Advertorial

Memaknai Hari Ibu, Ini Harapan 5 Sosok Perempuan Penggebrak Perubahan dari Seluruh Indonesia

Kompas.com - 24/12/2020, 13:52 WIB

KOMPAS.com – Dalam memaknai perayaan Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember setiap tahunnya, selalu ada setangkup harapan yang dicita-citakan oleh seluruh perempuan di Indonesia. Utamanya, terkait dengan peran serta mereka dalam membangun negeri tercinta.

Atas dasar itu, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) melakukan diskusi secara virtual dengan lima sosok perempuan penggebrak perubahan dalam berbagai sektor penting di Indonesia.

Lima perempuan tersebut adalah Saraiyah dari Lombok, Vita Krisnadewi dari Yogyakarta, Siti Hajir dari Jambi, Indotang dari Makassar, dan Senita Rizkiwahyuni dari Riau.

Saat ditanya mengenai harapan mereka terkait kemajuan perempuan di Indonesia, kelima perempuan hebat tersebut mempunyai jawaban yang hampir sama, yaitu pentingnya kesetaraan hak bagi perempuan di berbagai lini kehidupan.

Saraiyah, salah satunya. Bergerak di bidang pendidikan dan kerap memberikan pembekalan kepada perempuan di desanya, ia berharap perempuan memiliki hak yang sama dalam hal pendidikan.

“Harapan saya ini mewakili semua perempuan yang tinggal di desa. Tak hanya dalam hal pendidikan, perempuan juga memiliki hak yang sama dalam sektor lainnya,” ujarnya dalam acara Senyum Ibu Pertiwi di Kompas TV, Selasa (22/12/2020).

Pada kesempatan itu, Saraiyah juga turut mengajak perempuan untuk ikut serta membangun desanya masing-masing dengan cara terlibat dalam proses perencanaan program atau mengikuti setiap kegiatan di desanya masing-masing.

Vita asal Yogyakarta juga sependapat dengan Saraiyah. Perempuan yang bergerak di bidang ekonomi dengan mendirikan usaha peternakan modern, Sinatria Farm, ini meyakini bahwa perempuan Indonesia memiliki kepribadian yang kuat dan hebat.

Harapan untuk perempuan Indonesia juga terucap dari Siti Hadjir. Perempuan yang turut memajukan budaya dengan melestarikan batik Jambi melalui sistem daur ulang ini mengatakan bahwa perempuan yang memiliki usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) perlu dukungan lebih dari semua pihak.

“Saya berharap batik Jambi bisa go international dan budaya kita bisa diperkenalkan ke luar negeri. Namun, selama pandemi Covid-19, usaha kami cukup terdampak. Oleh karena itu, kami meminta semua pihak untuk mendukung upaya pelestarian batik ini,” jelas Siti.

Bagi Siti, pelestarian budaya yang dilakukannya merupakan salah satu upaya dalam pembangunan identitas bangsa. Selain Siti, Indotang dari Makassar juga turut memiliki andil bagi pembangunan negeri, utamanya terkait pendidikan anak.

Ibu yang berprofesi sebagai penjual sayur keliling ini bahkan kerap memberikan edukasi kepada ibu-ibu di daerahnya terkait pendidikan anak.

“Sambil berjualan sayur, tak henti-hentinya saya mengampanyekan larangan menikah di usia dini. Saya juga memiliki harapan, semoga tidak ada lagi kekerasan bagi perempuan,” jelasnya.

Terakhir, ada sosok Senita di Riau. Perempuan yang bekerja sebagai bidan ini fokus terhadap kesehatan ibu dan anak-anak di daerahnya. Dedikasinya pun terlihat pada program pos pelayanan keluarga berencana - kesehatan terpadu (posyandu) yang dirintisnya sejak awal 2017.

“Banyak sekali harapan yang ingin saya sampaikan sebagai bidan. Salah satunya, bisa menekan angka kematian ibu melahirkan dan bayi,” ucap Senita.

Itulah harapan dari lima sosok perempuan Indonesia yang telah berkontribusi membangun daerahnya masing-masing. Bagaimana dengan Anda?

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau