, regenerasi pengrajin batik jumputan saat ini masih sangat kurang dan didominasi oleh generasi senior.

“Agar karya seni kain tradisional tak berhenti sampai di sini, tetapi terus berkelanjutan. Batik jumputan ini enggak kalah menarik dengan kain printing maupun pabrikan karena punya keindahan tersendiri,” imbuhnya.

Ia berharap, kain tradisional batik jumputan bisa lebih dikenal dan dilestarikan oleh generasi muda saat ini.

“Jadi, saya mulai kolaborasikan antara kain tradisional batik jumputan. Kemudian hasil penjualannya untuk mendukung terapi anak autis, gambarnya pun diangkat ke dalam produk fashion pakaian,” ujarnya.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.