Advertorial

Kisah Bidan Desa dalam Memikul Tanggung Jawab Nyawa dan Sosial di Masa Pandemi

Kompas.com - 23/12/2020, 21:57 WIB
Kompas.com/Aditya Mulyawan Kompas.com/Aditya Mulyawan

JAKARTA, KOMPAS.com – Bukan perkara gampang bagi para bidan desa menghadapi situasi pandemi. Selain bertanggung jawab terhadap kesehatan ibu hamil dan anak, pelaku profesi itu juga mesti bisa menenangkan masyarakat terkait isu Covid-19.

Hal itu diceritakan Iin Rosita, seorang bidan asal Desa Bendo, Magetan, Jawa Timur dalam web seminar (webinar) yang diselenggarakan Kompas TV, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Kamis (17/12/2020).

Profesi bidan sudah Iin tekuni kurang lebih 23 tahun lamanya. Ia mengungkapkan, bidan di Desa Bendo pada 2019 berjumlah 20 orang dan bertanggung jawab menangani 511 bumil dan 2.131 anak.

Namun, Iin merasa performa pelayanan tahun ini tidak semaksimal tahun lalu. Sebab, banyak kendala yang ia dan rekan sejawatnya hadapi, antara lain keterbatasan alat screening dan ketidaksiapan fasilitas kesehatan (faskes) menghadapi pandemi.

“Sulit bagi kami (bidan) untuk menentukan ibu hamil bebas Covid-19 atau tidak. Oleh sebab itu, kerap ada keraguan saat harus melakukan tindakan persalinan,” kata Iin.

Bukan itu saja. Tak jarang saat ada kedaruratan terkait persalinan, sistem rujukan online mengalami kendala. Nahasnya, banyak ibu hamil juga ikut khawatir mengunjungi faskes sehingga mereka jarang memeriksakan kehamilan.

Pernah suatu ketika, ia mendapati ibu hamil yang dicurigai terkonfirmasi positif Covid-19 melarikan diri dari rumah sakit rujukan karena tidak ingin ditempatkan di sana.

“Jam 11 malam saya langsung bergerilya (mencari ibu hamil itu). (Hal yang terpikirkan oleh saya adalah) melindungi dua nyawa sekaligus, bumil dan bayi yang dikandung. Saya tidak mau mundur. Malu jika itu terjadi. Saya harus menang. Saya harus merujuk ibu ini ke rumah sakit,” imbuhnya.

Belum lagi, ia juga harus menghadapi persoalan klasik yang tak kunjung menemukan solusi, yaitu pemenuhan asupan gizi.

Selain ibu hamil, tak sedikit anak-anak yang mengalami gangguan tumbuh kembang di masa pandemi.

“Pernah saat itu ada orangtua membawa anaknya dengan keluhan sakit perut, pusing, matanya merah, dan memiliki gejala emosi yang tidak stabil, seperti membentak-bentak. Setelah dianalisis secara mendalam, anak itu keracunan paparan gadget. Tiga hari nonstop tidak lepas dari gadget,” ungkap Iin.

Dari berbagai masalah itu, akhirnya timbul solusi. Pertama, mengedukasi masyarakat soal Covid-19 dan pencegahannya dengan cara sederhana yang dimengerti oleh mereka.

“Jangan menakut-nakuti. Tanyakan saja, di rumah ada sabun (atau) tidak? Kalau ada, cuci tangan dengan sabun ya sebelum makan. Sebab, virus corona bisa mati dengan sabun. Mudah, kan?” kata Iin mencontohkan.

Kemudian, Iin menyarankan para orangtua tidak sepenuhnya mengekang anak-anak di rumah demi kebaikan tumbuh kembang sekaligus guna meminimalkan penggunaan gadget.

Ajak anak-anak beraktivitas di luar rumah, misalnya berkebun atau bercocok tanam. Kalau di desa, orangtua bisa bebas melakukan ini sehingga tidak perlu terlalu khawatir.

Orangtua juga disarankan untuk mengedukasi anak ketimbang melarang mereka bermain dengan teman sebayanya.

“Edukasi anak soal menggunakan masker saat bermain dengan teman dan ingatkan mereka untuk cuci tangan pakai sabun sebelum makan,” terangnya.

Untungnya, banyak pihak mau bekerja sama dalam pencegahan Covid-19 di Desa Bendo, mulai dari kepala desa, polisi, hingga satuan komando rayon militer (Koramil). Mereka rutin berkeliling kampung untuk sekadar mengingatkan warga soal protokol kesehatan (prokes).

Secara sistem, puskesmas di Desa Bendo kini menerapkan jadwal untuk ibu hamil yang ingin mengecek kandungannya. Ini dilakukan agar tak terjadi penumpukan di faskes.

Bukan hanya itu, sebisa mungkin bidan memosisikan diri sebagai sahabat bagi ibu hamil. Dengan begitu, mereka bisa bercerita apa saja, baik soal kehamilan maupun perkara dalam rumah tangga yang tak jarang kerap membebani pikiran.

Langkah selanjutnya, puskesmas menyiapkan anggaran khusus untuk ibu hamil yang tidak mampu secara ekonomi.

“Kami masukkan ke dalam APBDes. Kami juga bekerja sama dengan beberapa sektor untuk menelaah masalah bumil dan anak. Hasilnya nanti akan dimusyawarahkan dan dilaporkan kepada kepala desa untuk dicari jalan keluarnya,” terang Iin.

Itu artinya, selain bertanggung jawab pada kesehatan masyarakat, peran bidan di desa juga membantu pemerintahan setempat dalam memberikan solusi terhadap permasalahan kesehatan.

Sediakan Jek-Mil

Untuk membantu mobilitas dan meningkatkan pelayanan kesehatan bagi para bumil di Desa Bendo, Iin menggiatkan Ojek Ibu Hamil (Jekmil) yang ia gagas pada 2018.

Berbeda dari ojek pada umumnya, menjadi pengemudi Jekmil tidak bisa dilakoni sembarang orang. Driver transportasi ini harus perempuan dan berasal dari kader pilihan yang sudah dibekali ilmu terkait penanganan ibu hamil dan kesehatan anak di samping sekadar memiliki SIM C.

“Karena sudah dibekali ilmu tersebut, driver yang berasal dari kader tahu apa yang mesti dilakukan saat terjadi kedaruratan. Driver yang melayani pun akan menemani bumil dari berangkat hingga pulang,” kata Iin.

Hingga kini, Jekmil sudah tersebar di 13 desa di Magetan dan memiliki 40 relawan driver. Iin mengatakan, sinergi yang terbangun ini akan terus berjalan. Sebab, pandemi ini adalah masalah bersama.

“Kebersamaan bidan-bidan harus terus berjalan. Kami enggak bisa mundur. Kami harus tetap maju mendampingi para perempuan,” tandas Iin.