Advertorial

Sambut Hari Ibu, BPIP Selenggarakan Webinar Terkait Perjuangan Tenaga Medis Perempuan

Kompas.com - 23/12/2020, 15:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam rangka menyambut Hari Ibu yang jatuh setiap 22 Desember, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Kompas TV menyelenggarakan webinar bertajuk “Perjuangan Tenaga Medis Perempuan di Masa Pandemi” melalui aplikasi Zoom, Kamis (17/12/2020).

Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati dan Kepala BPIP Yudian Wahyudi.

Adapun narasumber yang dihadirkan pada webinar ini di antaranya dokter relawan penanganan Covid-19 dr Debryna Dewi Lumanauw dan bidan penggagas program “Ojek Ibu Hamil”, Iin Rosita.

Menteri PPPA mengapresiasi BPIP dan Kompas TV yang bersinergi bersama Kementerian PPPA untuk memperingati Hari Ibu.

“Seperti diketahui, Hari Ibu merupakan apresiasi atas perjuangan perempuan dalam meraih dan mengisi kemerdekaan Indonesia,” kata Bintang.

Bintang mengatakan, perjuangan dalam melawan pandemi Covid-19 tidak terlepas dari peran perempuan. Buktinya, mayoritas perawat adalah perempuan, yakni 71 persen dari total perawat di Indonesia.

“Di antara para pejuang perempuan di garda terdepan, sebenarnya ada kelompok rentan, yakni para ibu hamil dan menyusui. Meski begitu, mereka tidak gentar untuk berjuang bagi keluarga dan bangsa,” jelas Bintang.

Oleh karena itu, Bintang sangat mengapresiasi para perempuan yang berjuang di garda terdepan penanganan Covid-19.

“Terima kasih atas segala pengabdian, pengorbanan, dan sumbangsihnya pada bangsa yang kita cintai ini,” ujar Bintang.

Sementara itu, Yudian Wahyudi membahas mengenai tantangan yang dihadapi perempuan selama ini. Ia melihat bahwa perempuan tidak selalu mendapatkan kesempatan yang sama ketimbang laki-laki.

“Perempuan acapkali dihadapkan pada tantangan dan struktural dalam mengaktualisasi diri,” jelas Yudian.

Padahal, lanjut Yudian, sejarah Nusantara menunjukkan banyak tokoh perempuan yang memiliki peranan penting, seperti Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Ratu Shima.

Pada tataran sejarah sosial, Indonesia juga memiliki banyak figur perempuan yang berperan penting dalam perjuangan melawan kolonialisme, seperti Cut Nyak Dien, Kartini, Dewi Sartika, dan Fatmawati.

“Tokoh-tokoh tersebut menunjukkan bahwa perempuan merupakan pilar penting negara ini,” ujar Yudian.

Selain tokoh-tokoh historis, Yudian mengatakan bahwa masyarakat Indonesia dinilai perlu mengapresiasi tokoh-tokoh perempuan masa kini yang ada di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, pendidikan, sosial-politik, hingga kesehatan.

“Pencarian tokoh perempuan masa kini perlu dilakukan agar ide tentang kesetaraan (gender) menemukan resonansi dan amplifikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya sekadar romantisasi sejarah belaka,” kata Yudian.

Yudian menambahkan, meski memiliki tanggung jawab domestik, tokoh-tokoh perempuan mampu membuktikan komitmennya untuk memberikan yang terbaik bagi komunitas dan bangsanya.

“Oleh karena itu, kita sebagai bangsa perlu memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada perempuan, terutama yang mengemban tugas ganda selama pandemi Covid-19,” ujar Yudian.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau