Advertorial

Fatmawati, Pahlawan Perempuan yang Tak Sekadar Menjahit Bendera

Kompas.com - 24/12/2020, 20:30 WIB
Ibu fatmawati (Dok. Kompas/Iphhos)Ibu fatmawati

KOMPAS.com – Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjuangan kaum perempuan. Salah satu dari banyak perempuan yang berkontribusi dalam revolusi kemerdekaan adalah Fatmawati.

Ia dikenal sebagai istri Soekarno, proklamator sekaligus presiden pertama Indonesia. Fatmawati pula yang menjadi sosok di balik bendera putih pertama yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Istri proklamator tersebut merupakan penjahit bendera merah putih yang kini disimpan di Istana Merdeka. Fatmawati menyiapkan Sang Saka Merah Putih sejak 1944.

Akan tetapi, kontribusinya dalam perjuangan tak hanya sekadar menjahit bendera. Perempuan bernama asli Fatimah tersebut memang tak bertempur di garis depan, tetapi ia memberi kontribusi berupa ide dan dukungan Soekarno.

Adapun pertemuan pertamanya dengan Soekarno terjadi pada Agustus 1938. Saat itu, Soekarno baru pindah dari Flores ke Bengkulu.

Soekarno yang kala itu dalam masa pengasingan berkesempatan untuk mengajar sebuah sekolah Muhammadiyah.

Di tempat inilah, ia bertemu dengan Fatmawati yang kala itu masih berusia 15 tahun dan merupakan muridnya.

Ketika lulus dari sekolah Muhammadiyah, Fatmawati ditawari oleh Soekarno untuk melanjutkan pendidikannya di Rooms Katolik Vakschool atau sekolah kejuruan di Bengkulu.

Singkat cerita, dari berbagai pertemuan, Soekarno pun tertarik untuk meminang Fatmawati.

Akhirnya, mereka resmi menjadi pasangan suami-istri pada 1943. Saat itu juga, kontribusi Fatmawati dalam merebut kemerdekaan dari tangan Jepang dimulai.

Penuh perjuangan

Menjadi istri dari seorang kepala negara jelas bukan hal yang mudah. Terlebih dalam keadaan negara yang masih berupaya untuk mendapatkan kemerdekaan.

Seperti diketahui, Jepang mulai menduduki Indonesia sejak 1942. Selama itu, terjadi banyak peristiwa yang kerap mengancam keselamatan Fatmawati.

Salah satunya saat Fatmawati tengah mengandung anak pertamanya yakni Guntur pada 1944.

Saat itu, ia dihampiri seorang perwira Jepang yang hendak memberinya kain katun berwarna merah dan putih.

Pemberian tersebut didasari oleh perintah Hitoshi Shimizu yang merupakan Kepala Bagian Propaganda Gunseikanbu.

Awalnya kain tersebut diberikan untuk dibuat menjadi baju anak. Akan tetapi, dengan inisiatifnya, Fatmawati membuat kain tersebut menjadi simbol dari negara Indonesia.

Sambil menjahit, Fatmawati tak kuasa menahan tangisnya. Ia terharu karena tak percaya Indonesia akan memiliki bendera negara.

Meskipun kondisi fisiknya sedang dalam keadaan yang kurang baik, Fatmawati tetap menjahit menggunakan mesin jahit Singer yang dijalankan dengan tangan.

Perjuangannya tak hanya itu. Pada 1945, pihak sekutu dan Belanda kembali datang ke Indonesia. Kedatangan mereka membuat situasi semakin tidak terkendali.

Ia harus terbiasa menghadapi keadaan genting seperti kontak senjata yang dilakukan Belanda dengan pejuang republik negeri ini.

Tak hanya itu, Demi menghindari penangkapan pihak Belanda, Fatmawati juga harus rela hidup tak menetap.

Tak jarang pula ia harus hidup terpisah dengan Soekarno agar keselamatannya tetap terjaga.

Saat peperangan gencar terjadi, Fatmawati tetap memberikan dukungannya kepada Soekarno. Ia juga kerap memasak untuk pasukan gerilya yang akan berperang di medan tempur.

Hal tersebut ia lakukan demi kemerdekaan. Ia ingin merasakan keadilan sebagai penduduk asli Indonesia tanpa harus mengalami penindasan.

Keberadaannya dalam proses kemerdekaan sangatlah penting. Tak sekadar menjahit bendera, tetapi juga menjadi sistem pendukung utama untuk Soekarno dalam memproklamasikan kemerdekaan.

Ia rela berjuang bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga masyarakat.

Apa yang Fatmawati lakukan tersebut merupakan cerminan sila kedua dari Pancasila. Fatmawati menginginkan adanya kemanusiaan yang adil dan beradab tanpa perlu adanya penjajahan.

Demi melanjutkan perjuangan pahlawan seperti Fatmawati, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) akan terus menanamkan nilai-nilai Pancasila terutama ke generasi muda.

Selain untuk menciptakan keadaan negara yang lebih baik, penerapan nilai Pancasila juga merupakan warisan pahlawan bangsa yang perlu dijaga.